Melawan Varian Delta

- Editor

Senin, 16 September 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penyebaran varian Delta dari Covid-19 amat cepat dan kemampuannya menghindari antibodi menjadi tantangan program vaksinasi Covid-19 global. Meski demikian, semua vaksin Covid-19 masih efektif mencegah Covid-19 berat.

Salah satu vaksin Covid-19 yang dipakai banyak negara saat ini ialah vaksin CoronaVac buatan Sinovac, China. Namun, gelombang infeksi Covid-19 yang didominasi varian Delta di sejumlah negara memunculkan kekhawatiran bahwa CoronaVac tidak memberi perlindungan efektif terhadap varian Delta.

CoronaVac merupakan satu dari enam vaksin Covid-19 yang sudah masuk dalam daftar penggunaan darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Vaksin lain yang juga ada dalam daftar WHO ialah vaksin dari Pfizer/ BioNTech, Oxford/ AstraZeneca, Johnson & Johnson, Moderna, dan Sinopharm.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk vaksin dari Oxford/AstraZeneca, ada tiga versi produksi yang masuk daftar WHO, yaitu Vaxzevria produksi AstraZeneca Eropa, versi produksi AstraZeneca-SK Bio Korea Selatan, dan Covishield produksi Serum Institute of India (SII). Adapun vaksin Covid-19 Johnson & Johnson diproduksi oleh Janssen dan vaksin Sinopharm diproduksi oleh Beijing Bio-Institute of Biological Products Co Ltd.

Pada uji klinik fase tiga di Turki, efikasi CoronaVac sebesar 91,25 persen. Namun, para peneliti di Turki kemudian merevisinya menjadi 83,5 persen. Sementara efikasi CoronaVac, menurut uji klinis fase III di Brasil, 78 persen. Hasil ini pun lalu direvisi menjadi 50,65 persen sepekan kemudian.

Adapun uji klinik fase tiga di Indonesia menunjukkan efikasi CoronaVac sebesar 65,3 persen. Vaksin yang dikembangkan dengan teknik inaktivasi ini pun mendapat izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Januari 2021.

Menurut data Kementerian Kesehatan, hingga 8 Agustus 2021, terdapat 101.686.980 dosis vaksin Covid-19 yang sudah didistribusikan. Dari jumlah itu, sebanyak 83,4 juta merupakan CoronaVac dan vaksin Sinovac produksi PT Bio Farma.

Seiring dengan waktu, virus SARS-CoV-2 bermutasi sehingga muncul varian-varian baru yang menjadi tantangan program vaksinasi Covid-19 global. Bahkan, salah satu di antara varian baru itu, yaitu varian Delta, telah menyebar di 85 negara dan menyebabkan gelombang infeksi yang masif.

Lalu bagaimana efektivitas vaksin Covid-19 yang telah dipakai luas di dunia termasuk vaksin CoronaVac buatan Sinovac yang banyak dipakai Indonesia terhadap varian Delta?

Data efektivitas
Sejauh ini, China belum merilis data hasil studi efektivitas vaksin Covid-19 mereka terhadap sejumlah varian Covid-19. Meski demikian, para pakar kesehatan dari China tetap mendorong masyarakat untuk segera divaksin.

Sebagaimana dilaporkan Reuters pada 29 Juni 2021, Zhong Nanshan, epidemiolog yang turut membangun sistem respons penanganan Covid-19 di China, mengatakan, vaksin Covid-19 China efektif mengurangi risiko kasus positif bergejala dan parah akibat infeksi varian Delta. Pernyataan Zhong itu didasarkan atas analisis infeksi Covid-19 di Kota Guangzhou dengan sampel studi yang kecil.

Juru bicara Sinovac Liu Peicheng menyampaikan, hasil sementara berdasarkan sampel darah warga yang divaksin CoronaVac memperlihatkan, efek antibodi penetralisir yang terbentuk oleh vaksin menurun tiga kali lipat terhadap varian Delta. Menurut Liu, suntikan penguat (booster) setelah pemberian dua dosis akan memberikan perlindungan yang lebih kuat dan lebih lama terhadap varian Delta.

Sementara kepada Global Times, 30 Juli 2021, pimpinan Sinopharm China National Biotec Group Yang Xiaoming menginformasikan bahwa Sinopharm sedang melakukan tes netralisasi terhadap varian Delta sekaligus mengembangkan vaksin khusus untuk empat varian Covid-19 dominan, yaitu Alfa, Beta, Gamma, dan Delta.

Di Inggris, Public Health England (PHE) pada 22 Mei 2021 memublikasikan hasil studi efektivitas vaksin AstraZeneca dan Pfizer terhadap varian Delta pada periode 5 April-16 Mei 2021.

PHE merilis bahwa dua minggu setelah pemberian dosis kedua, vaksin Pfizer 88 persen efektif terhadap Covid-19 bergejala dari varian Delta. Hal itu lebih rendah dibandingkan dengan efektivitas terhadap varian Alfa yang sebesar 93 persen. Kemudian dua dosis vaksin AstraZeneca 60 persen efektif terhadap Covid-19 bergejala akibat varian Delta atau lebih rendah daripada efektivitas terhadap varian Alfa yang sebesar 66 persen.

Tiga minggu setelah diberikan, satu dosis vaksin Pfizer ataupun AstraZeneca 33 persen efektif terhadap Covid-19 bergejala akibat varian Delta atau lebih rendah dibandingkan 50 efektivitas terhadap varian Alfa.

Pada diskusi virtual yang digelar AntaraTV pada pekan lalu, vaksinolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Dirga Sakti Rambe, menyampaikan, semua vaksin Covid-19 memang terdampak oleh varian Delta, tidak hanya vaksin dari Sinovac. Meski begitu, vaksin Covid-19 yang ada sekarang masih efektif mencegah Covid-19 berat dan kematian.

”Kalau setelah enam bulan divaksin antibodi menurun, ini terjadi alamiah. Namun, bukan berarti proteksinya tidak ada karena tubuh memiliki sel memori yang akan merespons jika terjadi infeksi lagi,” kata Dirga.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, pemerintah belum memiliki riset yang khusus melihat efektivitas vaksin CoronaVac yang dipakai terhadap varian Delta yang mulai menyebar di Indonesia sejak akhir Maret 2021. Namun, dua studi observasi terhadap warga lansia di atas 60 tahun dan tenaga kesehatan di DKI Jakarta bisa menjadi gambaran.

Dalam studi yang melibatkan 86.000 lebih warga lansia di atas 60 tahun periode Maret-Mei 2021 diperoleh hasil, 14 hari setelah pemberian dosis kedua, vaksin CoronaVac 86 persen efektif mencegah Covid-19 bergejala, 92 persen efektif mencegah perawatan karena Covid-19, dan 95 persen efektif mencegah kematian akibat Covid-19. Namun, studi ini tidak memiliki data komorbid atau penyakit penyerta.

Dalam studi observasi pada tenaga kesehatan di DKI Jakarta ditemukan bahwa jumlah tenaga kesehatan yang divaksinasi lengkap dan butuh perawatan karena terinfeksi Covid-19 menurun hingga enam kali lipat. Lama perawatan mereka juga lebih singkat, yaitu 8-10 hari, dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang belum divaksin (9-12 hari). Sebagian besar (91 persen) tenaga kesehatan yang perlu perawatan intensif adalah mereka yang belum divaksin atau baru mendapat satu dosis.

Karena manfaatnya mencegah Covid-19 berat dan kematian itulah masyarakat sebaiknya tidak ragu divaksin dan tidak pilih-pilih vaksin. Apalagi stok vaksin Covid-19 global sangat terbatas hingga semua negara berlomba untuk memenuhi kebutuhan vaksin dalam negerinya. Vaksinasi yang disertai dengan penerapan protokol kesehatan akan bisa memutus rantai penularan Covid-19.

Oleh ADHITYA RAMADHAN

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 12 Agustus 2021

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 0 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB