Risiko Sinabung Dipetakan

- Editor

Kamis, 8 Januari 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aktivitas Magma Soputan Diwaspadai
Letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, belum bisa dipastikan kapan akan berakhir. Namun, risikonya sudah dipetakan sehingga penanganan pengungsi bisa dibuat permanen tanpa terlunta-lunta lagi.


”Kedatangan Presiden Joko Widodo mempercepat relokasi warga tiga desa (Sukameriah, Bekerah, dan Simacem) yang sebelumnya tertunda-tunda. Namun, masih ada ratusan warga lain yang belum jelas nasibnya,” kata Ketua Posko Pengungsi GBKP Pdt Agustinus Purba, Rabu (7/1), saat dihubungi dari Jakarta.

Menurut Agustinus, di poskonya ada 1.800 pengungsi. ”Mereka sudah boleh kembali, tetapi belum berani pulang. Mereka kesulitan secara ekonomi karena gagal panen terus akibat lahan tertutup abu,” katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, warga di empat desa (Guru Kinayan, Berastepu, Kutatonggal, dan Gamber) serta satu dusun (Sibintun) menunggu kepastian direlokasi atau tidak. ”Sambil menunggu keputusan pemerintah, sebaiknya pengungsi dibuatkan hunian sementara,” ujarnya.

Risiko bencana
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono mengatakan, dari aspek vulkanologi, letusan Sinabung tak bisa diprediksi berakhirnya. Ada kemungkinan letusan masih akan berlangsung karena akumulasi energinya besar, mengingat tak meletus 1.200 tahun terakhir.

Namun, dari aspek risiko bencana, ancaman letusan Sinabung sudah dipetakan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi-Badan Geologi telah membuat rekomendasi, antara lain larangan beraktivitas bagi masyarakat pada radius 3 kilometer dari puncak. Khusus arah selatan dan tenggara puncak—rekahan tempat terjadi aliran lava dan awan panas—aktivitas terlarang pada radius 5 km.

Selain rekomendasi agar warga Desa Sukameriah, Bekerah, dan Simacem direlokasi, untuk jangka panjang, permukiman pada radius 5 km tetapi terletak di rekahan atau bukaan kawah, yakni Desa Guru Kinayan, Berastepu, Gamber, dan Dusun Sibintun, juga harus direlokasi. Pengungsi yang ada di luar radius itu sebenarnya sudah bisa pulang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho memastikan Desa Sukameriah, Simacem, dan Bekerah akan direlokasi karena amat rentan terdampak letusan. Bahkan, Desa Sukameriah separuhnya hancur diterjang awan panas.

Relokasi akan dilakukan di hutan Siosar, 38 km dari desa asal. ”Targetnya 3-5 bulan ke depan 320 rumah terbangun beserta lahan pertanian dan fasilitas lain, seperti listrik, air bersih, dan sanitasi. Jadi, 370 keluarga bisa dipindahkan,” katanya.

Dari Manado, Sulawesi Utara, dilaporkan, aktivitas vulkanik Gunung Soputan di Minahasa Tenggara mulai menurun sejak Rabu (7/1). Meski demikian, gerakan flutuaktif magma Soputan patut diwaspadai.

Petugas pengamat Gunung Api Soputan di Desa Maliku, Sandy Manengkey dan Asep Syaifullah, mengatakan, penurunan aktivitas vulkanik tidak berarti Soputan berhenti erupsi. Alat pemantau gunung api masih merekam tremor di perut gunung.

”Artinya, alat ini masih merekam suplai energi dari dalam perut Soputan,” katanya. Sewaktu-waktu Soputan dapat meletus diikuti awan panas yang membahayakan manusia.

Jeane Tangian, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Minahasa Tenggara, mengatakan, pihaknya siap mengevakuasi jika Soputan erupsi. (AIK/ZAL/WSI)

Sumber: Kompas, 8 Januari 2015

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 10 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB