Home / Berita / Astronomi / Mars Pernah Punya Cincin dan Akan Punya Cincin Lagi

Mars Pernah Punya Cincin dan Akan Punya Cincin Lagi

Mars baru bisa disaksikan di awal malam, sesaat setelah Matahari terbenam, pada Oktober nanti. Langit malam juga akan dihiasi benda lain berwarna merah menyala, yaitu Antares. Sama merah, keduanya mudah dibedakan.

KOMPAS/NASA—Planet Mars berwarna merah karena tanahnya banyak mengandung besi oksida.

Selama Juni, planet Mars terbit selepas tengah malam dan menghilang di atas kepala saat Matahari muncul. Warnanya yang merah menyala membuatnya mudah diamati. Mars baru bisa disaksikan di awal malam, sesaat setelah Matahari terbenam, pada Oktober nanti.

Langit malam juga punya benda lain yang berwarna merah menyala yaitu Antares, bintang terterang di rasi Scorpius. Saat ini, ketika Mars baru terbit, Antares sudah di atas kepala. Walau sama-sama merah, keduanya mudah dibedakan karena Antares ada dalam rasi.

Selain itu, sebagai planet, warna merah Mars terlihat stabil, sedangkan merah Antares berkelap-kelip. Kerlip bintang itu terjadi karena jarak yang jauh membuat cahaya bintang ketika sampai di Bumi menjadi relatif lemah dan mudah terganggu atmosfer Bumi.

Mars memiliki dua bulan, yaitu Phobos dan Deimos. Phobos sedikit lebih besar dari Deimos. Phobos hanya berjarak 6.000 kilometer (km) dari permukaan Mars hingga dia mampu mengelilingi Mars tiga kali sehari. Sementara Deimos butuh 30 jam untuk sekali memutari Mars.

Phobos mengorbit Mars dengan gerakan memutar yang makin lama makin mendekati planet induknya. Akibatnya dalam seabad, jarak Phobos ke Mars berkurang 1,8 meter. Dalam 50 juta tahun mendatang, Phobos diprediksi akan jatuh menabrak Mars dan hancur berkeping-keping hingga membentuk cincin yang mengelilingi Mars.

KOMPAS/NASA—Ilustrasi dua bulan planet Mars, Phobos (kiri) dan Deimos.

Selama ini, banyak astronom menduga Phobos dan Deimos adalah asteroid atau batuan angkasa yang tertangkap gravitasi Mars. Namun studi Matija Cuk dari SETI Institute, Amerika Serikat, dkk menunjukkan kemiringan orbit Deimos 2 derajat terhadap bidang edar Mars menandakan kedua bulan itu dari lingkungan Mars, bukan asteroid.

“Kemiringan orbit Deimos itu mengungkap rahasia besarnya,” kata Cuk seperti dikutip Space, Rabu (3/6/2020). Sedangkan orbit Phobos sejajar khatulistiwa Mars. Posisi Deimos yang jauh dan orbitnya yang miring itu bisa dijelaskan dengan teori siklus bulan Mars, yang hancur menjadi cincin, membentuk bulan lagi dan terus berulang.

Posisi orbit Deimos yang jauh diduga berasal dari keberadaan Phobos saat ini. Phobos dulunya adalah cincin raksasa Mars yang bersatu kembali. Debu di cincin Mars itu berasal dari bulan Mars kuno yang berukuran 20 kali Phobos. Ukuran yang besar memungkinkan bulan Mars kuno itu mendorong Deimos ke posisinya sekarang.

Sementara itu, dikutip dari Livescience, Kamis (4/6/2020), kemiringan orbit Deimos adalah buah dari terjadinya resonansi orbital, yaitu orbit bulan yang melompat naik turun terhadap orbit bulan lainnya. Situasi ini umum terjadi pada dua bulan dengan orbit mirip di satu planet, seperti orbit bulan Naiad yang naik turun terhadap orbit bulan Thalassa di planet Neptunus.

Karena terbentuk dari materi cincin Mars yang menyatu membentuk bulan lagi, Phobos pasti berumur lebih muda dari Deimos. Phobos diperkirakan terbentuk 200 juta tahun lalu, saat Dinosaurus masih ada di Bumi. Sedang Deimos sudah ada sejak miliaran tahun sebelumnya.

Meski demikian, teori siklus bulan planet Mars itu masih butuh pembuktian. Hingga kini, belum ada wahana antariksa Bumi yang bisa mendekati bulan Mars untuk melihat proses geologinya. Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA) baru berencana mengirim wahananya Phobos pada 2024 dan mengambil sampel tanahnya untuk diteliti di Bumi.

KOMPAS/STELLARIUM—Mars dan Antares adalah dua benda langit yang sama-sama berwarna merah terang. Mars adalah planet dan Antares adalah bintang terterang di rasi Scorpius. Selama awal Juni, Mars terbit selepas tengah malam. Saat itu, Antares sudah berada di atas kepala mulai condong ke barat.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 6 Juni 2020

Share
x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: