Sebulan terakhir, setelah Matahari terbenam, ada benda merah bersinar terang di ufuk timur. Selama gerhana Bulan total 28 Juli lalu, benda merah itu bersinar terang dekat Bulan. Itulah planet Mars, Anggara atau Joko Belek.
Bumi dan Mars sama-sama memutari Matahari, tapi berbeda orbit. Bumi lebih dekat dari Matahari hingga lebih cepat dan lebih singkat mengitari Matahari. Dalam perjalanan berputar itu, tiap 2 tahun 2 bulan sekali, Matahari, Bumi dan Mars akan segaris hingga terjadi oposisi, yaitu posisi Mars dan Matahari yang saling berlawanan terhadap Bumi.
Oposisi Mars terjadi Jumat (27/7/2018). Oposisi itu akan membuat Mars dan Matahari muncul pada arah berlawanan pada saat yang sama. Saat Matahari terbenam, Mars baru terbit. Demikian sebaliknya. Akibatnya, saat ini, Mars akan terlihat di sepanjang malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada 10 menit hingga 8,5 hari sebelum atau sesudah oposisi, Mars akan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi. Jarak terdekat itu akan dicapai Mars pada Selasa (31/7/2018) pukul 14.50 WIB. Saat itu, jarak Mars-Bumi 57,61 juta kilometer (km).
NASA/JPL-CALTECH/USGS–Citra Mars yang diambil dari wahana pengorbit Viking.
“Kedekatan jarak Mars-Bumi itu tidak akan menimbulkan efek apa pun bagi Bumi,” kata dosen Kelompok Keilmuan Astronomi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung Endang Soegiartini.
Berbeda dengan kedekatan Bulan terhadap Bumi yang memengaruhi pasang surut di Bumi, mendekatnya Mars terhadap Bumi tidak akan berdampak karena jarak Mars yang jauh dan massanya lebih kecil dari Bumi.
Kedekatan itu hanya akan membuat Mars tampak lebih terang dan besar dibanding biasanya. Selang waktu antara saat Mars oposisi dan mencapai jarak terdekat ke Bumi itu jadi saat terbaik melihat Mars.
Dengan mata, Mars terlihat merah menyala walau masih kalah terang dibanding Venus atau Shukra. Dengan teleskop besar, permukaan Mars akan terlihat jelas, termasuk lapisan es di kutubnya.
DIOLAH DARI STELLARIUM/MZW–Peta langit malam pada Sabtu (31/7/2018) pukul 01.00 WIB di arah barat, saat Mars hampir tenggelam.
Jarak Mars-Bumi 31 Juli itu menjadi jarak terdekat kedua setelah 27 Agustus 2003. Saat itu, jarak Mars-Bumi hanya 55,76 juta km dan menjadi jarak terdekat Mars-Bumi selama hampir 60.000 tahun terakhir.
Setelah itu, Mars akan terus menjauh karena orbitnya yang lebih lonjong dibanding orbit Bumi. Jarak terdekat Mars ke Bumi berikutnya dicapai pada 11 September 2035 pada jarak 57 juta km. Sedangkan rekor jarak Mars-Bumi pada 2003 baru akan terpecahkan pada 28 Agustus 2287 pada jarak 55,69 juta km.
Jarak terdekat Mars-Bumi pada 2003 itu memunculkan hoaks bahwa Mars akan terlihat sebesar Bulan. Hoaks itu biasa menyebar akhir Agustus, sama seperti kejadikan pada 2003. Padahal, jarak terdekat Mars-Bumi itu bisa terjadi kapan pun.
Mars tak akan pernah terlihat sebesar Bulan. Saat ini, jarak terdekat Mars adalah 70 kali jarak Bumi-Bulan. Untuk melihat Mars sebesar Bulan, Mars harus ‘diletakkan’ pada dua kali jarak Bumi-Bulan atau sekitar 780.000 kilometer.
Jika Mars di jarak sebesar itu, keseimbangan Tata Surya terganggu hingga mengubah konfigurasi planet. Mars bisa tertarik ke Bumi atau tertendang dari orbitnya hingga terlempar ke luar Tata Surya. (Kompas, 27 Agustus 2014)
Sumber : UNIVERSETODAY/SPACE/NASA–M ZAID WAHYUDI
Sumber: Kompas, 31 Juli 2018