Home / Berita / Satelit Lapan A2/ORARI; Data Pemantauan Kapal Diminati Negara Lain

Satelit Lapan A2/ORARI; Data Pemantauan Kapal Diminati Negara Lain

Satelit Lapan A2/Orari yang diluncurkan 28 September 2015 baru melewati masa kritisnya, belum berfungsi optimal. Namun, sudah ada negara lain meminati data pemantauan pergerakan kapal laut di sekitar khatulistiwa Bumi dari satelit eksperimen itu.

“Satelit Lapan A2/Orari adalah satu-satunya satelit dengan orbit ekuatorial yang membawa muatan AIS (Automatic Identification System),” kata Kepala Bidang Teknologi Ruas Bumi, Pusat Teknologi Satelit, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Chusnul Tri Judianto di Jakarta, Senin (23/11).

Perangkat AIS wajib dipasang di semua kapal besar dan menengah. Dari sinyal AIS yang dipancarkan kapal dan ditangkap satelit ditentukan posisi kapal tiap saat, sehingga rute diketahui. Dengan mengamati pergerakan kapal, dapat diidentifikasi apakah kapal itu kapal niaga, pencari ikan, atau kapal pencuri ikan.

Selama ini, satelit yang menangkap sinyal AIS hanya satelit berorbit polar atau memutari Bumi melalui Kutub Utara dan Selatan. Lapan A2 satelit ekuatorial mengitari Bumi melalui khatulistiwa, menjangkau seluruh muka Bumi dari 6 derajat Lintang Utara hingga 6 derajat Lintang Selatan, bukan hanya Indonesia.

Keunggulan Satelit Lapan A2 yang menjangkau pergerakan kapal di khatulistiwa lebih banyak dibanding satelit orbit polar, lanjut Chusnul, membuat sejumlah negara maju meminati data yang diperoleh, salah satunya Kanada. Negara itu memiliki satelit bermuatan AIS berorbit polar sehingga data pergerakan kapal di khatulistiwanya sangat terbatas.

Dalam sehari, Satelit Lapan A2 mampu menerima 2,4 juta pesan posisi kapal. Kini, data itu bisa diolah dalam dua jam. Ke depan diharapkan jauh lebih cepat.

Selain memantau gerak kapal, fungsi lain Satelit Lapan A2, menurut Kepala Lapan Thomas Djamaluddin, untuk pencitraan rupa Bumi. Demi jalankan fungsi itu, satelit dilengkapi video kamera analog dan kamera digital.

Jenis kamera sama digunakan pada Satelit Lapan A1/TUBSat. Bedanya, resolusi kamera satelit ini lebih baik, 4 meter (m) dan menyapu luasan 7 x 7 kilometer (km) persegi. Resolusi kamera di satelit Lapan A1 hanya 5 m, luas sapuan 3,5 x 3,5 km persegi.

Citra pertama yang diperoleh kamera analog pada minggu kedua setelah satelit diluncurkan adalah sapuan kawasan di utara Papua. Setelah diperbesar, wilayah daratan yang dicitrakan adalah Pulau Helen di selatan negara Palau. Adapun kamera digital yang dicoba bersamaan kamera analog baru memberi hasil yang baik sebulan kemudian.

Chusnul menambahkan, kualitas citra kamera yang baik sangat ditentukan pemahaman peneliti dan perekayasa di Pusat Pengendalian Satelit Rancabungur, Bogor, Jawa Barat, terhadap sikap satelit. Itu membuat pengendali satelit bisa melakukan manuver sesuai kebutuhan.

“Formula menentukan sikap satelit sudah ditemukan, tapi terus diperbarui agar diperoleh citra terbaik,” katanya.

Kemandirian
Pada Satelit Lapan A1, citra terbaik baru didapat tiga tahun setelah peluncuran. Pada Lapan A2, citra terbaik diharap didapat satu tahun setelah diluncurkan. Meski begitu, itu dinilai baik karena seluruh proses pengoperasian satelit dilakukan mandiri, termasuk pembuatan perangkat lunak memahami sikap satelit.

Kemandirian pengoperasian satelit itu melengkapi proses perancangan, desain, dan produksi Lapan A2 yang juga dilakukan mandiri di Indonesia. “Teknologi pembuatan dan operasi satelit harus dikuasai agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada negara lain,” kata Thomas.

Fungsi lain satelit untuk komunikasi radio amatir. Hanya 15 menit sejak satelit dilepaskan dari roket peluncur, sinyal komunikasi radionya terdeteksi. “Dengan antena sederhana, sinyal radio dari satelit bisa ditangkap baik di India, Tiongkok, Thailand, hingga Australia,” kata anggota Bidang Teknik Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari), Dirgantara Rahadian.

Ke depan, fungsi komunikasi radio amatir diharap dapat untuk komunikasi di daerah bencana, saat jaringan telepon seluler terputus. Pola komunikasi ini juga bisa untuk menandai pulau-pulau terluar Indonesia. (MZW)
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 November 2015, di halaman 14 dengan judul “Data Pemantauan Kapal Diminati Negara Lain”.
————
Satelit Lapan A2 yang Diluncurkan Akhir September Berfungsi Baik

Sejak diluncurkan 28 September, berbagai komponen dan muatan di Satelit Lapan A2/Orari berfungsi dengan baik. Meski berbagai hasil instrumen itu masih harus disempurnakan dengan mengatur letak satelit yang tepat, masa kritis satelit agar tidak hilang dan mengalami kegagalan misi sudah terlewati.

137570_620KOMPAS/YUNIADHI AGUNG–Para perekayasa dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) melakukan pengecekan akhir Satelit Lapan A2/Orari di Pusat Teknologi Satelit Lapan, Rancabungur, Bogor, Jawa Barat, Kamis (3/9). Satelit Lapan A2/Orari merupakan satelit pertama yang sepenuhnya dirancang dan dibuat ahli-ahli Lapan memakai fasilitas produksi dan fasilitas uji di Indonesia. Satelit ini diluncurkan 28 September dari Pusat Antariksa Satish Dhawan, Sriharikota, India.

Masa kritis satelit disebut fase peluncuran dan awal di orbit (launch and early orbit phase/LEOP) atau uji di orbit (in orbit test/IOT). Masa ini dimulai sejak satelit dilepaskan dari roket pembawa muatan hingga ada kepastian semua komponen dan instrumen satelit berfungsi baik.

Kepala Bidang Teknologi Ruas Bumi Pusat Teknologi Satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Chusnul Tri Judianto di Jakarta, Senin (23/11), mengatakan, masa kritis satelit tersebut sekitar satu bulan sejak diluncurkan. Selama masa itu, tim peneliti Lapan berusaha melacak keberadaan satelit, menentukan orbit satelit, menguji kinerja tiap komponen satelit di orbit, menguji muatan satelit, hingga mengendalikan sikap satelit.

“Ini adalah operasi satelit pertama yang dilakukan secara mandiri di Indonesia,” katanya. Pengendalian satelit dilakukan oleh Pusat Pengendalian Satelit Rancabungur, Bogor, Jawa Barat, dan Stasiun Bumi Biak, Papua.

Selain itu, satelit Lapan A2/Orari juga satelit pertama yang dirancang, dibuat, dan diuji oleh para perekayasa Indonesia. Selain itu, proses produksi dan ujinya dilakukan dengan menggunakan fasilitas produksi dan fasilitas uji yang juga ada di Indonesia.

Dari tes awal yang dilakukan peneliti Lapan, satelit mampu menerima dan memproses perintah dari Bumi. Sistem radio dan komputer satelit juga berfungsi baik. Sementara baterai dan panel surya di satelit yang menunjukkan indikator kesehatan satelit juga mampu bekerja optimal.

Orbit ekuatorial
Kepala Lapan Thomas Djamaluddin mengatakan, satelit Lapan A2/Orari merupakan satelit Indonesia pertama dengan orbit ekuatorial. Satelit ini melintasi daerah sekitar khatulistiwa Bumi dengan kecepatan 7,5 kilometer per detik. Itu berarti, satelit melintasi wilayah Indonesia sebanyak 14 kali dalam 24 jam atau melintasi Indonesia setiap 97,7 menit sekali selama 20 menit.

8731feac455f42faa16a3d6db4eb6e21KOMPAS/YUNIADHI AGUNG–Tamu undangan di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Jakarta, menonton proses peluncuran satelit Lapan-A2/Orari melalui layar lebar yang menyiarkan secara langsung dari India, Senin (28/9) pukul 11.30 WIB. Lapan A2/Orari merupakan satelit ekuatorial pertama Indonesia yang sepenuhnya merupakan hasil pengembangan para peneliti dan perekayasa Lapan. Saat ini, masa kritis sudah terlewati dan berbagai komponen serta muatan di Satelit Lapan A2/Orari berfungsi dengan baik.

Satelit yang diluncurkan dari Bandar Antariksa Satish Dhawan, Sriharikotta, India, menggunakan roket peluncur PSLV C-30 itu dibuat dengan tiga misi utama, yaitu komunikasi radio amatir, pengamatan rupa Bumi, serta pemantauan kapal laut. Sekitar 80 persen fungsi satelit digunakan untuk penelitian dan hanya 20 persen fungsi yang bersifat operasional.

Sistem komunikasi amatir adalah fungsi satelit yang paling mudah diuji dibandingkan fungsi-fungsi yang lain. Anggota Bidang Teknik Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) Dirgantara, Rahadian, menambahkan, 15 menit setelah satelit dilepaskan ke orbit, sistem komunikasi radio amatir sudah bisa berfungsi. Sinyal itu bisa ditangkap hingga ke sejumlah negara tetangga, seperti India, Tiongkok, Malaysia, Thailand, dan Australia.

Untuk pengamatan Rupa Bumi, pengaturan fokus kamera sudah dilakukan. Pengambilan citra dengan kamera analog baru bisa dilakukan pada minggu kedua setelah peluncuran. Kamera digital juga sudah berfungsi, tetapi hasilnya masih belum optimal karena sikap satelit masih belum dipahami secara sempurna.

Sementara itu, pemantauan pergerakan kapal laut menggunakan automatic identification system (AIS) juga sudah bisa dilakukan. Dalam satu hari, satelit mampu menerima 2,4 juta pesan posisi pergerakan kapal-kapal di wilayah khatulistiwa, bukan hanya di Indonesia.

Namun, besarnya data yang bisa diterima membutuhkan kemampuan ekstraksi dan pengolahan data yang cepat. Kemampuan mengekstraksi data yang diperoleh itulah yang hingga kini terus diperbaiki agar memori di satelit tidak penuh dan data bisa dimanfaatkan secara optimal.

M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas Siang | 23 November 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: