Home / Artikel / Gunung Sinabung; Bangun dari Tidur Panjang

Gunung Sinabung; Bangun dari Tidur Panjang

SETELAH tertidur ratusan tahun, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, meletus tahun 2010 dan berulang pada tahun 2013. Tiadanya ingatan nenek moyang masyarakat Karo tentang letusan gunung api membuat warga panik, tak siap menghadapi bencana.

Letusan Sinabung pada 2010 juga mengejutkan para ahli gunung api. Kategori Sinabung pun langsung berubah dari gunung api tipe B yang tidak pernah erupsi sejak tahun 1600 menjadi gunung api tipe A yang mengalami erupsi minimal sekali sejak 1600.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pun langsung menetapkan status letusan Sinabung saat itu pada tingkat tertinggi letusan gunung api, yaitu level IV atau Awas. Padahal, tingkat letusannya dibandingkan gunung api lain tidak terlalu besar, hanya menimbulkan hujan abu tipis.

”Warga panik semua karena tidak pernah mengalami letusan gunung api,” kata Kepala PVMBG Muhamad Hendrasto, Rabu (20/11). Data Kompas menyebut, jumlah pengungsi saat itu mencapai lebih dari 18.000 orang.

Medio September 2013, Sinabung meletus lagi. Skala letusannya pun sama seperti 2010. PVMBG hanya menetapkan status letusan pada level III (Siaga). Namun, jumlah pengungsi mencapai lebih 17.000 orang.

4662289hSejak saat itu, letusan Sinabung berfluktuasi. Meski tetap sulit ditebak, kekuatan letusannya cenderung meningkat. Kepanikan warga pun relatif turun sehingga jumlah pengungsi pada letusan awal November kemarin hanya sekitar 6.000 orang.

Hingga Selasa (19/11) malam, letusan terjadi beberapa kali dan bersifat eksplosif. Lapisan magma juga muncul di puncak gunung diikuti lontaran material pijar dan luncuran awan panas berjarak luncur hingga 1,5 kilometer (km). Adapun lontaran abu vulkanik mencapai ketinggian hingga 10 km.
Aktif

Dari gunung api yang tidur, kini Sinabung berubah aktif. Itu menandakan aktivitas magmatik di perut Bumi di sekitar Sinabung meningkat. Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Surono mengatakan, sumber energi mayoritas gunung api di Indonesia adalah aktivitas tektonik atau pergerakan lempeng Bumi.

Untuk gunung api di Sumatera, pergerakan lempeng yang berperan adalah subduksi lempeng Indo-Australia yang menghunjam lempeng Eurasia di barat Sumatera. ”Proses subduksi itulah yang menghasilkan magma dan energi letusan gunung api,” katanya.

Sebelum 2010, sebagian besar energi subduksi lempeng Bumi di barat Sumatera dimanfaatkan oleh sesar-sesar di dasar laut maupun di darat. Energi itu muncul dalam bentuk gempa. Inilah yang membuat pesisir barat Sumatera sejak dulu menjadi daerah langganan gempa.

Selama satu dekade terakhir, sejumlah gempa dahsyat mengguncang barat Sumatera, seperti gempa Aceh yang berkekuatan 9,1 skala Richter (SR) pada 2004, gempa Nias (8,2 SR, 2005), gempa Bengkulu (7,9 SR, 2007), gempa Padang (7,6 SR, 2009), dan gempa Simeulue, Aceh (8,8 SR, 2012).

Gempa-gempa itu membuat letusan Sinabung pada 2010 tak signifikan. Energi subduksi itu kini tak hanya dimanfaatkan oleh sesar, tetapi juga gunung api.
Letusan

Hendrasto mengatakan, sejak statusnya dinaikkan ke level III pada 3 November lalu, aktivitas Sinabung hingga kini masih tinggi. ”Letusan dapat terjadi sewaktu-waktu,” katanya.

Selain letusan, masyarakat harus berhadapan dengan kuatnya getaran akibat aktivitas kegempaan Sinabung. Menurut Surono, getaran letusan Sinabung pada 2010 bisa dirasakan di Brastagi yang berjarak lurus 12 km dari puncak Sinabung.

Getaran yang kuat itu dipicu tebalnya endapan letusan Sinabung purba. Endapan vulkanik berupa material urai, berbentuk seperti butiran pasir bukan gumpalan batu, membuat getaran diamplifikasi atau diperkuat sehingga getaran terasa lebih besar hingga jauh. Suara letusan Sinabung juga terdengar lebih kuat.

Magma Sinabung memiliki kandungan silika hingga 55 persen. Kondisi ini membuat magma mengandung banyak gas sehingga memiliki tekanan besar untuk menjebol penghalang gerak magma di puncak.
Mitigasi

Aktivitas Sinabung diperkirakan akan berlangsung lama. Kondisi ini, kata Hendrasto, membuat masyarakat harus banyak belajar dan bersabar dengan kondisi gunung itu.

Daerah dalam radius 3 km dari puncak Sinabung dan lembah yang berpotensi menjadi jalur aliran awan panas harus dikosongkan. Musim hujan yang terjadi saat ini membuat potensi banjir lahar dingin juga besar sehingga masyarakat di daerah aliran sungai yang berhulu di Sinabung perlu waspada.

Surono berharap warga cepat beradaptasi dengan kondisi yang ada, hidup harmonis di lingkungan gunung api yang telah memberikan kesuburan bagi lahan pertanian selama ini. Karena itu, warga yang tidak diminta mengungsi oleh pemerintah daerah tak perlu mengungsi.

Warga Sinabung dapat belajar dari masyarakat di sekitar Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta yang telah memiliki ketangguhan dalam menghadapi letusan gunung api.

Pemerintah Kabupaten Karo pun perlu berbenah dan proaktif dalam menghadapi bencana. Badan penanggulangan bencana daerah perlu segera dibentuk agar penanganan bencana lebih terkoordinasi dan efektif.

Oleh:  M Zaid Wahyudi

Sumber: Kompas, 21 November 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Vokasi Maju, Kita Maju

Yang jadi tulang punggung rencana besar menggapai kemajuan ini tak lain ialah anak-anak muda. Jika ...

%d blogger menyukai ini: