Home / Berita / Ruang yang Mempertemukan

Ruang yang Mempertemukan

Tidak perlu risau harus punya kantor untuk mulai bekerja atau merintis bisnis baru yang profesional. Kini di kota besar bermunculan “coworking space”, ruang kerja bersama, yang dalam perkembangannya bertumbuh menjadi ruang bekerja sama. Ada spirit berjejaring dan berkolaborasi.

Mari kita tengok suasana kerja di coworking space. Di Jakarta, lebih dari 10 nama coworking space bermunculan sejak beberapa tahun terakhir. Belum lagi jika masing-masing punya cabang di sejumlah tempat. Seperti Regus, yang merupakan bagian dari jaringan internasional. Di Jakarta saja, ia punya 13 lokasi ditambah tujuh di Bali, Bandung, Balikpapan, Medan, Makassar, Surabaya, dan Tangerang Selatan. Meski lebih kental sebagai working space, Regus juga menyediakan coworking space.

Coworking space dengan spirit jaringan dan kolaborasi bisa kita temukan di tempat seperti Conclave, Comma, Coworkinc, dan Jakarta Digital Valley. Masing-masing punya ciri khas, baik suasana, fasilitas, ataupun nilai lebih yang ditawarkan. Tarifnya pun relatif terjangkau.

Misalnya, di Coworkinc, Kemang, dengan Rp 50.000 kita sudah bisa bekerja dua jam di sana. Tinggal pilih, mau duduk serius menghadap meja atau santai di atas bang chair. Di Regus, dengan iuran keanggotaan Businessworldmulai Rp 239.000 per bulan, kita bisa menggunakan kubikel berbentuk kapsul dengan fasilitas Wi-Fi, kopi, teh, air, fasilitas cetak, pindai, dan kirim dokumen. Presiden Direktur Regus Indonesia Charles Rossi mengatakan, fasilitas serupa dapat dinikmati gratis di cabang-cabang Regus di luar negeri yang tersebar di 19 negara berbekal keanggotaan Businessworld.

Di Conclave, nuansa anak muda kental terasa begitu memasuki ruangan di gedung empat lantai di Jalan Wijaya I, Jakarta Selatan. Setiap ruang terasa cair dan santai. Penyewa bebas bekerja di sudut mana pun sembari duduk atau tiduran dengan fasilitas internet berkecepatan tinggi, alat cetak, dan pemindai dokumen. Desain interiornya yang unfinished atau separuh jadi menumbuhkan kenyamanan bekerja.

Layaknya kantor konvensional, di Conclave terdapat ruang kerja, ruang rapat, auditorium, perpustakaan, ruang hiburan, game, dan kamar mandi yang dilengkapi pancuran. Bedanya, setiap ruang didesain dengan warna-warni anak muda. Barang pribadi disimpan di lemari penyimpanan (locker). Conclave menyediakan 40 kursi untuk sewa kantor tahunan, 80 kursi di coworking space, dan ruang pertemuan dengan maksimal 120 kursi.

Lahirnya Conclave yang mulai beroperasi 1,5 tahun lalu berawal dari pengalaman sulitnya mencari tempat bekerja ketika singgah di Jakarta. Para pendiri Conclave, Akbar Maulana (25), Aditya Hadiputra (25), Marshall Utoyo (25), Yansen Kamto (33), dan Rendy Latief (26) sempat “ngantor” di kafe atau restoran ketika harus rapat di Jakarta karena kantor mereka di Bandung.

0471db28fe5b4bca94afc033d370acb6KOMPAS/LUCKY PRANSISKA–Ruang kerja kelas bisnis Regus di kawasan Casablanca, Jakarta, Kamis (26/11). Ruang ini bisa disewa sesuai kebutuhan klien dengan beragam fasilitas yang bisa disesuaikan.

“Waktu itu coworking space belum banyak di Indonesia. Kita memang sudah tertarik bikin karena ekosistemnya mulai tumbuh, yakni start up (rintisan). Mulai muncul 3-4 tahun lalu, start up booming 2 tahun belakangan. Ekosistem start up itu yang membutuhkan coworking place, tetapi tidak melulu start up saja,” kata Aditya.

Conclave sudah menuai untung sejak sebulan beroperasi dan kini bersiap mengembangkan sayap ke empat lokasi baru di Jakarta dan Bali.

Mewadahi bisnis rintisan
Mengklaim sebagai coworking pertama di Jakarta yang beroperasi sejak November 2012, Comma menempati lantai tiga sebuah gedung di Jalan Wolter Monginsidi. Suasananya seperti ruang kantor pada umumnya, ditata serba terbuka tanpa sekat dengan seluruh sudut ruangan berkaca. Ada sembilan meja kerja dan meja yang berimpit dengan dinding kaca yang memuat lebih dari sepuluh tempat duduk.

Di salah satu pojok terdapat pantry, lengkap dengan fasilitas air putih, basin, oven pemanas, serta perlengkapan makan dan minum. Di dekatnya terdapat sebidang ruang untuk mushala dan locker. Di salah satu dinding mushala terdapatpapan jejaringatau wall of networking yang ditempeli seratusan kartu nama. Di samping dinding kartu nama itu terdapat papan tulis kapur yang memuat kebutuhan kerja sama atau perekrutan dari berbagai perusahaan.

Ruang seluas 250 meter persegi ini dapat menampung 40-50 orang duduk. Dengan desain modern, Comma terasa nyaman dan kondusif untuk bekerja. Di sebuah pojokan terdapat kedai kopi mungil dengan harga terjangkau. Comma didirikan oleh Rene Soehardono, Yoris Sebastian, Ario Pratomo, Dondi Hananto, Michael Tampi, dan Dodong Cahyono. Sehari-hari mereka punya pekerjaan sendiri-sendiri.

Ario bercerita, Comma didirikan sebagai coworking space komersial, yang menyewakan ruang kerja berbasis keanggotaan dengan biaya Rp 150.000 per bulan dan ruang kerja privat bertarif mulai Rp 3 juta per bulan. Kini, Comma juga menyewakan ruang bagi penyelenggaraan berbagai acara. Sejak berdiri, Comma menampung 700 anggota dari berbagai perusahaan. Sebagian besar perusahaan perintis di bidang digital dengan sedikit pegawai.

Demi memunculkan kegairahan bisnis rintisan di bidang digital, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk mendirikan Digital Innovation Lounge di 16 titik, tiga di antaranya menjadi pusat kreatif, yakni Jakarta Digital Valley, Bandung Digital Valley, dan Yogyakarta Digital Valley. Pusat kreatif itu menyediakan layanan coworking space bagi anak muda yang bergerak di bisnis rintisan digital yang dibina Telkom.

Jakarta Digital Valley belum menyediakan ruangan khusus bagi coworking space, tetapi mereka menyediakan ruangan untuk beragam acara meet up atau pertemuan. Pertemuan yang digelar di Jakarta Digital Valley terbuka bagi para pendiri bisnis rintisan, developer (programmer), dan desainer. Dari pertemuan itu, mereka bisa sama-sama membuat bisnis rintisan. Dari enam lantai di Bandung Digital Valley, dua lantai khusus digunakan untuk coworking space. Ruang-ruang di Yogyakarya Digital Valley juga telah dimanfaatkan sebagai tempat kerja bagi bisnis rintisan.

“Telkom sudah menetapkan visi sebagai The King of Digital. Jadi, harus mengubah cara kerja sesuai perilaku digital di masyarakat. Salah satunya adalah cara bekerja digital dengan kekuatan pada kolaborasi. Kalau kita membangun digital kolaborasi, enggak bicara waktu dan tempat lagi,” kata Executive General Manager Divisi Digital Service PT Telkom Indonesia Tbk Arief Musta’in.

Coworking space bermuara pada ruang yang mempertemukan para pekerja untuk menjalin jejaring bersama rekanan, yang bisa jadi nun jauh di luar negeri. Pada tata kerja semacam ini, waktu dan tempat bukan lagi jadi pertimbangan. Ruang telah bertumbuh menjadi semacam arena untuk menjalin jejaring.(MAWAR KUSUMA/SARIE FEBRIANE/SRI REJEKI)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Desember 2015, di halaman 1 dengan judul “Ruang yang Mempertemukan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: