Home / Berita / Sinabung Mencari Keseimbangan

Sinabung Mencari Keseimbangan

Karakter Letusan Sulit Diprediksi
Kubah lava Gunung Sinabung di Sumatera Utara kembali terbentuk, Kamis (3/8), setelah sehari sebelumnya erupsi besar. Kondisi gunung yang meletus sejak 2010 ini dinilai masih berevolusi untuk mencari keseimbangan baru sehingga sulit diprediksi kapan erupsinya berakhir.

“Tahun 2013 kami menelaah sejumlah paper yang kemudian menjadi dasar rekomendasi saat itu bahwa letusan Gunung Sinabung masih akan lama. Paling kurang lima tahun sejak saat itu,” kata Surono, ahli gunung api yang juga mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), di Jakarta.

Kesimpulan itu disebabkan gunung tersebut masih berevolusi setelah tak meletus dalam kurun 1.000 tahun. Evolusi untuk mencari keseimbangan baru itu ditandai kenaikan aktivitas Gunung Sinabung yang cenderung amat lamban di periode awal letusan. “Dia tidak tiba-tiba meletus besar. Pelan tetapi pasti terus meningkat,” ujarnya.

Menurut Surono, pada tahun 2010, tipe letusan Sinabung cenderung freatik (didominasi uap air). Kemudian, akhir 2013 sampai April 2014, letusannya bersifat magmatis dan eksplosif. Itu terjadi setelah desakan magma mendobrak sumbat lavanya.

Kini, letusan Sinabung lebih ke efusif, yakni dominan aliran lava dari puncak. Tipe letusan itu mirip dengan Merapi, yaitu membentuk kubah lava lalu runtuh diikuti awan panas.

Kubah lava
Kemarin, kubah lava Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, terbentuk kembali yang ditandai ada gempa hibrid. Awan panas guguran, lava pijar, guguran material vulkanik berupa batuan, gas beracun, dan hujan abu pekat mengancam.

Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung Armen Putra mengatakan, belum ada tanda-tanda aktivitas vulkanis Gunung Sinabung akan berkurang dalam waktu dekat. “Suplai energi dari dapur magma menuju kawah gunung tinggi,” ujarnya.

Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung mencatat, kemarin, pukul 00.00-18.00, gempa frekuensi rendah terjadi 15 kali dengan amplitudo 3-7 milimeter. Itu menunjukkan ada suplai energi dan fluida dari dapur magma. Sementara gempa hibrid terjadi tiga kali dengan amplitudo 10-14 milimeter, menandakan kubah lava baru akan terbentuk lagi.

“Guguran awan panas pada Kamis (3/8) terjadi lebih dari 15 kali sehari. Letusan terakhir ini kian meyakinkan bahwa letusan Sinabung kemungkinan masih akan lama,” kata Surono yang kini menjadi tenaga ahli kebencanaan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat-PVMBG Hendra Gunawan menambahkan, hingga pukul 18.00, kemarin, terekam satu kali awan panas guguran dengan jarak luncuran 2 kilometer ke arah timur-tenggara. Itu kontras dengan sehari sebelumnya yang jangkauan awan panasnya 4,2 km dari puncak.

Karena aktivitas Sinabung masih tinggi, Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Karo Natanael Peranginangin menyatakan, pihaknya mengintensifkan penjagaan di pintu masuk menuju zona merah. Pintu masuk zona merah dijaga aparat dari Kodim 0205 Tanah Karo.

Namun, sejumlah warga tampak menerobos portal meski dijaga petugas. Warga masuk ke perladangan di sektor timur-tenggara, yakni Desa Kutatonggal dan Gamber, yang jadi jalur awan panas. Warga membuka portal lalu masuk dengan mengendarai mobil atau sepeda motor. Sebagian warga masuk dari jalan tikus di dekat portal.

Pengetahuan baru
Meski sulit diprediksi sampai kapan periode letusannya, Surono meyakini, Gunung Sinabung tak akan meletus sehebat Merapi di Yogyakarta tahun 2010 yang berskala indeks letusan gunung api 4 dari 8 skala VEI (volcanic explocity index).

Ahli geologi dari Museum Geologi-Badan Geologi, Indyo Pratomo, memaparkan, karakter letusan Sinabung sulit diprediksi karena data letusan sebelumnya amat terbatas. “Kita tak memiliki rekamannya karena letusan terakhirnya 1.000 tahun lalu. Sulit diprediksi bagaimana akhir dari erupsi gunung ini,” ujarnya.

Indyo menilai, kejadian di Sinabung ini merupakan pengetahuan baru bagi ilmu kegunungapian di Indonesia. Sebagai perbandingan, Gunung Pinatubo di Filipina meletus hebat pada 1991 setelah 500 tahun tidur.

“Baru kali ini terjadi di Indonesia, gunung yang sudah tidak meletus sangat lama, kembali aktif dan letusannya tak berhenti. Konsekuensinya, kita perlu memperhitungkan peristiwa sama bisa terjadi pada gunung api-gunung api lain yang selama ini dianggap tidur,” katanya.

Kompleksitas Gunung Sinabung bertambah karena lokasinya dekat Danau Toba yang merupakan kaldera raksasa tua. Riset terakhir yang dilakukan Indyo dan para geolog lain dari sejumlah negara menemukan adanya mineral zirkon (Zr) bersumber dari magma Toba berusia 74.000 tahun lalu dalam aliran lava Gunung Sinabung.

Temuan itu mengindikasikan ada suplai magma baru ke dalam dapur magma Sinabung. Injeksi itu menerobos bagian dapur magma Toba purba sehingga membawa mineral zirkon yang lalu keluar dalam aliran lava Gunung Sinabung. (AIK/NSA)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Agustus 2017, di halaman 14 dengan judul “Sinabung Mencari Keseimbangan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: