Ekspedisi LIPI Menyisir Samudra Hindia

- Editor

Sabtu, 9 Mei 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kapal Riset Pemerintah Lebih Banyak Menganggur
Target ekspedisi kelautan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang dilepas Kamis (7/5), salah satunya, memperoleh data profil proses pembentuk komposisi lingkungan Samudra Hindia timur, yang hingga kini belum dimiliki. Data dasar itu untuk mengembangkan potensi pemanfaatan sumber daya laut Indonesia.


865de9c9663b41bdb1cbfafdcd964776Kapal Riset Baruna Jaya VIII milik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bersandar di Pelabuhan Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta Utara, Kamis (7/5). Kapal tersebut berangkat untuk menjalani Ekspedisi Widya Nusantara di Samudra Hindia Timur dan Ekspedisi Sabang di perairan Sabang selama 24 hari.—-KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA

Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain mengatakan, meskipun dua pertiga wilayah Indonesia merupakan laut, pemanfaatan sumber daya laut untuk kesejahteraan masih minim. “Hasil penelitian harus bisa menjadi landasan pengembangan blue economy,” katanya saat melepas Ekspedisi Widya Nusantara (Ewin) dan Ekspedisi Sabang 2015, di Jakarta, kemarin. Acara dihadiri Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ewin dan Ekspedisi Sabang 2015 dilakukan berurutan dengan Kapal Riset Baruna Jaya VIII selama 24 hari. Kapal berkapasitas maksimal 23 awak kapal dan 30 peneliti.

Secara khusus, Iskandar meminta ekspedisi riset oseanografi tidak hanya berkutat pada minat penelitian, tetapi juga menargetkan penggalian potensi manfaat sumber daya dari laut. Potensi itu, misalnya, sumber pemasukan ekonomi lewat budidaya biota-biota laut dan sumber energi memanfaatkan gelombang, arus laut, dan mikroalga.

Mengutip analisis McKinsey Global Institute, Iskandar menegaskan, Indonesia perlu memprioritaskan sektor kelautan atau perikanan. Lembaga itu menyebutkan, Indonesia bisa jadi negara dengan kekuatan ekonomi ketujuh di dunia pada 2030 jika fokus pada tiga bidang: jasa konsumen, pertanian dan perikanan, serta energi. Itulah pentingnya menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi pada kelautan.

Profil biogeokimia
Koordinator tim Ewin yang juga peneliti pada Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, A’an J Wahyudi, mengatakan, tim Ewin diawaki 19 peneliti dan teknisi. Targetnya profil biogeokimia Samudra Hindia Timur.

Indonesia belum memiliki data profil biogeokimia di area itu, tidak seperti data peta prakiraan daerah penangkapan ikan dan peta seismik geologi. Profil biogeokimia mencatat proses dan reaksi kimia, fisika, geologi, dan biologi pembentuk komposisi lingkungan alam tertentu, termasuk siklusnya.

“Di Samudra Hindia Timur, dari selatan hingga barat Indonesia sebelum khatulistiwa, ada proses biogeokimia akibat pertemuan arus antara arus equatorial jet, arus Sumatera, dan arlindo (Arus Lintas Indonesia),” kata A’an.

Ekspedisi dijadwalkan Mei karena saat itu waktunya tumbukan beragam arus. Tumbukan arus membuat materi-materi teraduk, baik organik (misalnya plankton) maupun zat-zat pencemar. Tingkat kandungan materi-materi organik dan zat-zat pencemar itulah yang akan didata.

A’an menambahkan, target Ewin hanya pada fase pendataan, belum kajian potensi pemanfaatan. Namun, jika profil biogeokimia ada, posisi plankton dan arah arus bisa dipetakan sehingga bermanfaat untuk kajian pemanfaatan sumber daya laut.

Menurut Indroyono Soesilo, Ewin juga menjadi salah satu langkah awal meningkatkan pemanfaatan kapal riset pemerintah. Sebanyak 16 kapal riset milik lembaga pemerintah lebih banyak menganggur, salah satunya karena hari layar tiap kapal hanya dianggarkan 20 hari setahun. Biaya operasionalnya Rp 100 juta hingga Rp 130 juta per hari layar. “Frekuensi penggunaan kapal riset perlu ditingkatkan,” katanya.(JOG)
———–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Mei 2015, di halaman 13 dengan judul Ekspedisi LIPI Menyisir Samudra Hindia

Posted from WordPress for Android

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB