Home / sosok peneliti / Sarah Gilbert, Penemu Vaksin yang Baik Hati

Sarah Gilbert, Penemu Vaksin yang Baik Hati

Dengan memegang prinsip kesetaraan akses vaksin, Sarah Gilbert yang memegang sebagian dari HKI vaksin Oxford/AstraZeneca sepakat menangguhkan HKI vaksin tersebut. Dengan begitu, vaksin bisa diproduksi di sejumlah negara.

ILUSTRATOR KOMPAS/SUPRIYANTO—– Sarah Gilber

Nama Sarah Catherine Gilbert tengah melejit di dunia. Di ajang turnamen tenis Grand Slam Wimbledon, ia mendapat penghormatan khusus. Bagaimana dia bisa dihormati sedemikian rupa?

Sarah Gilbert adalah Guru Besar Vaksinologi Universitas Oxford yang memimpin tim untuk menemukan vaksin pertama pandemi Covid-19. Vaksin itu kemudian dikembangkan bersama perusahaan farmasi AstraZeneca dan kini di seluruh dunia dikenal dengan nama vaksin Oxford/AstraZeneca.

Gilbert bukan orang baru dalam penelitian vaksin. Ibu dari tiga anak kembar ini memiliki pengalaman selama 25 tahun dalam pengembangan vaksin. Ia memberikan cukup banyak sumbangsih dalam pengkajian berbagai jenis vaksin. Tidak mengherankan ketika pandemi Covid-19 terjadi, Gilbert dipercaya sebagai pemimpin tim pengembangan vaksin untuk virus SARS-CoV-2 atau yang dikenal oleh awam sebagai virus korona jenis baru.

Gilbert pertama kali datang ke Oxford untuk bekerja sebagai peneliti pascadoktoral tahun 1994 bermodalkan gelar doktor di bidang biokimia dari Universitas Hull. Tahun 1999, ia bergabung menjadi dosen tetap sekaligus salah satu peneliti utama di Institut Jenner, lembaga di bawah Universitas Oxford yang melakukan penelitian vaksin dan obat-obatan.

Menurut biodata di laman resmi Oxford, di lembaga tersebut ia terlibat dalam mengkaji sejumlah pengembangan vaksin untuk penyakit malaria, influenza, demam Nipah, demam Lassa, demam Lembah Rift, dan sindrom pernapasan akut Timur Tengah (MERS).

Tahun 2007, Gilbert dan tim memperoleh hibah untuk melakukan penelitian lebih mendalam mengenai vaksin untuk penyakit-penyakit yang telah tereradikasi, tetapi masih bisa muncul kembali jika manusia tidak melakukan pencegahan. Berkat hibah ini, mereka bisa mengembangkan vaksin influenza universal yang bertujuan untuk mengobati semua jenis influenza.

Dalam pemaparannya di majalah sains, Splice, ia menerangkan bahwa influenza masih menjadi pandemi walau di negara-negara Barat masyarakat umumnya telah diimunisasi rutin setiap tahun. Pasalnya, virus influenza bermutasi sangat cepat. Penyakit ini tidak hanya bisa menulari manusia, tetapi juga binatang. Bahkan, binatang yang mengidap influenza bisa menyebarkannya ke manusia.

Untuk melawan infuenza, Gilbert dan kolega membuat vaksin yang bekerja dengan cara menambah jumlah sel T, sel daya tahan tubuh, yang spesifik terbentuk jika seseorang terkena virus influenza. Vaksin ini diujicobakan kepada 500 orang berusia 65 tahun ke atas di Inggris per April 2017 dan penelitiannya masih berlangsung.

Kajian vaksin influenza universal itulah yang mendasari tim Gilbert di Vaccitech, lembaga intra Universitas Oxford yang ia dirikan khusus untuk penelitian vaksin, guna mengembangkan vaksin ”Penyakit X”. Ini istilah untuk penyakit yang belum muncul.

Menurut dia, tantangannya adalah menciptakan vaksin baku yang kemudian bisa disesuaikan sesuai kebutuhan untuk melawan penyakit. Ia tidak menyangka, vaksin baku yang tersimpan di laboratorium sejak 2018 itu akan segera diuji kemampuannya di kehidupan nyata.

Ketika kasus-kasus awal Covid-19, yang saat itu dikenal dengan istilah Pneumonia Wuhan, diberitakan di media arus utama pada akhir 2019, Gilbert beserta tim menyimpulkan harus ada alternatif pengobatan untuk berjaga-jaga jika penyakit ini menyebar.

Selain Gilbert, tim Vaccitech Oxford ini terdiri dari Andrew Pollard, Teresa Lambe, Sandy Douglas, Catherine Green, dan Adrian Hill. Mereka mengembangkan vaksin baku berbasis adenovirus, sejenis virus yang mengakibatkan penyakit dengan gejala seperti flu.

Adenovirus ini dirancang agar tidak bisa berkembang biak ketika disuntikkan ke dalam tubuh manusia. Di dalam adenovirus ada tambahan protein yang diambil dari duri permukaan virus korona. Walhasil, adenovirus ini akan melepas protein tersebut di dalam tubuh manusia dan menciptakan daya tahan terhadap infeksi.

”Memang rumit karena belum ada vaksin untuk virus korona pada manusia. Vaksin virus korona selama ini hanya untuk unggas dan bovinae (keluarga sapi, kerbau, dan antelope),” tutur Gilbert dalam wawancara dengan harian The Independent pada Maret 2021.

Vaksin pertama
Vaksin ini diberi kode AZD1222 dan mulai diuji klinis pada April 2020. Umumnya, uji klinis memakan waktu hingga lima tahun. Tim penguji tidak akan memulai kegiatan sebelum mereka mengumpulkan sukarelawan yang sesuai dengan kuota dan persyaratan kesehatan.

”Kami memakai pendekatan yang berbeda, dengan mengiklankan pencarian sukarelawan dan langsung melakukan uji klinis sembari terus menambah sukarelawan,” kata Gilbert.

Uji klinis ini memakan waktu empat bulan. Per September 2020, vaksin yang kemudian diproduksi bekerja sama dengan AstraZeneca ini menjadi yang pertama disetujui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk pencegahan Covid-19.

Berdasarkan data Pemerintah Inggris per Juni 2021, di negara tersebut vaksin Oxford/AstraZeneca ini 92 persen efektif mencegah masyarakat untuk dirawat di rumah sakit jika terinfeksi Covid-19. Dalam uji klinis, efikasi vaksin ini adalah 74 persen, tetapi pada kenyataan setelah dilakukan imunisasi massal, angkanya naik menjadi 90 persen.

Meskipun demikian, Gilbert dan koleganya tidak mengklaim bahwa orang-orang yang disuntik vaksin tersebut akan kebal sepenuhnya terhadap Covid-19. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa memakai masker, menjaga jarak, dan sering membersihkan tangan ataupun permukaan benda-benda tetap harus dilakukan guna mencegah penyebaran Covid-19.

Dalam dua wawancara berbeda di LBC dan I News, pekan lalu, Gilbert juga mendorong imunisasi Covid-19 di seluruh dunia. Ia menjelaskan bahwa situasi tidak akan bisa kembali normal jika daya tahan tubuh massal berskala global tidak terwujud. Berdasarkan Our World in Data Juli 2021, secara total negara-negara maju telah mengimunisasi 50 persen penduduknya. Sebaliknya, kumulatif imunisasi Covid-19 di negara-negara miskin baru 1 persen.

”Daripada Pemerintah Inggris mendorong imunisasi Covid-19 untuk anak-anak, lebih baik diprioritaskan mengirim vaksin kepada negara-negara yang membutuhkan. Khawatirnya jika kesenjangan vaksin global masih terjadi, akan ada mutasi galur-galur baru di negara-negara ini yang mungkin tidak bisa diatasi oleh vaksin yang tersedia sekarang,” tutur Gilbert.

Kesetaraan vaksinasi
Dalam wawancara dengan BBC pada April 2020, Gilbert menegaskan, hak kekayaan intelektual (HKI) vaksin Oxford/AstraZeneca milik Universitas Oxford. Ia dan koleganya ingin vaksin itu disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia. Bahkan, dalam wawancara itu, Gilbert mengatakan, belum ada kepastian Inggris akan memperoleh hasil produksi pertama karena bisa saja justru dikirim ke negara-negara yang lebih memerlukan. Vaksin ini lalu diproduksi secara massal oleh perusahaan AstraZeneca.

Pada Konferensi Tingkat Tinggi G-7 dibahas mengenai penangguhan HKI semua merek vaksin Covid-19. Perusahaan AstraZeneca termasuk yang enggan melepas paten dan royalti itu. Akan tetapi, Gilbert beserta Vaccitech yang memegang sebagian dari HKI terus mendorong penangguhan.

Upayanya tidak sia-sia. Sekarang, selain di Inggris, vaksin itu juga diproduksi oleh Serum Institute di India dan Siam Bioscience di Thailand. Terdapat pula sejumlah negosiasi terkait kemungkinan memproduksi vaksin ini di salah satu negara di Benua Afrika.

Atas prinsipnya ini, Gilbert mendapat penghormatan secara global, termasuk dari penonton dan orang-orang yang hadir di turnamen Grand Slam Wimbledon.

Sarah Catherine Gilbert

Lahir: Kettering, Inggris, 1962

Pendidikan:
S-1 Biologi Universitas East Anglia
S-2 dan S-3 Biokimia di Universitas Hull
Pascadoktoral Vaksinologi di Universitas Oxford (1994)

Aktivitas/pekerjaan:
Akademisi tetap Universitas Oxford (1999)
Salah satu pendiri Vaccitech Universitas Oxford

Pencapaian:
Pengembang vaksin influenza universal
Pengembang vaksin AZD1222 yang kemudian menjadi vaksin Covid-19 Oxford/AstraZeneca

Penghargaan:
Anugerah Dame of the British Empire Juni 2021
Anugerah Medali Pangeran Albert Maret 2021
Anugerah Putri Asturia Spanyol di Bidang Penelitian Sains tahun 2021

Oleh LARASWATI ARIADNE ANWAR

Editor: FRANSISCA ROMANA NINIK W

Sumber: Kompas, 22 Juli 2021

Share
%d blogger menyukai ini: