Home / Berita / Astronomi / Selamat Jalan Komet Neowise

Selamat Jalan Komet Neowise

Komet NEOWISE telah mencapai titik terdekatnya dengan Bumi. Kini, sang komet melanjutkan perjalanannya menuju tepian Tata Surya, entah akan kembali atau tidak.

KOMPAS/TIM BALAI PENGELOLA OBSERVATORIUM NASIONAL, LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL (BPON LAPAN) UNTUK KOMPAS—Citra komet C/2020 F3 (NEOWISE) yang diambil oleh Tim Balai Pengelola Observatorium Nasional, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (BPON Lapan), Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu (22/7/2020) pukul 18.47 WITA. Anggota tim yang mengambil citra ini terdiri atas Muhammad Bayu Saputra, M Dio Danarianto, Futikhatun Rohmah, dan Mulya Diana Murti. Foto diambil menggunakan kamera Sony a7SII dengan lensa 240 mm (F/6,3) yang dipasang pada ‘mounting tracker’ untuk mengikuti gerak komet. Citra ini merupakan hasil dari tumpukan lima citra dengan total waktu bukaan 2,5 menit pada ISO 3200.

Komet NEOWISE telah mencapai titik terdekatnya dengan Bumi. Kini, sang komet melanjutkan perjalanannya menuju tepian Tata Surya, entah akan kembali atau tidak.

Titik terdekat komet NEOWISE dengan Bumi dicapai pada Kamis (23/7/2020) pukul 08.09 WIB, pada jarak 103 juta kilometer. Posisi itu dicapai setelah sang komet menyambangi Matahari pada 3 Juli lalu dan hendak melanjutkan perjalanannya menuju pinggiran Tata Surya.

Komet akan terlihat sebagai benda bulat yang punya ekor hingga dia disebut juga sebagai bintang berekor. Tampilan ekor komet yang menawan itu membuat obyek ini memberi kesan yang mendalam bagi siapapun yang pernah melihatnya.

Orang Jawa menyebut komet sebagai Lintang Kemukus yang kemunculannya sering dimaknai sebagai tanda bencana, seperti saat muncul komet ATLAS pada April lalu yang dianggap sebagai tanda terjadinya pandemi Covid-19.

Peneliti di Balai Pengelola Observatorium Nasional, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (BPON Lapan), Kupang, Nusa Tenggara Timur, Muhammad Bayu Saputra, Jumat (24/7/2020) mengatakan komet NEOWISE bisa disaksikan di Indonesia dari 19-25 Juli 2020. “Setelah itu, komet akan makin redup dan ekornya tidak akan terlihat jelas,” katanya.

Komet yang bernama resmi C/2020 F3 itu ditemukan pertama pada 27 Maret 2020 oleh tim pemantau asteroid dekat Bumi, Near Earth Object Wide-field Infrared Survey Explorer (NEOWISE), Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA). Karena itu, komet ini populer disebut sebagai komet NEOWISE.

Komet akan terlihat sekitar satu jam setelah Matahari terbenam di arah barat laut, di bawah rasi Ursa Mayor atau orang Indonesia menyebutnya sebagai rasi Bintang Biduk. Penampakan komet ini tidak lama, kurang dari satu jam, sebelum komet terbenam.

KOMPAS/JOSHUA ANDERSON UNTUK KOMPAS—Citra komet NEOWISE yang diambil astrofotografer dari Surabaya Astronomy Club, Joshua Anderson, pada Rabu (22/7/2020) pukul 18.20 WIB. Foto diambil dari kawasan Ciputra di Surabaya Barat, Surabaya, Jawa Timur. Komet diambil menggunakan kamera Nikon D600 dan lensa 70-200 di 200mm.

Hal yang membuat komet NEOWISE ini unik adalah cahayanya yang sangat terang hingga bisa disaksikan dengan mata telanjang. Terakhir kali, Bumi disambangi komet yang sangat terang dan juga bisa disaksikan tanpa alat bantu terjadi pada 1997 silam saat komet Hale-Bopp melintas.

Meski diklaim bisa disaksikan dengan mata telanjang, nyatanya tak semudah itu untuk bisa melihatnya. Ada syarat dan ketentuan yang berlaku.

Joshua Anderson, astrofotografer dari Surabaya Astronomy Club, Surabaya, Jawa Timur mengatakan, pengamat di belahan Bumi utara yang menyaksikan NEOWISE pada akhir Juni hingga awal Juli, memang bisa melihat komet dengan mata telanjang. Saat itu, material komet baru terpanggang panas Matahari dan berada di titik terdekatnya dari Matahari.

Akibatnya, komet seperti terpanggang sempurna hingga menghasilkan cahaya komet yang sangat cerlang. Namun pada akhir Juli, saat komet sudah menjauhi Matahari, kecerlangan komet menurun tajam hingga komet menjadi lebih redup karena sebagian besar materi komet sudah terbakar. “Pengamat di Indonesia hanya kebagian ‘sisa-sisanya’ saja,” katanya.

Saat mendekati Matahari, sejumlah pengamatan di belahan Bumi utara menyebut magnitudo atau kecerlangan komet mencapai 2. Namun magnitudo komet yang diamati Bayu dan tim Lapan maupun Joshua, sekitar 4. Dalam pengukuran kecerlangan benda langit, makin besar angkanya berarti makin redup.

Meski tingkat kecerlangan sebesar itu masih memungkinkan untuk diamati dengan mata telanjang, namun waktu dan lokasi pengamatan sangat menentukan.

Di awal periode waktu terlihatnya komet di Indonesia, lanjut Joshua, ketinggian NEOWISE masih sangat rendah di dekat horizon hingga sulit diamati. Posisi yang rendah juga rentan mendapat gangguan dari awan maupun partikel debu di atmosfer.

Pengamatan juga harus menunggu sampai Matahari benar-benar tenggelam dan langit tak lagi terganggu cahaya senja. Cahaya Bulan sabit muda yang muncul juga bisa mengganggu pengamatan komet. Selain itu, polusi cahaya kota juga sangat memengaruhi.

Berbagai batasan itu membuat komet ini sulit diamati dengan mata telanjang di Indonesia. “Dengan menggunakan binokuler, ekor komet cukup terlihat walau tidak spektakuler,” tambahnya. Tampilan ekor komet menjadi lebih menarik saat dipotret menggunakan kamera dengan kepekaan tinggi.

Ekor komet itu hanya muncul saat komet ada di dekat Matahari. Makin jauh dari Matahari, ekor komet tidak akan muncul. Ekor komet terbentuk akibat pemanasan Matahari yang memanggang es di permukaan komet hingga mengubah bentuk es dari padat menjadi gas. Material debu yang ada di permukaan komet umumnya juga tertarik bersama gas dari es yang menyublim.

Ekor komet yang terlihat biasanya terbagi menjadi dua jenis, yaitu ekor yang mengandung debu dan es yang biasanya terlihat melengkung sesuai arah orbit komet dan ekor ion yang terdiri atas gas yang terionisasi. Menurut Bayu, arah ekor ion sangat dipengaruhi oleh angin Matahari dan partikel energetik yang ada di dalamnya. Karena itu, arah ekor ion komet selalu berlawanan arah dengan arah Matahari.

Masa depan
Meski kini komet mulai menjauhi Bumi dan Matahari, nasib NEOWISE di masa depan belum pasti. Sebagian astronom mengatakan komet dengan diameter 5 kilometer itu akan kembali 6.800 tahun lagi, 7.000 tahun lagi, bahkan ada yang memperkirakan tidak akan kembali lagi.

Dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung yang banyak meneliti soal komet, Budi Dermawan, mengatakan, data posisi orbit NEOWISE masih terbatas. Saat ini, di seluruh dunia baru terkumpul 400 posisi orbit komet NEOWISE. Akibatnya, elemen orbit komet belum bisa dipastikan. Namun karena komet makin redup, maka pengamatan untuk mendapat elemen orbit komet harus dilakukan pada panjang gelombang non visual, misalnya inframerah.

“Jika orbit komet berbentuk parabola, maka komet akan kembali lagi menuju Matahari suatu saat nanti. Jika orbitnya parabola, maka dia tidak akan kembali ke tempat asalnya alias lepas dari gravitasi Matahari,” katanya.

Sebagian ahli juga menyebut asal komet ini dari Awan Oort, daerah asal banyak komet yang berada di tepi luar Tata Surya dan berjarak antara 2.000-100.000 unit astronomi (astronomical unit/AU: jarak Bumi-Matahari). Namun, sejumlah ahli juga menyebut rumah NEOWISE berada di daerah yang berjarak antara 600-1.000 AU. Sebagai gambaran, jarak Pluto ke Matahari berkisar antara 30-50 AU.

meski demikian, ada pula yang memperkirakan NEOWISE berasal dar luar Tata Surya. Namun, sejauh ini obyek yang mendekati Matahari dan dipastikan berasal dari luar Tata Surya hanya ada dua, yaitu asteroid Oumuamua dan komet Borisov.

Material utama penyusun komet adalah debu dan es. Emily Kramer, anggota tim sains NEOWISE di Laboratorium Propulsi Jet NASA kepada Space, Minggu (19/7), menyebut separuh penyusun komet adalah es. Besarnya komponen es di komet itu membuat astronom memperkirakan NEOWISE mengandung es sebanyak 13 juta kali air yang ada di kolam renang standar olimpiade atau setara 32,5 teraliter, dengan asumsi satu kolam renang olimpiade bisa menampung 2,5 juta liter air.

Meski demikian, es yang ada di komet bukanlah tersusun atas materi hidrogen dan oksigen semata, namun juga ada unsur dan senyawa lain, seperti karbon, natrium (sodium) dan hidroksil. Menurut Bayu, sejumlah citra komet NEOWISE pada awal Juli lalu yang diambil dari berbagai negara di belahan Bumi utara menunjukkan komet ini berwarna oranye kekuningan. Warna itu menunjukkan, komet mengandung natrium.

Namun, citra yang diperoleh Tim Lapan menunjukkan komet berwarna hijau yang menunjukkan komet mengandung banyak karbon. “Bisa jadi, lapisan inti komet yang mengandung natrium sudah habis terbakar lebih dulu hingga kini menyisakan lapisan yang mengandung karbon saja,” katanya.

Apapun yang terjadi dan kemanapun komet NEOWISE akan pergi saat ini, sang komet telah memberi kenangan tersendiri bagi penduduk Bumi. Meski banyak komet periodik yang datang mendekati Matahari, tidak semuanya bercahaya terang, apalagi bisa disaksikan dengan mata telanjang dan bisa selamat dari ganasnya Matahari.

Selamah jalan NEOWISE. Entah Bumi akan kau sapa kembali atau tidak.

Oleh MUCHAMAD ZAID WAHYUDI

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 25 Juli 2020

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: