Home / Berita / Tiga Misi Utama Satelit Lapan A2

Tiga Misi Utama Satelit Lapan A2

LEMBAGA Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) siap meluncurkan Lapan A2, satelit kedua buatan lembaga itu. Satelit ini akan diluncurkan ke antariksa dari India pada pertengahan tahun 2013 dengan roket PSLV-C23.”Satelit Lapan A2 telah selesai dibangun dan siap diluncurkan tahun depan,” kata Kepala Bagian Humas, Elly Kuntjahyowati di Bogor, baru-baru ini.

Satelit ini memiliki sensor Automatic Identification System (AIS) untuk identifikasi kapal layar yang melintas di wilayah yang dilewati satelit tersebut. Dengan demikian, Lapan A2 akan memiliki kemampuan untuk memantau lalu lintas wilayah laut Indonesia.

Satelit dengan berat 78 kilogram ini akan mengorbit pada ketinggian 650 km. Pada orbit tersebut, Lapan A2 akan melintasi wilayah Indonesia secara diagonal sebanyak 14 kali sehari dengan lama waktu melintas sekitar 20 menit.
Dikatakan, pada orbit tersebut, AIS Lapan A2 akan mempunyai radius deteksi lebih dari 100 km dan mempunyai kemampuan untuk menerima sinyal dari maksimum 2.000 kapal dalam satu daerah cakupan.

”Lapan A2 akan mengorbit secara ekuatorial. Nantinya Lapan A2 akan menjadi satelit pemantauan bumi pertama di dunia yang memiliki orbit ekuatorial,” katanya.
Menurut dia, pembangunan Lapan A2 merupakan keberhasilan bangsa Indonesia dalam mengembangkan teknologi antariksa.

Awal keberhasilan ini, ditandai dengan dibangunnya satelit pertama buatan Indonesia sebelumnya, Lapan-Tubsat. Satelit yang diluncurkan pada 2007 dari India tersebut, lanjut dia, hingga kini masih beroperasi dengan baik, padahal awalnya diperkirakan usianya hanya mencapai dua tahun.

”Lapan-Tubsat murni buatan para peneliti dan perekayasa Lapan, meskipun pembangunannya bekerja sama dengan Technische Universitat Berlin di Jerman,” katanya.

Keberhasilan pembangunan Lapan-Tubsat ini. menurut dia, kemudian memberikan semangat bagi Lapan untuk mengembangkan satelit berikutnya, yaitu Lapan A2.

Satelit Lapan A2 merupakan satelit pertama yang dibuat di Indonesia setelah Lapan A1 dibuat di Jerman dan diluncurkan dari India pada Januari 2007.
Lapan A2 ini sepenuhnya dibangun di Pusat Teknologi Satelit Lapan di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat.

Lapan A2 merupakan satelit yang sama dengan Lapan-Tubsat, namun, memiliki sensor yang lebih ditingkatkan dibandingkan satelit pendahulunya.

Tiga Misi
Satelit Lapan A2 dirancang untuk tiga misi, yaitu pengamatan bumi, pemantauan kapal, dan komunikasi radio amatir. Direktur Pusat Teknologi Satelit LAPAN, Suhermanto menjelaskan tiga misi utama Satelit Lapan A2.
Misi pertama satelit yang dibangun sejak tahun 2009 itu adalah memantau permukaan bumi dengan kamera video analog dan kamera digital beresolusi hingga enam meter dan cakupan area gambar 12 kilometer persegi.
Misi keduanya, lanjut dia, membantu komunikasi teks dan suara untuk mitigasi bencana dengan aplikasi Automatic Position Reporting System (APRS) lewat frekuensi S-Band UHF.

”Kami bekerja sama dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) menempatkan komponen muatan yang dapat dipakai untuk komunikasi radio,” kata Suhermanto.

Menurut dia, perangkat Automatic Position Reporting System (APRS) dalam Satelit Lapan A2 dapat digunakan jika jaringan operator melalui Base Transceiver Station (BTS) jaringan operator terputus karena ketiadaan daya.
”Melalui Satelit Lapan A2, anggota Orari dapat berkoordinasi dengan tim SAR untuk mencari jalur evakuasi alternatif atau pengiriman bantuan,” tambah Kepala Bidang Teknologi Bus Satelit Pusat Teknologi Satelit LAPAN, Robertinus Heru Triharjanto.

Heru menambahkan APRS juga mendukung pengiriman pesan singkat melalui gelombang radio yang dapat dilakukan menggunakan perangkat-perangkat penerima komunikasi radio modern.

”Satelit ini juga mempunyai komponen voice repeater (pengulang suara) tapi terbatas hanya untuk satu pengguna pada satu waktu,” kata Heru.

Misi ketiga satelit berdimensi 50 x 47 x 38 sentimeter itu adalah mendukung pengawasan wilayah maritim Indonesia dengan memanfaatkan data Automatic Identification System (AIS), terutama pemantauan lalu lintas kapal laut yang mempunyai perangkat transmisi data.

”Kapal-kapal niaga dengan bobot lebih dari 100 ton diwajibkan mengirim identitas mereka,” kata Kepala Bidang Teknologi Bus Satelit Pusat Teknologi Satelit Lapan, Robertus Heru Triharjanto tentang misi ketiga Lapan A2.
Heru memperkirakan satelit berbobot 78 kilogram itu dapat digunakan selama tiga tahun dengan lintasan orbit berinklinasi 6-8 derajat dekat garis ekuator.

”Yang membatasi umur satelit adalah daya tahan kameranya. Satelit Tubstat yang diperkirakan hanya berusia tiga tahun sejak 2007 saja masih dapat dioperasikan,” kata Heru.

Satelit Lapan A2, yang disebut lebih baik dibanding satelit Lapan A1 atau Tubstat, memiliki sistem pengendalian orbit satelit lebih tepat untuk menghasilkan gambar yang lebih rinci.

Masih Impor
Sebanyak 90 persen komponen Satelit Lapan A2 masih didatangkan dari luar negeri atau impor.

”Komponen yang didatangkan dari luar negeri umumnya elektronika, seperti chip, sensor, transmitter, termasuk logam dan kamera,” kata Suhermanto.
Ia mengharapkan industri elektronika di Indonesia mampu mendukung teknologi pembuatan satelit, sehingga Lapan hanya perlu mendesain dan menguji komponen satelit.

”Target (peluncuran Lapan A2) semula (pada) 2012. Kami terkait pengujian,” kata Suhermanto tentang satelit yang mulai diproduksi sejak 2009 itu.

Terkait peluncur, Suherman mengatakan satelit yang akan dikendalikan dari Stasiun Bumi Rumpin Serpong Tangerang, Rancabungur Bogor, dan Biak Papua itu menumpang roket PSLV-C23 milik Sriharikota India.

”Muatan utama roket (PSLV-23) itu adalah satelit Aerosat dengan misi astronomi yang berbobot lebih dari 600 kilogram,” kata Suherman.

Dalam roket itu, lanjut Suherman, terdapat ruang untuk satelit-satelit kecil berbobot kurang dari 100 kilogram yang disebut ”piggybac”.
”(Peluncuran satelit) kita menunggu (kesiapan) muatan utama. Jadi, kita sudah harus siap sebelum satelit utama itu,” kata Suherman.

Ia mengatakan, biaya peluncuran satelit Lapan A2 sekitar separuh dari harga normal peluncuran satelit utama yang mencapai 10 ribu dolar AS per kilogram dan belum termasuk asuransi. (ant-24)

Sumber: Suara Merdeka, 3 September 2012

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: