Home / Berita / Kehadiran Pekerja di Kantor Tetap Dibutuhkan di Era ”Co-working Space”

Kehadiran Pekerja di Kantor Tetap Dibutuhkan di Era ”Co-working Space”

Meskipun sejumlah ruang kerja bersama atau co-working space mulai bermunculan, kehadiran pekerja di kantor tetap dibutuhkan. Tanpanya, eksistensi perusahaan dapat memudar.

Pada Minggu (21/1), di kawasan Senayan, Jakarta, anggota Dewan Penasihat International Facility Management Association (IFMA) sekaligus Chief Marketing Officer ISS World Services Peter Ankerstjerne memaparkan hasil riset terbaru yang dicetak pada Desember 2017 oleh ISS World Services. Tema penelitian yang dilakukan oleh ISS dan Copenhagen Institute for Future Studies berkaitan dengan tempat kerja masa depan. Berikut ulasannya.

Apa pentingnya pekerja datang ke kantor?

Kehadiran pekerja di kantor atau tempat kerja akan membentuk budaya organisasi perusahaan. Budaya organisasi ini terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan yang ada di kantor dari interaksi orang di dalamnya.

Identitas dan eksistensi perusahaan bergantung pada budaya organisasinya. Inilah yang membuat perusahaan itu dapat berdiri dalam waktu yang lama dan menciptakan keunikan pada perusahaan itu.

Tren seperti apa yang sedang berkembang terkait tempat kerja?

Kehadiran generasi milenial dalam perusahaan membuat suatu tren baru, yaitu bekerja di luar kantor. Generasi ini lebih memilih bekerja di kafe, rumah, atau tempat makan tertentu. Tren seperti ini juga memicu pertumbuhan co-working space atau ruang kerja bersama.

M PASCHALIA JUDITH J UNTUK KOMPAS–Anggota Dewan Direksi International Facility Management Association (IFMA) sekaligus Chief Marketing Officer ISS World Services Peter Ankerstjerne (kanan) dan Head of Key Account ISS Indonesia Faisal Muzakki (kiri) dalam pemaparan hasil riset terkait tren tempat kerja masa mendatang di Jakarta, Minggu (21/1).

Dengan tren seperti itu dan pentingnya kehadiran pekerja di kantor, seperti apa strategi yang seharusnya diambil perusahaan?

Perusahaan harus inovatif dan kreatif dalam mendesain tempat kerja atau kantornya. Langkah pertama ialah meleburkan dinding di kantor. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis.

Secara fisik, ruang kantor perlu didesain tanpa batas sehingga meningkatkan potensi interaksi antarpekerja. Caranya tak perlu membangun kantor baru, cukup manfaatkan ruang kerja yang jarang dipakai dan diubah menjadi ruang bersama untuk interaksi dan sosialisasi. Ini juga dapat memicu kolaborasi-kolaborasi gagasan untuk kemajuan perusahaan. Adapun secara psikologis, perbedaan jabatan di tempat kerja jangan sampai terlihat.

Secara psikologis, perbedaan jabatan di tempat kerja jangan sampai terlihat.

Artinya, apakah makna co-working space dapat diperluas sebagai suatu prinsip tempat kerja?

Benar. Co-working space tak hanya diterjemahkan secara fisik, tetapi suatu prinsip sebuah tempat kerja. Di era ini, tempat kerja seharusnya memiliki elemen sosial dan ruang seterbuka mungkin bagi pekerjanya untuk berinteraksi dan bersosialisasi. Contoh elemen sosial adalah pojok kopi atau tempat bermain yang sederhana.

Seperti apa indikator keberhasilan suatu tempat kerja sebagai wahana interaksi dan sosialisasi?

Setiap pekerja akan memiliki teman baiknya. Ini akan berdampak positif terhadap kenyamanan bekerja karena setiap karyawan perlu memiliki seseorang untuk berbagi cerita atau keluh kesah.

Bagaimana tempat kerja berperan dalam mempertahankan eksistensi perusahaan?

Tempat kerja membentuk budaya organisasi dalam perusahaan karena dapat menjadi magnet bagi kehadiran pekerja di kantor. Secara fisik, tempat kerja menjadi wadah interaksi dan sosialisasi langsung antarpekerja hingga berlanjut sampai keterikatan dengan perusahaan. Dari sinilah budaya organisasi menguat. Apabila perusahaan dapat mempertahankan budaya organisasinya dan dielaborasikan dengan visinya, eksistensinya dapat terjaga.

Dari riset kami, hanya 15 persen karyawan yang merasa terikat dengan perusahaannya. Padahal, roda perusahaan bergantung pada pekerjanya. Ini patut diwaspadai dan dapat diantisipasi dengan menghadirkan tempat kerja yang menerapkan konsep co-working space.

Selain itu, untuk mendapatkan pekerja milenial dengan talenta terbaik, perusahaan dapat menarik mereka dengan menunjukkan tempat kerja yang nyaman dan sesuai dengan ekspektasi.

Untuk mendapatkan pekerja milenial dengan talenta terbaik, perusahaan dapat menarik mereka dengan menunjukkan tempat kerja yang nyaman dan sesuai dengan ekspektasi.

Apa artinya bagi perusahaan jika pekerjanya nyaman di kantor?

Kantor yang nyaman akan meningkatkan kebahagiaan karyawan dalam bekerja. Kebahagiaan ini akan tecermin dalam produk yang dihasilkan atau layanan yang diberikan sehingga berdampak pada pertumbuhan perusahaan.

Sebaliknya, jika pekerja tidak nyaman dan tidak bahagia, dampaknya akan tidak baik bagi pertumbuhan perusahaan.

Seperti apa perbedaan pendekatan tempat kerja antara generasi X dan generasi Y?

Saya pernah mengunjungi suatu kantor yang bergerak di bidang teknologi di Amerika Serikat. Karyawan perusahaan ini berumur 18 sampai 24 tahun. Di dalamnya, ada area bermain pingpong, Play Station, dan seluncuran. Segalanya terbuka dan saling terhubung antar-ruang.

Berbeda dengan tempat kerja perbankan yang masih didominasi generasi X. Semakin tinggi jabatannya, semakin memiliki ruang tersendiri. Sulit menemukan keterbukaan di sana.

Berbeda dengan tempat kerja perbankan yang masih didominasi generasi X. Semakin tinggi jabatannya, semakin memiliki ruang tersendiri. Sulit menemukan keterbukaan di sana.

M PASCHALIA JUDITH J UNTUK KOMPAS–Anggota Dewan Direksi International Facility Management Association (IFMA) sekaligus Chief Marketing Officer ISS World Services Peter Ankerstjerne dalam pemaparan hasil riset terkait tren tempat kerja masa mendatang di Jakarta, Minggu (21/1).

Perusahaan apa yang paling sulit beradaptasi dengan konsep ruang kerja terbuka?

Perbankan. Belum banyak perbankan yang beradaptasi dengan ruang kerja yang menarik bagi generasi milenial. Padahal, teknologi finansial semakin berkembang. Artinya, perbankan memerlukan sumber daya manusia di bidang teknologi yang berekspektasi tempat kerjanya nyaman dan menerapkan prinsip co-working space.

Bagaimana pandangan Anda tentang tempat kerja masa depan?

Tempat kerja bukan lagi soal aktivitas, melainkan soal pengalaman yang bisa didapatkan oleh pekerja, terutama untuk mengefektifkan dan mengefisiensikan waktu pekerja. Ke depannya, tempat kerja akan memiliki layanan penatu bagi pekerja. Kalau bisa, pekerja dapat melakukan apa pun di kantornya.

Bagaimana menjaga fokus pekerja di kantor jika konsep ruang kerja bersama atau co-working space ini diterapkan?

Setiap pekerja memiliki kebutuhan fokusnya masing-masing. Karena itu, perusahaan harus membagi tempat kerjanya ke dalam zona tertutup dan zona terbuka. Zona tertutup ini diatur untuk menghadirkan ketenangan bagi pekerjanya dan potensi interaksinya minimal. Berbeda dengan zona terbuka yang menghadirkan wahana interaksi dan sosialisasi bagi pekerja.

Pengalaman apa yang menarik selama Anda berada di bidang pelayanan fasilitas manajemen di kantor?

Ketika mendengarkan cerita-cerita perusahaan di balik transformasi desain tempat kerja. Setiap perusahaan memperjuangkan nilai dan visinya masing-masing untuk menghadapi masa depan. Hampir semuanya berbeda-beda dan ini menarik bagi saya pribadi.

Mengapa Anda begitu berhasrat di dunia manajemen fasilitas perkantoran?

Saya berpikir, sebagian waktu kita sebagai karyawan didedikasikan untuk bekerja. Saya menyayangkan kalau waktu-waktu bekerja tidak menciptakan kebahagiaan pribadi bagi karyawan. Tempat kerja seharusnya menyenangkan. Pola pikir seperti ini ingin saya terapkan di dunia perusahaan sebagai sumbangsih saya untuk membuat dunia lebih baik.

Saya menyayangkan kalau waktu-waktu bekerja tidak menciptakan kebahagiaan pribadi bagi karyawan. Tempat kerja seharusnya menyenangkan.

Bagaimana pandangan Anda terkait tempat kerja yang mengedepankan semangat co-working space di Indonesia?

Perusahaan-perusahaan di Indonesia berpotensi menerapkan prinsip co-working space karena negara ini diprediksi akan menjadi salah satu pemain besar ekonomi dunia.

Head of Key Account ISS Indonesia Faisal Muzakki yang turut hadir dalam sesi wawancara menambahkan, potensi penerapan prinsip co-working space dalam kantor berkaitan erat dengan bonus demografi. Adanya bonus demografi menghadirkan tenaga-tenaga kerja muda yang perlu ”digaet” untuk hadir di kantor yang didesain menarik dan kreatif oleh perusahaan. (DD09)

Sumber: Kompas, 22 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: