Home / Featured / Prof. Drs. Med. Radioputro: “Sarjana Tak Bermutu”

Prof. Drs. Med. Radioputro: “Sarjana Tak Bermutu”

HARI menjelang siang. Hujan baru saja selesai. Mentari mulai muncul malu-malu di balik awan. Yogya, seperti biasa, adem saja. Sebuah rumah di kawasan Jalan Dewi Sartika, tampak sepi. Ada papan nama kecil dan sederhana bertuliskan Prof. drs. med. Radioputro. Ketika pintu diketuk, seorang wanita tua segera muncul. “Bapak tidak mau diwawancara biasanya begitu. Maaf,”katanya. AKUTAHU berkeras ingin bertemu profesor tua berusia 71 tahun itu.

Sesaat kemudian, terdengar detak langkah-langkah yang ogah-ogahan menyeret sandal jepit menuju ke pintu. Radioputro muncul di ambang pintu, tanpa senyum. Perawakannya pendek, tak lebih dari 160 cm. Rambut di kepalanya yang –khas profesor— gundul sebagian, tampak sudah jarang, tak ada lagi yang hitam. Alisnya tebal, matanya tajam menyelidik. Kumisnya tebal, memutih dan tampaknya tak terlampau terawat, jatuh seenaknya ke bibir atasnya. Beberapa gelintir rambut jenggotnya pun demikian, ubanan, tumbuh seenaknya. “Mau apa?” tanyanya datar, tanpa basa-basi. “Saya tak dapat memberikan keterangan apa-apa untuk bisa ditulis. Rasanya sudah begitu banyak yang ditulis orang setiap hari dalam berbagai koran dan media masa. Lalu mengapa anda mesti ke sini? Apa sih yang ingin anda tulis tentang saya?” Hampir setengah jam, tamunya belum dipersilakan masuk. Tapi, obrolan berjalan lancar. Dan, setelah lama, baru ia tersadar. “Lha, obrolan ini kan sama dengan wawancara. lya kan? Ya, sudah, saya sebenarnya selalu menolak berbicara dengan wartawan, tapi kali ini boleh. Silakan masuk, dan, anda bertanya, saya menjawab pertanyaan anda,” ujarnya, agak ramah. Sesaat kemudian, sikapnya agak berobah. Meski setiap pertanyaan dijawabnya dengan serius, ia sudah mulai tersenyum. Senyum yang mahal…

Radioputro adalah seorang dokter. Tapi, dalam menjalani hidup kesehariannya hingga kini, ia tak membuka praktek seperti layaknya seorang dokter. Tapi bukan berarti ia belum pernah praktek sebagai dokter. “Ketika baru tamat sekolah kedokteran, waktu jaman Jepang, saya praktek sebagai dokter. Juga, kalau sekarang ada yang terpaksa saya bantu, ya, saya bisa melakukannya seperti seorang dokter. Tapi secara resmi, sejak praktek sebagai dokter di zaman Jepang itu, saya tidak lagi mau praktek sebagai dokter,” begitu katanya. Alasannya? Radioputro cuma tersenyum. Biarlah, hanya dia sendiri yang tahu. “Dokter itu merupakan salah satu profesi, dan saya kebetulan tidak mau memilih profesi itu. Ya, boleh saja toh? Setiap orang toh bebas menentukan profesi mana untuk ditekuninya.”

Dari beberapa bekas mahasiswanya, diperoleh keterangan bahwa Radioputro tak mau praktek sebagai dokter, lantaran ia tak ingin melakukan penyimpangan terhadap kode etik kedokteran serta sumpah dokter. Kode etik dan sumpah dokter itu teramat berat, karena itu sulit untuk dipatuhi sepenuhnya. Begitulah, lapi itu curna aLban yang bukan dikemukakan langsung olels Radioputro sendisi. Latu, mungkin dapat dihubungkan, antara tidak prakteknya Radioputro sebagai dokter dan tidak diumumkan gelar dokter di depan namanya? Radioputro tidak memakai gelar dokter, tapi dokterandus med. Tentang ini, ia sendiri mengatakan, bahwa dokter, baginya adalah gelar profesi. Jadi, jelasnya, “dokter itu bukan gelar akademis, tapi gelar profesi.” Dan, karena Radioputro tidak memilih profesi sebagai dokter, ia pun memakai gelar akademisnya, drs med itu. Tak salah, memang.

KALAU tak ingin menjalani profesi dokter, kenapa harus sekolah dokter? “Wah, ceritanya panjang,” ujar Radioputro. “Waktu saya muda, sekitar tahun 1930-an, ketika tamat sekolah menengah Belanda, saya dihadapkan pada tiga pilihan. Ya, waktu itu,hanya ada tiga pilihan kalau ingin melanjutkan sekolah. Yang pertama, teknik. Kedua, kedokteran. Dan ketiga adalah bidang hukum. Pilih mana?” Awalnya, Radioputro hendak menempuh pendidikan teknik. Sama sekali tak terpikir untuk jadi dokter. Apalagi mau jadi ahIi hukum, bagi Radioputro, itu jauh..jauh dari keinginannya.

“Tapi saya tak diperbolehkan ayah untuk masuk teknik. Ayah tak setuju saya jadi insinyur, karena semua insinyur Indonesia pada waktu itu dibenci Belanda. Belanda menganggap semua insinyur Indonesia sama dengan Bung Karno, yang gigih menentang kebijaksanaan politik kolonial. Waktu itu, banyak sekali lulusan insinyur teknik yang menganggur luntang-lantung digencet BeIanda. Jadi, pikir ayah saya, daripada saya sekolah di teknik kemudian tidak dapat bekerja, saya dianjurkan untuk memilih bidang studi lain,” ceritanya. Dan Radioputro memilih kedokteran. “ltu satu-satunya pilihan, karena memang tak ada pilihan lain, selain kedokteran dan hukum. Dan saya sangat tidak tertarik pada hukum.”

Maka masuklah Radioputro ke fakultas kedokteran, tamat tahun 1943. la langsung praktek sebagai dokter di rumah sakit. “Pada saat itu, Jepang sudah masuk ke Indonesia. Di mana-mana terjadi pemberontakan. Dan korban pun bergelimpangan.” Sebagai dokter, tampaknya Radioputro menyimpan kenangan pahit yang menggores dalam di kalbunya. “Jepang itu kejam. Di rumah sakit, di mana-mana bergeletakan korban-korban yang luka dan meninggal akibat kekejaman Jepang. Hmmm, begitu banyak yang jadi korban kekejaman Jepang…., sekarang kita malah pinjam duit ke Jepang..,” ngedumelnya tak jelas. Nyatanya memang begitu.

Selain korban perang, Radioputro pun mengungkapkan, bahwa ia banyak menangani rakyat biasa yang penyakitan, dan miskin papa akibat perang itu. “Jepang membuat rakyat tak punya apa-apa. Mereka berobat, dan tak bisa membayar seperser pun. Seperti itulah pasien-pasien saya ketika itu,” ujarnya sembari tatapannya menerawang jauh, seperti tanpa cahaya. Keadaan masyarakat dan rakyat Indonesia di bawah cengkeraman Jepang, mungkin terlampau pahit untuk dikenang.

Kebenciannya terhadap penjajah Jepang tampak demikian mendalam. Namun, ketika itu Radioputro sempat pula menjadi asisten anatomi pada sekolah tinggi kedokteran yang kemudian diubah nama oleh Jepang menjadi Ikadaigaku di Jakarta. Tapi itu tak lama.

Radioputro pun tak lama berpraktek sebagai dokter. Nyata kemudian selain di Jakarta, dan beberapa saat di Klaten, Radioputro praktek sebagai dokter, setelah itu ia seakan mengundurkan diri dari profesi itu. Padahal kalau dipikir, tentu jauh lebih ‘basah’ seandainya ia terus menekuni profesi dokter itu. Nyatanya, Radioputro seperti tidak tertarik. Mungkinkah ia tak butuh uang? “Oalaa… siapa yang tidak tertarik dengan uang? Saya juga senang duit, saya butuh duit. Ya, saya perlu duit untuk memenuhi seluruh kebutuhan saya. Tapi kebutuhan yang tidak perlu, ya, tak usah diciptakan. Kita butuh banyak uang kalau kita ciptakan banyak kebutuhan. Kalau kita membatasi kebutuhan kita, kita pun tidak perlu banyak uang.

“Artinya, jangan menjadikan sesuatu itu perlu, kalau memang tidak perlu. Kalau kita tidak menjadikan mobil itu sebagai suatu kebutuhan, ya kita tidak perlu banyak uang untuk beli mobil. Kalau kita tidak butuh untuk bepergian dengan pesawat, jangan jadikan itu sebagai kebutuhan,” ujarnya. Dan tampaknya ia benar-benar menerapkan kata-katanya di dalam hidup kesehariannya. la begitu sederhana. Keluarga dan isi rumahnya pun, tampak seadanya saja. Semua yang ada pada dirinya, yang ada di sekitarnya mencerminkan bahwa ia tidak banyak menciptakan kebutuhan.

Setelah beberapa lama Radiopturo menjadi asisten di Ikadaigaku serta praktek sebagai dokter di Jakarta, ia kemudian hijrah ke Klaten. Bersama beberapa teman, ia ikut terlibat dalam proses pendidikan di Perguruan Tinggi Kedokteran bagian praeklinis di Klaten. Radioputro selain diserahi tugas menjadi sekretaris administrasi perguruan tinggi kedokteran itu, ia pun mengajar sebagai dosen. Dan, meski Radioputro sebenarnya pernah terlibat sebagai asisten anatomi di Ikadaigaku Jakarta, namun baru di Klaten inilah ia merasa terlibat penuh sebagai tenaga edukatif.

DI Klaten inilah Radioputro pernah harus menjadi satu-satunya dokter yang mampu menyelamatkan perguruan tinggi itu dari kehancuran akibat perang. Ketika itu, Belanda menyerang rumah sakit Klaten. Kemudian ketika tentara sekutu mendarat, ia terpaksa mengungsikan barang-barang milik perguruan tinggi itu ke Yogyakarta. Kampus pun kemudian pindah ke Yogya, dalam keadaan darurat itu. “Di Yogya, karena keadaan masih gawat, kuliah diadakan di Ndalem Kadipaten, daerah Ngasem. Di sini pun, selain mengajar, saya ditugaskan menjadi sekretaris administrasi Fakultas Kedokteran, dan merangkap sebagai pencari tenaga-tenaga pengajar,” ceritanya. “Saya diangkat menjadi guru besar pada tahun 1950, setelah setelumnya pernah menjadi lektor muda dan lektor.” Dan, sejak itu hingga sekarang di usianya yang ke tujuh puluh satu, meski setelah lima tahun ia secara resmi pensiun, Radioputro masih aktif dan tanpa berhenti mengemban tugas sebagai guru besar di lingkungan Universitas Gadjah Mada. Ia memberi kuliah di fakultas Biologi, Fakultas Kedokteran Umum dan Kedokteran gigi. Mata kuliah yang diberikannya adalah anatomi dan filsafat kedokteran.

BISA dihitung sejak tahun 1943 hingga kini, 1988, tak kurang dari 45 tahun Radioputro terlibat di dalam suka duka dunia pendidikan. Ia telah terlibat langsung dan mengalami pahit getir, asam garam dunia pendidikan sejak jaman Jepang, pun di jaman kemerdekaan ini. Maka, pantaslah profesor tua ini berbicara mengenai dunia pendidikan, dunia yang digelutinya.

Menurut pengamatan Radioputro, pendidikan zamannya dengan pendidikan masa kini, sangat jauh berbeda. Perbedaan itu menentukan mutu lulusannya. Pendidikan tempo dulu, menurutnya, jauh lebih ketat daripada pendidikan sekarang. Karena itu, secara tak langsung dikatakannya, bahwa mutu lulusan pradidikan zaman dulu adalah jauh lebih bermutu dari pada produk pendidikan sekarang.

Hal tersebut dimungkinkan lantaran pendidikan sekarang banyak memberikan kelonggaran-kelonggaran terhadap anak didik. Salah satu contoh kelonggaran itu, disebutkan Radioputro, adalah kelonggaran dalam sistem pemberian nilai. “Zaman sekarang mahasiswa-mahasiswa, banyak dibantu oleh katrolan nilai. Misalnya saja, nilai 5.5, yaaa, dinaikkan menjadi 6, dengan berbagai alasan. Hal seperti ini, tidak pernah terjadi di zaman dulu,” ujarnya. Tapi, apa mau dikata? Suasana sekarang memang sudah begitu. Maka, ah.., sudahlah ? Hermin Y. Kleden

Sumber: Majalah Aku Tahu, No 62 April 1988

Share
%d blogger menyukai ini: