Stasiun Penelitian Kelautan di Kawasan Barat Indonesia Dibangun

- Editor

Selasa, 1 September 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia membangun stasiun penelitian kelautan di kawasan barat Indonesia, tepatnya di Sabang, Aceh, awal 2016. Stasiun penelitian ini difokuskan untuk penelitian perairan Samudra Hindia dalam aspek sosial-ekonomi, politik, ataupun keamanan.

“Selama ini stasiun penelitian kelautan lebih difokuskan di wilayah timur Indonesia. Hal ini menyebabkan biaya penelitian kelautan di wilayah barat menjadi relatif lebih tinggi. Oleh karena itu, pembangunan stasiun penelitian di wilayah barat menjadi prioritas,” ujar Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain dalam workshop terkait pembangunan stasiun tersebut, Senin (31/8), di Jakarta.

Menurut Iskandar, ada lima kandidat lokasi stasiun penelitian yang disurvei pada Oktober-November 2014, yaitu kawasan pesisir Sabang, Pulau We, Aceh; kawasan pesisir Teluk Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara; Kabupaten Kaur, Bengkulu; kawasan pesisir Cilacap, Jawa Tengah; dan kawasan pesisir Pacitan, Jawa Timur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan hasil survei yang telah dikaji, tim peneliti LIPI memutuskan Sabang menjadi prioritas utama untuk dibangun stasiun penelitian kelautan LIPI. Hal itu disebabkan lokasi Sabang sangat strategis karena berada di antara tiga perairan. yaitu Laut Andaman, Samudra Hindia, dan Selat Malak. Selain itu, lokasi Sabang juga relatif terlindung dari gelombang dan luas serta memiliki area yang baik untuk sandar kapal.

b8f3a49da4c940c9a0466fc260aee8a1KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH–Akses baru, Jalan Kelok 13 di Teluk Balohan, Kota Sabang, Aceh, Selasa (9/6). Masyarakat meminta pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur pariwisata di Sabang agar menjadi titik awal gerbang pariwisata nasional yang hakiki. Di wilayah itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia berencana membangun stasiun penelitian kelautan di kawasan barat Indonesia pada awal 2016.

“Dengan adanya stasiun penelitian kelautan di Sabang, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan peneliti Indonesia dalam mengungkap fenomena laut dan potensi sumber daya yang ada di perairan barat,” kata Iskandar.

Dua stasiun
Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Dirhamsyah mengatakan, LIPI merencanakan membangun dua stasiun penelitian laut untuk penelitian wilayah perairan di Samudra Hindia dan Laut Tiongkok Selatan. Penelitian Samudra Hindia dibangun di Sabang dan untuk Laut Tiongkok Selatan dipilih antara Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat.

Adapun untuk pembangunan di Sabang pada tahap pertama disiapkan anggaran pembangunan Rp 16 miliar-Rp 17 miliar dan anggaran riset sebesar Rp 3 miliar-Rp 4 miliar.

Ia menambahkan, beberapa fokus kajian yang akan dilakukan di wilayah barat tersebut adalah potensi lingkungan dan kondisi sosial-ekonomi, potensi biologi berupa keanekaragaman tumbuhan dan hewan, potensi sumber daya air, keadaan geologis, serta kajian oseanografi.

“Setelah ditentukan potensi tiap-tiap bidang, kami akan memilih bidang mana yang akan menjadi fokus utama yang akan dikembangkan lebih dulu,” ujar Dirhamsyah. Penelitian tersebut juga melingkupi isu pulau-pulau terluar Indonesia di bagian barat, contohnya Pulau Rondo yang dekat dengan perairan India. (B06)

Sumber: Kompas Siang | 31 Agustus 2015
——————-
LIPI Bangun Stasiun Penelitian Kelautan

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia akan membangun stasiun penelitian kelautan di Sabang, Aceh, awal 2016. Selain menambah data dan informasi perairan di kawasan barat Indonesia, hal itu diharapkan memicu semangat pembangunan maritim di wilayah tersebut.

“Filosofi pembangunan stasiun penelitian berubah. Dulu, saat pembangunan di kawasan timur, hanya fokus untuk konservasi. Kini kami ingin stasiun penelitian itu bermanfaat bagi pemerintah daerah dan masyarakat,” kata Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain, dalam jumpa pers, Senin (31/8) di Jakarta.

Selama ini peneliti dinilai kurang bersosialisasi dengan warga sehingga karya mereka tak berkembang. Padahal, mereka punya waktu kosong selama menanti proses konservasi. Karena itu, di Sabang, LIPI bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan pemerintah kota serta Universitas Syiah Kuala. “Lebih baik jika waktu kosong untuk menciptakan teknologi budidaya,” ujarnya.

Selain itu, di wilayah perairan barat baru ada satu pusat riset oseanografi, yaitu di Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Adapun di wilayah timur, ada lima stasiun, yakni di Biak, Lombok, Tual, Ambon, dan Bitung. Stasiun-stasiun tersebut fokus untuk riset Laut Banda dan Samudra Pasifik.

Kepala Pusat Oseanografi LIPI Dirhamsyah mengatakan, di wilayah barat, dua stasiun riset kelautan untuk Laut Tiongkok Selatan dan Samudra Hindia akan dibangun. Riset di Samudra Hindia bertempat di Pulau Weh, Sabang, Aceh, dan riset Laut Tiongkok Selatan di antara Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat.

Pulau Weh terpilih sebagai lokasi pusat riset karena posisinya strategis, di antara tiga perairan, yakni Laut Andaman, Samudra Hindia, dan Selat Malaka. Lokasi itu terlindung dari gelombang tinggi, punya area luas, dan pantai tenang untuk sandar kapal.

Pembangunan direncanakan selama 3 tahun. Selain pembangunan gedung, peneliti mengkaji lingkungan, sosial, dan ekonomi Pulau Weh terkait geologi dan seismologi serta kondisi permukaan air dan biologi. (B06)
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 1 September 2015, di halaman 14 dengan judul “LIPI Bangun Stasiun Penelitian Kelautan”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 4 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB