Home / Berita / Aliran Massa Air Pasifik ke Samudra Hindia Ditemukan

Aliran Massa Air Pasifik ke Samudra Hindia Ditemukan

Aliran massa air dari Samudra Pasifik yang lebih hangat dengan kadar salinitas rendah diidentifikasi telah mengalir hingga Samudra Hindia. Fenomena itu diduga menyebabkan kerap muncul daerah bertekanan rendah yang memicu tumbuhnya awan hujan di sekitar Lampung dan Banten.

Aliran massa air yang disebut “arlindo” itu menerobos masuk dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia melalui Selat Makassar, lalu ke Selat Lombok, Ombai, dan Laut Timor. Aliran massa air itu kemudian mengalir ke barat di perairan selatan Jawa menuju Samudra Hindia.

Temuan tim ekspedisi Indonesia Program Initiative on Maritime Observation and Analysis (Indonesia Prima) itu dipaparkan peneliti cuaca dan iklim ekstrem Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Siswanto, di Jakarta, Minggu (12/3).

Ekspedisi mengarungi Samudra Hindia dengan kapal riset Baruna Jaya VIII itu ialah kerja sama BMKG, Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, serta Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional Amerika Serikat (NOAA).

Sebelumnya, tim ekspedisi itu diberangkatkan dari Jakarta, Senin (20/2), dan tiba di Sabang, Rabu lalu. Siswanto menjadi Kepala Peneliti BMKG pada Leg 1 Indonesia Prima dari Jakarta sampai Sabang. Berikutnya, pelayaran Leg 2 Indonesia Prima direncanakan lewat Selat Malaka, Selat Karimata, dan Laut Jawa, dan dipimpin Kepala Bidang Manajemen Meteorologi Maritim BMKG Sri Puji Rahayu.

Siswanto menjelaskan, arlindo ditemukan setelah diambil sampel air Laut Samudra Hindia di enam titik. Air dari Samudra Pasifik itu punya sifat salinitas atau kadar garam lebih rendah dan lebih hangat suhunya dibandingkan massa air sekitarnya di Samudra Hindia.

“Salinitas massa air arlindo konsisten terukur 34.6-34.8 PSU (satuan salinitas). Ini teramati sejak kapal meninggalkan Selat Sunda sampai stasiun pengamatan ke-4 ada di sekitar 10° Lintang Selatan 98° Bujur Timur kedalaman 100-150 meter,” ujarnya.

Kolam air laut
Stasiun pengamatan ke-4 itu ada di luar zona ekonomi eksklusif barat Selat Sunda. Di lokasi itu ditemukan kolam air laut hangat.

“Kaitan arlindo dengan kolam hangat perlu dikaji. Kolam ini menjawab kenapa di area itu kerap muncul daerah tekanan rendah berujung tumbuhnya awan, memicu hujan deras sekitar Lampung dan Banten,” ucapnya.

Temuan itu berhasil mengonfirmasi, saat La Nina dengan kategori lemah terjadi di Pasifik akhir tahun 2016 sampai Januari 2017, desakan massa air arlindo dari Pasifik ke Samudra Hindia lebih kuat dari biasanya.

Kuat lemahnya arlindo diduga dipengaruhi El Nino dan La Nina di Pasifik dan berpengaruh pada modulasi cuaca dan iklim di Indonesia. “Butuh riset lanjutan lebih panjang untuk mengetahui fenomena ini terkait perubahan iklim global atau tidak,” katanya.

Edi Kusmanto, peneliti kelautan dari LIPI, menyebut, tim ekspedisi mengonfirmasi sirkulasi laut di Samudra Hindia yang biasa dikonseptualkan dari model. Arus laut itu mengalir dari barat Sumatera selatan sampai perairan selatan Jawa.

Selain itu, ada arus bawah laut khatulistiwa kedalaman 50-70 meter di sekitar garis lintang 0 derajat. Arahnya berlawanan dengan arah umum arus laut bagian atasnya menuju ke barat. (AIK)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Maret 2017, di halaman 13 dengan judul “Aliran Massa Air Pasifik ke Samudra Hindia Ditemukan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: