Home / Berita / Vaksin AstraZeneca Tidak Efektif Melawan Varian Baru B.1.351

Vaksin AstraZeneca Tidak Efektif Melawan Varian Baru B.1.351

Keberadaan varian-varian baru SARS-CoV-2 perlu diwaspadai. Berdasarkan hasil uji klinis, vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca terbukti kurang efektif melindungi dari varian baru B.1.351 asal Afria Selatan.

Vaksin Covid-19 produksi AstraZeneca gagal memberikan perlindungan terhadap gejala ringan hingga sedang terhadap varian B.1.351 dari Afrika Selatan. Uji klinis di Afrika Selatan ini menunjukkan, meskipun vaksin sukses melawan varian lama SARS-CoV-2, tetapi tidak efektif terhadap varian baru sehingga dibutuhkan modifikasi.

Penelitian ini dipublikasikan di The New England Journal of Medicine pada 16 Maret 2021, jadi bukti pertama yang menunjukkan efikasi atau kemanjuran vaksin yang kini dipakai di banyak negara, tak bisa mencapai ambang minimal kemanjuran 60 persen terhadap Covid-19 yang disebabkan varian B.1.351. Penulis pertama kajian ini adalah Shabir A Madhi dari South African Medical Research Council Vaccines and Infectious Diseases Analytics Research Unit.

Kajian ini melibatkan 2.026 orang dewasa berusia 18-65 tahun yang mendapat suntikan plasebo dan vaksin antara 24 Juni dan 9 November 2020. Sebanyak 1.010 dan 1.011 peserta menerima satu dosis plasebo atau vaksin. Pseudovirus dan uji netralisasi virus hidup menunjukkan resistensi lebih besar terhadap varian B.1.351 dalam sampel serum dari penerima vaksin daripada sampel dari penerima plasebo.

Dalam analisisnya peneliti menyebut, Covid-19 ringan hingga sedang berkembang pada 23 dari 717 penerima plasebo (3,2 persen) dan pada 19 dari 750 penerima vaksin (2,5 persen) sehingga kemanjurannya hanya 21,9 persen. Di antara 42 peserta yang mengalami Covid-19, sebanyak 39 kasus (92,9 persen) disebabkan varian B.1.351. Ini berarti, kemanjuran vaksin terhadap varian ini hanya 10,4 persen.

Data kemanjuran yang dikumpulkan pada vaksin AstraZeneca dari Inggris, Brasil, dan Afrika Selatan, sebelum munculnya B.1.351 menunjukkan kemanjuran keseluruhan 66,7 persen dan kemanjuran 74,6 persen terhadap varian Inggris, B.1.1.7.

Dalam kajian terbaru ini, Madhi juga mencatat tidak ada kasus rawat inap karena Covid-19 yang parah di salah satu kelompok, tetapi karena profil demografis dan klinis peserta, ”temuan uji klinis ini tidak meyakinkan” berkaitan dengan apakah vaksin ini melindungi terhadap penyakit parah dari varian B.1.351.

”Terlepas dari temuan yang mengecewakan bahwa vaksin AstraZeneca tidak melindungi dari infeksi Covid-19 ringan karena varian B.1.351, tinjauan sejawat dan publikasi penelitian kami memvalidasi pentingnya pengembangan yang vaksin generasi kedua di seluruh dunia,” kata Madhi, dalam keterangan tertulis.

Menurut Madhi, vaksin generasi pertama dirancang untuk merespons SARS-CoV-2, virus korona penyebab Covid-19, yang awal. Sementara vaksin generasi kedua perlu didesain untuk memberikan perlindungan terhadap varian penyebab Covid-19 yang terus berkembang.

Sekalipun terbukti efektif melindungi dari gejala ringan hingga sedang akibat serangan varian baru B.1351, menurut Madhi, vaksin AstraZeneca ini dinilai masih dapat membantu melindungi individu berisiko tinggi dengan komorbiditas menjadi lebih parah. ”Vaksin AstraZeneca tetap penting sebagai senjata melawan virus ini, terutama di Afrika, yang telah menerima 14 juta dosis vaksin ini,” ujarnya.

Studi lanjut
Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman David Handojo Muljono, di Jakarta, Kamis (18/3/2021), mengatakan, penurunan efektivitas terhadap varian baru ini kemungkinan juga terjadi dengan vaksin yang lain. ”Temuan kajian ini menunjukkan pentingnya kajian lebih lanjut terhadap efektivitas vaksin di Indonesia terhadap penyebaran varian baru,” tuturnya.

Dia menyarankan adanya integrasi antara riset klinik dan surveilans yang dilakukan. ”Kasus-kasus yang mencurigakan, misalnya pasien Covid-19 yang mengalami kelainan klinis tidak wajar, seperti pemburukan tiba-tiba, harus diperiksa sampelnya dengan WGS (pengurutan total genom),” kata David.

Pemeriksaan molekuler juga harus dilakukan terhadap orang-orang yang positif Covid-19 meski sudah mendapat dua kali suntikan vaksin dan tetap positif walaupun sudah menjalani terapi plasma konvalesen atau obat-obatan lain. Hal ini untuk mengetahui apakah virus yang menginfeksi merupakan varian baru atau tidak.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sejauh ini baru varian B.1.1.7 yang sudah ditemukan di Indonesia. Adapun varian B.1.351 dan varian dari Brasil, P.1, belum ditemukan.

Untuk varian B.1.1.7 sudah dilaporkan tujuh kasus di sejumlah daerah, yaitu di Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Utara. Selain dari pelaku perjalanan dari luar negeri, sampel dengan kandungan B.1.1.7 juga ditemukan pada pasien yang memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri sehingga dikhawatirkan varian ini menyebar di masyarakat.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 19 Maret 2021

Share
%d blogger menyukai ini: