Sudah 32 PTS Jadi PTN

- Editor

Kamis, 23 Oktober 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keberagaman Dapat Berkurang
Keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengubah status sejumlah perguruan tinggi swasta menjadi negeri dipengaruhi permintaan dari pemerintah daerah dan masyarakat. Namun, keputusan itu dikhawatirkan mengurangi keberagaman pendidikan tinggi.

Hingga kini, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) telah menegerikan 32 perguruan tinggi swasta (PTS) di seluruh Indonesia sejak tahun 2010. Jumlah itu termasuk 13 PTS yang dinegerikan tahun ini. Universitas Singaperbangsa Karawang, misalnya, resmi beroperasi sebagai PTN sejak hari Senin (20/10).

Direktur Kelembagaan dan Kerja Sama Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hermawan Kresno Dipojono mengungkapkan, antrean permohonan penegerian PTS telah ada sejak tahun 2007. Masih ada ratusan PTS menunggu perubahan status. ”Kami bukanlah pihak yang aktif menggalakkan penegerian. Jangka waktu bertahun dalam proses merupakan cara kami untuk mengetahui komitmen pemerintah daerah dan yayasan untuk mengelola PTN baru,” tutur Hermawan, Rabu (22/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terdapat persyaratan bagi PTS pemohon, seperti memiliki sarana dan prasarana memadai dengan gedung perkuliahan dan luas tanah minimal 30 hektar, memiliki minimal 10 prodi, memiliki setidaknya 6 tenaga pengajar berpendidikan S-2 di setiap prodi itu, dan mendapat jaminan dari pemerintah daerah untuk mendukung biaya operasional selama lima tahun awal.

”Kami tak sembarangan menyetujui usulan itu (menjadi PTN). PTN merupakan penjaga standar dan contoh,” kata Hermawan. Ditjen Dikti juga telah mengeluarkan moratorium pada 2013 untuk menghentikan pengajuan perubahan status PTS.

Secara terpisah, Rektor Universitas Pembangunan Negara Veteran (UPN) Jakarta Koesnadi Kardi mengatakan, menjadi PTN meningkatkan gengsi universitas dan berkesempatan mendapat dosen bermutu. ”Apalagi, persaingan antar-PTN lebih longgar karena di Indonesia hanya ada 120 PTN, sementara PTS ada 3.000,” kata Koesnadi. UPN Jakarta adalah salah satu PTS yang dinegerikan.

Ahli pendidikan, HAR Tilaar, menganggap kebijakan menegerikan PTS keliru karena dapat membuat pendidikan tinggi Indonesia seragam. Padahal, keberagaman pendidikan (PTS dan identitasnya) merupakan modal meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Hal senada diungkapkan pakar pendidikan tinggi yang juga mantan Direktur Jenderal Dikti Kemdikbud Satryo Soemantri Brodjonegoro. ”Permasalahan PTS bisa diselesaikan dengan hibah khusus dari pemerintah,” ujarnya. (A07/A15/DMU)

Sumber: Kompas, 23 Oktober 2014

Informasi terkait

Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Berita ini 10 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:30 WIB

Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB