Erupsi Besar Sinabung Sebabkan Hujan Abu

- Editor

Senin, 3 April 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aktivitas Gunung Sinabung di Karo, Sumatera Utara, kembali meningkat, Rabu (2/8). Pada pukul 08.09-18.00, awan panas guguran terjadi 18 kali dengan jarak luncur hingga 4,5 kilometer ke arah tenggara-timur, mencapai area perladangan warga. Tidak ada korban karena warga yang berladang di zona merah sudah dievakuasi sejak pagi.

Awan panas dengan jarak luncur 4,5 km terakhir kali terjadi pada 21 Mei 2016. Ketika itu, sembilan warga yang sedang bertani di Desa Gamber tewas diterjang awan panas.

Letusan Sinabung juga membuat hujan abu vulkanis, antara lain, mengguyur Kecamatan Kabanjahe, Naman Teran, dan Simpang Empat. Sebagian anak sekolah dipulangkan untuk menghindari dampak letusan gunung. Warga memakai payung dan masker untuk menghindari paparan abu. Jalan, atap rumah, dan tanaman warga ditutupi abu vulkanis. Jarak pandang pengendara juga berkurang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung Armen Putra mengatakan, awan panas guguran disertai erupsi Gunung Sinabung pada Rabu termasuk pada skala yang besar. Sebagian kubah lava atau sumbat lava bervolume 2,2 juta meter kubik runtuh menjadi awan panas.

Komandan Tanggap Darurat Bencana Erupsi Gunung Sinabung Letnan Kolonel (Inf) Agustatius Sitepu mengatakan, pihaknya terus mengintensifkan penjagaan di pintu masuk ke zona merah. Portal buka tutup dipasang di beberapa jalan menuju zona merah. Selain itu, ada portal permanen yang dibuat di jalan menuju ladang warga.

Jarak aman
Kepala Badan Geologi Ego Syahrial menyatakan, erupsi kali ini termasuk yang paling kuat. “Sejauh ini, jangkauan letusannya masih di bawah radius aman yang kami rekomendasikan. Namun, jika terus ada indikasi peningkatan, radius zona aman akan ditinjau ulang,” katanya.

Sejak 2 Juni 2015, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PBMG) Badan Geologi merekomendasikan zona bahaya Sinabung berdasarkan jangkauan awan panas sejauh 3 km dari puncak. Sementara untuk sektor selatan-tenggara, zona bahaya mencapai jarak 7 km, sektor tenggara-timur 6 km, dan sektor utara-timur 4 km.

Selain menetapkan jarak aman dari awan panas, PBMG Badan Geologi juga mengingatkan adanya potensi banjir lahar mengingat telah terbentuk bendungan alam di hulu Sungai Laborus. Warga yang bermukim dan beraktivitas di sekitar daerah aliran sungai ini agar meningkatkan kewaspadaan karena bendungan sewaktu-waktu bisa jebol.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, masih terdaftar 7.214 jiwa atau 2.038 keluarga mengungsi di delapan pos pengungsian. “Namun, yang benar-benar tinggal di pos pengungsian hanya 2.863 jiwa,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta.

Sutopo mengimbau warga untuk terus waspada dan menaati rekomendasi zona bahaya karena aktivitas Gunung Sinabung masih sulit diprediksi.

Tenaga ahli kebencanaan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Surono, mengatakan, letusan Sinabung diprediksi masih lama. Apalagi, temuan dari tim gabungan geolog baru-baru ini menemukan kemungkinan dapur magma Sinabung tumbuh di atas dapur magma Toba purba. Ini menyebabkan suplai magma baru ke Sinabung terus terjadi.(NSA/AIK)
————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Agustus 2017, di halaman 12 dengan judul “Erupsi Besar Sebabkan Hujan Abu”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 15 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru