Stroke; Waspadai Kolesterol Tinggi

- Editor

Rabu, 2 Maret 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tingginya kadar kolesterol jahat bisa memicu serangan stroke. Untuk itu, kadar kolesterol perlu dikendalikan dengan pola hidup sehat, termasuk membatasi konsumsi makanan berlemak.

Sekitar 70 persen kasus stroke disebabkan hipertensi dan 30 persen serangan stroke karena kadar kolesterol jahat (low density lipoprotein) tinggi. Pengendalian LDL untuk menekan risiko penyumbatan pembuluh darah pemicu stroke dislipidemia.

Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan, stroke jadi penyebab kematian dan kecacatan utama di hampir semua rumah sakit di Indonesia. Prevalensi stroke naik dari 2007 sebesar 8,3 per 1.000 penduduk menjadi 12,1 per 1.000 orang pada 2013.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dokter spesialis saraf yang juga Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Mursyid Bustami menjelaskan, warga kerap mengabaikan pentingnya pengendalian faktor risiko stroke. Sebagian orang belum menyadari kadar kolesterol jahat yang tinggi bisa memicu stroke. Kolesterol bisa menyumbat dan menggumpal serta mempersempit aliran darah di pembuluh darah.

“Tingginya LDL dalam darah bisa memicu aterosklerosis, pembuluh darah menyempit akibat menempelnya lemak di dinding pembuluh darah sehingga mengganggu aliran darah ke otak,” kata Mursyid, dalam temu media, Selasa (1/3), di Jakarta.

Untuk itu, perlu deteksi dini faktor risiko stroke, antara lain pemeriksaan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Stroke iskemik (transient ischemic attack) menjadi gejala stroke bersifat sementara selama kurang dari 24 jam dan terjadi 5-15 menit serta tak memicu kerusakan saraf secara permanen. “Penyumbatan pembuluh darah bisa di mana saja. Jika kena batang otak, akibatnya bisa fatal. Jadi, lebih baik periksa ke dokter untuk mendeteksi ada faktor risiko stroke,” katanya.

Kadar kolesterol bisa diturunkan dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti membatasi makan berlemak, mengontrol berat badan, berhenti merokok, dan rutin berolahraga. Jika target penurunan kolesterol belum tercapai, konsumsi obat statin jadi pilihan intervensi kadar kolesterol jahat untuk mengurangi plak lemak di pembuluh darah.

Dokter spesialis saraf Rumah Sakit Siloam Karawaci, Rocksy Fransisca Situmeang, menambahkan, statin bisa dikonsumsi pasien stroke berulang. Lalu, kadar kolesterol dipantau demi mencegah stroke berulang. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), pada sejumlah kasus, efek samping statin terjadi dalam tiga minggu. (C07)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Maret 2016, di halaman 14 dengan judul “Waspadai Kolesterol Tinggi”.

Informasi terkait

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Berita ini 23 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB