Home / Berita / Menjaga Lingkungan, Mengundang Bangau Bluwok

Menjaga Lingkungan, Mengundang Bangau Bluwok

Melihat satwa yang terancam punah hidup bebas di alam liar Jakarta bisa jadi sebuah keberuntungan. Itu termasuk menyimak langsung bangau bluwok yang bermain di muara.

KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI—Burung cangak abu (“Ardea cinerea”) bertengger di tanaman mangrove Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu (8/5/2021). Burung air ini merupakan burung lokal yang sering ditemukan di kawasan hutan lindung. Dari pengamatan burung yang dilakukan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati), ada 40 individu cangak abu yang tercatat. Pengamatan burung untuk memperingati Hari Burung Migrasi Sedunia setiap minggu kedua di bulan Mei.

Tidak semua orang tahu ada burung bernama bangau bluwok. Selain karena spesies burung di Indonesia ada banyak (18 persen jenis burung di dunia ada di Indonesia), bangau bluwok pun statusnya terancam punah. Melihat burung itu di Jakarta nyaris seperti keajaiban.

“Itu! Ada bangau bluwok di sana!” kata seorang anggota Biodiversity Warriors Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati), Sabtu (8/5/2021) di muara Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara. Belasan kepala di dalam kapal motor sontak menoleh. Penasaran ingin juga melihatnya.

Beberapa puluh meter di sebelah kanan kapal, ada burung besar bertengger di puncak tanaman mangrove. Si bangau bluwok (Mycteria cinerea) sempat menoleh, kemudian sibuk lagi dengan urusannya.

Bangau bluwok punya bulu berwarna putih, sementara bulu terbangnya berwarna hitam. Kulit wajahnya merah dan paruhnya merah jambu. Kakinya panjang seperti bangau pada umumnya.

KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI—Burung bangau bluwok (“Mycteria cinerea”) bertengger di atas tanaman mangrove di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu (8/5/2021). Bangau bluwok dinyatakan terancam punah atau endangered oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Burung ini dinyatakan terancam punah (endangered) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Menurut laman Birdlife International, populasi bangau bluwok 1.500 ekor dan jumlahnya terus turun.

Staf Education and Outreach Yayasan Kehati Ahmad Baihaqi mengatakan, burung tersebut terancam punah karena degradasi kualitas lingkungan. Selain itu, mereka menghadapi ancaman perburuan liar. Bangau bluwok dikonsumsi manusia atau masuk pasar perdagangan satwa liar.

Bangau bluwok bersarang di dua tempat di Jawa, yakni Pulau Rambut di Kepulauan Seribu dan Pulau Dua di Banten. Menurut Ahmad, baru kali ini bangau bluwok terlihat lagi. Burung itu tidak tampak saat Yayasan Kehati melakukan pengamatan burung beberapa tahun terakhir.

“Jakarta sebenarnya masih menyimpan harta karun. Semoga bisa terus begini asal lingkungan terjaga,” kata Ahmad yang kerap dipanggil Abay.

KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI—Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) melakukan pengamatan burung di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu (8/5/2021). Kegiatan ini dilakukan untuk memperingati Hari Burung Migrasi Sedunia yang jatuh di minggu kedua bulan Mei. Pengamatan dilakukan bersama komunitas Biodiversity Warriors Kehati, mahasiswa dari sejumlah universitas, dan anggota pramuka. Ada 25 jenis burung air yang berhasil ditemukan, termasuk burung bangau bluwok (“Mycteria cinerea”) yang dinyatakan terancam punah (“endangered”) oleh Badan Konservasi Dunia (IUCN).

Adapun bangau bluwok tampak saat kegiatan pengamatan burung yang diadakan Yayasan Kehati Sabtu pagi tadi. Pengamatan burung diadakan dalam rangka Hari Burung Migrasi Sedunia setiap minggu kedua di bulan Mei. Pengamatan burung baru dilakukan lagi setelah cuti pada tahun 2020 karena pandemi Covid-19.

Ada 25 jenis burung yang berhasil ditemukan di kegiatan Sabtu pagi kemarin. Beberapa di antaranya adalah cangak abu (Ardea cinerea), cangak merah (Ardea purpurea), blekok sawah (Ardeola speciosa), pecuk padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris), dan pecuk ular asia (Anhinga melanogaster).

KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI—Burung cangak abu (“Ardea cinerea”) bertengger di tanaman mangrove Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu (8/5/2021). Burung air ini merupakan burung lokal yang sering ditemukan di kawasan hutan lindung. Dari pengamatan burung yang dilakukan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati), ada 40 individu cangak abu yang tercatat. Pengamatan burung untuk memperingati Hari Burung Migrasi Sedunia yang jatuh di minggu kedua bulan Mei.

Burung migran juga berhasil ditemukan, yakni trinil pantai (Actitis hypoleucos). Burung ini bermigrasi dari Erasia atau Afrika. Burung-burung bermigrasi saat daerah asal mereka dilanda musim dingin. Mereka bermigrasi untuk mencari makan di wilayah yang cuacanya hangat, salah satunya Indonesia.

Adapun Indonesia merupakan perlintasan migrasi burung jalur Asia Timur-Australasia. Menurut Daftar Burung Indonesia No.2 oleh Sukmantoro dan kawan-kawan, Indonesia jadi bagian dari jalur penerbangan 149 jenis burung migran.

Data Birdlife Indonesia menyebut ada lebih dari 50 juta burung air dari lebih dari 250 populasi berbeda yang menggunakan jalur terbang ini. Jalur tersebut membentang dari Asia Timur, Asia Tenggara, hingga Australia dan Selandia Baru. Jalur ini mencakup 22 negara.

Temuan bertambah
Yayasan Kehati menemukan 24 jenis burung saat kegiatan di 2019, sementara tahun ini 25 jenis. Artinya, jenis burung yang dicatat lebih banyak tahun ini. Hal itu diduga berkaitan dengan perbaikan kualitas habitat satwa.

Pada 2019, menurut Abay, banyak ditemukan sampah di habitat burung air. Beberapa burung bahkan makan makanan sisa manusia dari sampah yang hanyut ke habitat mereka. Sementara itu, sampah yang ditemukan di habitat burung air tahun ini lebih sedikit dibanding 2019.

“Bisa jadi kita menemukan lebih banyak jenis burung karena ada perbaikan kualitas lingkungan satwa. Tapi, pengamatan burung itu dinamis. Bisa jadi kita memang tidak melihat burung karena terlalu jauh, tersembunyi, atau lainnya,” ucap Abay.

KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI—Burung blekok sawah (“Ardeola speciosa”) di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu (8/5/2021). Satwa Indonesia menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya kerusakan habitat akibat sampah yang dibuang manusia. Sampah mencemari lingkungan dan menghilangkan pangan asli satwa. Yayasan Kehati melaporkan, pada 2019, tampak sejumlah satwa makan makanan sisa manusia dari sampah yang terbawa ke habitat mereka.

Ia menambahkan, sampah dan kerusakan lingkungan merupakan tantangan yang dihadapi satwa. Sampah menyebabkan habitat mereka tercemar dan membuat sumber makanan mereka hilang. Kerusakan lingkungan juga membuat satwa kehilangan tempat tinggal.

Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan Kehati Rika Anggraini mengatakan, pengamatan burung bertujuan untuk memantau dan melakukan inventaris burung migrasi. Ia menambahkan, edukasi dan sosialisasi ke masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian burung migran dan habitatnya perlu dilakukan.

“Sebagai negara mega biodiversity, burung migrasi juga menambah khasanah kekayaan burung di Indonesia. Itu sebabnya kita wajib menjaga kelestarian burung migrasi dan habitatnya,” tutur Rika.

Oleh SEKAR GANDHAWANGI

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 8 Mei 2021

Share
%d blogger menyukai ini: