Riset Sosial; Fondasi Iptek untuk Revolusi Karakter

- Editor

Sabtu, 22 November 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Revolusi karakter bangsa, salah satu agenda Nawacita Presiden Joko Widodo, perlu diterjemahkan dalam bentuk program dan tahapan yang operasional dan terukur. Dewan Riset Nasional akan memberikan masukan yang tertuang dalam program 10 tahun pembangunan karakter bangsa atau Dasawarsa Otak Sehat Indonesia 2012-2022.

Dasawarsa Otak Sehat Indonesia dideklarasikan 21 Mei 2012 oleh Dewan Riset Nasional (DRN), Masyarakat Neurosains Indonesia (MNI), Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi), KKNI-Badan Pekerja Rumah Sakit Islam Jakarta (BP-RSIJ), Pusat Intelejensia Kesehatan Kementerian Kesehatan, dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. ”Sebagai bentuk operasional dari deklarasi ini dicanangkan Gerakan Otak Sehat,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Suhartono Taat Putra yang juga Ketua Komisi Teknis Kesehatan dan Obat DRN dalam Diskusi Kelompok Fokus Membangun Fondasi Iptek untuk Revolusi Karakter Bangsa, Kamis (20/11), di Jakarta.

Gerakan Otak Sehat bertujuan menghasilkan masyarakat unggul dan bermoral, mampu bersaing untuk maju dan mandiri. Potensi kekuatannya pada kebinekaan etnis, suku bangsa, agama, dan pengetahuan lokal dari interaksi dengan alam sekitar. ”Potensi tersebut perlu dikelola dengan baik agar tidak berkembang menjadi salah, seperti melahirkan primordialisme, rasa kesukuan yang sempit, bahkan potensi konflik horizontal,” urainya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk membangun karakter bangsa tidak hanya perlu kecukupan gizi intelektual dan informasi melalui pendidikan, tetapi juga pendidikan spiritual serta etika di lingkungan keluarga dan sekolah.

”Hasil diskusi para pakar di DRN akan disampaikan kepada pemerintahan baru sebagai salah satu masukan bagi agenda nasional revolusi karakter bangsa, terutama yang terkait dengan peningkatan kualitas SDM dan penguasaan iptek nasional,” kata Sekretaris DRN Iding Chaidir.

Menurut Iding, sesuai namanya, DRN semestinya memberikan masukan kebijakan yang berskala nasional kepada Presiden. Selanjutnya, kebijakan itu ditindaklanjuti semua kementerian terkait dan juga pemerintah daerah.

Selama ini DRN di bawah Kemenristek sehingga Agenda Riset Nasional yang disusun DRN tak menjangkau kementerian lain. (YUN)

Sumber: Kompas, 22 November 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 9 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB