Komet ISON; Selamat dari Matahari, tetapi Hanya Tersisa Sebagian Kecil

- Editor

Minggu, 1 Desember 2013

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meskipun sempat dikabarkan hancur akibat tarikan gravitasi dan radiasi Matahari, citra terbaru menunjukkan Komet ISON masih bertahan. Namun, kondisinya jauh berbeda dengan sebelum melewati titik terdekatnya dengan Matahari.

Komet ISON yang selamat itu terlihat dari Large Angle and Spectrometric Coronagraph (LASCO) yang ada di satelit Solar and Heliospheric Observatory (SOHO) sesaat setelah melewati titik terdekatnya dengan Matahari pada Jumat (29/11) pukul 01.38 WIB. Jarak terdekat ISON dengan permukaan Matahari hanya 1,2 juta kilometer.

Sebelum melewati titik terdekat dengan Matahari, ISON tampak dengan ekor yang besar dan panjang serta inti yang jelas. Setelah melewati titik itu, hanya ekor tipis ISON yang terlihat dengan inti tidak jelas dan bergerak menjauhi Matahari.

Analisis sementara Karl Battams, astrofisikawan dari Laboratorium Penelitian Angkatan Laut (NRL) Amerika Serikat, dan ahli komet Observatorium Lowell, Arizona, AS, Matthew Knight, menyebutkan, saat memasuki atmosfer Matahari, ISON mulai terpecah dan menyisakan sedikit bagian yang terlihat dari sisa debu yang membentuk ekor tipis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selanjutnya, ISON terus menerobos korona Matahari. Selama perjalanan itu, ukurannya semakin kecil karena menguap. Koma komet (aliran debu dan gas yang membentuk atmosfer komet) hilang sehingga inti komet tidak jelas.

Setelah itu muncul inti komet kecil. Debu dan gas inti yang menguap tampak sebagai ekor tipis yang panjangnya memendek saat menjauhi Matahari.

Komet ISON bergerak dari Awan Oort di bagian luar Tata Surya sekitar 1 juta tahun lalu. Pertama teramati astronom Rusia, Vitali Nevski dan Artyom Novichonok, 21 September 2012.

Banyak ahli memperkirakan ISON akan menjadi komet abad ke-21 karena penampakannya yang indah. ISON baru pertama kali mendekati Matahari. Jadi, kandungan es dan debunya masih melimpah sehingga menghasilkan ekor yang besar dan panjang saat mendekati Matahari.

Namun, banyak juga ahli yang pesimistis karena jarak ISON ke Matahari sangat dekat. Suhu jarak terdekat 2.000 derajat celsius yang menguapkan lapisan debu dan es komet dalam waktu singkat. Jarak yang dekat juga menimbulkan gravitasi sangat besar yang cukup untuk menarik dan menghancurkan ISON.

ISON sempat dikabarkan hancur tak bersisa karena tak terlihat dalam citra Solar Dynamics Observatory. Namun, citra LASCO-SOHO membantah. ”Butuh waktu beberapa hari menganalisis citra ISON,” kata Battams.

Penelitian lanjutan citra yang diperoleh sejumlah teleskop antariksa diperlukan. Selain memprediksi penampakan ISON beberapa minggu ke depan sebelum mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada 26 Desember, studi juga memastikan apakah inti komet benar-benar tersisa dan berapa lama akan bertahan.

”Kalaupun bertahan hingga beberapa hari ke depan, belum dapat dipastikan apakah akan terlihat lagi di langit malam atau tidak,” ujar Battams. (AP/AFP/SPACE/NASA/MZW)

Sumber: Kompas, 30 November 2013

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Berita ini 10 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Kamis, 19 Maret 2026 - 14:30 WIB

Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara

Kamis, 19 Maret 2026 - 13:44 WIB

Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Berita Terbaru