Home / Berita / Skala Riset Bakteri Wolbachia Perlu Diperluas

Skala Riset Bakteri Wolbachia Perlu Diperluas

Hasil riset penanggulangan demam berdarah dengue dengan menggunakan bakteri Wolbachia diharapkan bisa diperluas hingga skala nasional. Hal itu menjadi bagian dari upaya pengendalian penyakit menular tersebut.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU—Peneliti di World Mosquito Program di Yogyakarta yang dipimpin Prof Adi Utarini menyiapkan telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia yang siap dilepaskan ke lingkungan. Nyamuk ber-wolbachia untuk memasmi penyakit DBD secara alami.

Rekayasa teknologi melalui pemberian bakteri Wolbachia pada nyamuk Aedes aegypti terbukti bisa menurunkan kejadian demam berdarah dengue hingga 77 persen. Temuan ini menjadi harapan bagi upaya eliminasi demam berdarah dengue yang tiap tahun mengakibatkan 10.000 orang meninggal dunia di Indonesia ini.

Direktur Regional World Mosquito Program (WMP) Asia, Claudia Surjadjaja mengatakan, keberhasilan kajian ini, diharapkan tidak hanya digunakan dalam skala nasional, namun juga global. “Riset ini bukan hanya bukti keberhasilan inovasi, tetapi juga karena kolaborasi antara peneliti, pemerintah, hingga sektor swasta. Secara khusus saya mengapresiasi dukungan masyarakat Yogyakarta. Ini akan berkontribusi global,” ungkapnya.

Keberhasilan studi ini disampaikan Ketua Proyek WMP (World Mosquito Program) Yogyakarta, Adi Utarini, dalam diskusi daring, di Yogyakarta, Rabu (26/8/2020). Riset yang dilakukan sejak tahun 2011 ini didanai Yayasan Tahija bekerja sama dengan Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, serta Monash University.

Ketua Dewan Pengawas Yayasan Tahija, George S. Tahija mengapresiasi keberhasilan ini dan mengajak UGM serta Monash University untuk meningkatkan kolaborasi sehingga bisa mengembangkannya secara nasional. Itu membutuhkan keterlibatan banyak pihak, pemerintah, juga komunitas filantropi. “Harapan kami, bisa jadi proyek skala nasional,”ungkapnya.

Menurut Utarini, riset dimulai dengan memasukkan bakteri Wolbachia pipientis ke tubuh nyamuk Aedes aegypti. Wolbachia diketahui mampu menghambat pertumbuhan virus dengue di tubuh nyamuk ini, sehingga mereka tak bisa menularkan DBD ke manusia.

Tim peneliti kemudian mengujinya dengan melepaskan nyamuk yang telah terinfeksi bakteri Wolbachia ini dalam skala terbatas di Sleman dan Bantul. Setelah risikonya dianalisis oleh tim independen, nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi bakteri ini dilepas dilepas skala besar di Kota Yogyakarta dan Bantul pada tahun 2017.

Untuk memantau efektivitas teknologi Wolbachia ini, peneliti melibatkan 8.200 responden. Itu merupakan uji untuk melihat efektifitas nyamuk dengan Wolbachia terbesar di dunia. “Melalui persetujuan masyarakat, wilayah penelitian dibagi dua. Ada 12 kluster yang mendapat nyamuk dengan Wolbachia dan ada 12 wilayah kontrol,” katanya.

Pelepasan nyamuk dilakukan secara bertahap selama delapan bulan. Setelah populasi nyamuk Wolbachia dianggap tinggi, sejak bulan Februari 2018 kasus DBD di masyarakat mulai dipantau hingga Maret 2020. Selain pelepasan nyamuk ini, tim peneliti mendorong warga tetap melakukan upaya pembersihan lingkungan agar tidak menjadi sarang nyamuk.

“Hasilnya, selama 27 bulan penelitian, sangat dramatis. Terdapat penurunan 77 persen kejadian dengue pada wilayah yang mendapat nyamuk DBD dengan bakteri Wolbachia,” tuturnya.

Menurut Utari, penurunan kejadian sebesar ini sangat berarti dalam upaya intervensi terhadap pengendalian penyakit menular. “Karena itu, kami berharap pada pemerintah, hasil ini dapat melengkapi program pengendalian DBD di Indonesia,” ungkapnya.

Tim peneliti WMP Warsito Tantowijoyo mengatakan, nyamuk ber-Wolbachia bisa bereproduksi secara alami dan keturunannya mempunyai bakteri yang stabil dari generasi ke generasi. Untuk di laboratorium, peneliti memelihara hampir 100 generasi, dan Wolbachia tetap stabil tinggi 100 persen, sedangkan bukti di empat wilayah yang dilepas nyamuk pada tahun 2014, sampai saat ini Wolbachia juga masih stabil di atas 90 persen.

Bakteri Wolbachia ini juga tidak menganggu keseimbangan ekosistem. “Kami secara kontinyu mengamati hal itu, dan pengamatan kami, Wolbachia tak mempengaruhi populasi nyamuk di ekosistem alami dan tak memengaruhi karakter resistensi nyamuk terhadap insektisida,” katanya.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS—Project Leader World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta Adi Utarini menunjukkan peta lokasi penelitian WMP di Kota Yogyakarta, Selasa (26/2/2019), di kantornya di kampus Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. WMP merupakan program penelitian penanggulangan demam berdarah dengue (DBD) menggunakan bakteri Wolbachiaa. Di Indonesia, WMP dijalankan di Yogyakarta atas kerja sama Pusat Kedokteran Tropis FKKMK UGM serta Yayasan Tahija

Kolaborasi
Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi, mengapresiasi upaya eliminasi DBD melalui nyamuk Wolbachia di wilayahnya. “Kasus DBD di Yogyakarta pada 2016 mencapai 1700-an, setelah adanya proyek ini ada penurunan drastis menjadi 400-an, bahkan pernah hanya sekiar 100-an setahun. Sampai Agustus 2020 ini, kasus DBD di Kota Yogyakarta hanya 264,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Badan Pembina Yayasan Tahija, Sjakon G. Tahija mengatakan, saat mengawali karir sebagai dokter puskesmas di Flores telah melihat dan mengalami dampak DBD di masyarakat. “Maka, sejak 2011 kami memilih membantu proyek ini. Kami senang akhirnya dana dan tenaga yang dikerahkan selama sembilan tahun berhasil menekan insiden penyakit DBD sebesar 77 persen,” katanya.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 27 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: