Riset Aplikatif Tantangan Serius

- Editor

Sabtu, 26 Februari 2011

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masyarakat butuh inovasi teknologi untuk menunjang efisiensi dan daya saing produk, serta meningkatkan lapangan kerja dan pendapatan berkelanjutan. Itu tantangan serius perguruan tinggi untuk mendorong riset aplikatif.

”Aplikasi riset perguruan tinggi secara umum belum bisa dipakai secara massal. Ini tantangan serius ke depan,” kata Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta Prasetyantoko, Jumat (25/2), dalam penyelenggaraan Atma Jaya Award untuk kegiatan riset.

Sebanyak 16 hasil riset dipaparkan, meliputi 9 riset sosial dan 7 riset eksakta. Atma Jaya Award merupakan penghargaan tahunan bagi para periset, yang terdiri atas dosen di perguruan tinggi itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Prasetyantoko, kegiatan riset LPPM ditujukan untuk pencapaian dua hal, yaitu menunjang dunia akademika dengan target diterima di berbagai jurnal ilmiah internasional. Pencapaian lainnya, hasil riset bisa mencapai tahap aplikasi teknis.

Beberapa penelitian yang dipaparkan antara lain ”Pengembangan Multiple Aptitude

Batteries-Tes Intelegensi” oleh Christiany Suwartono, Hoshael W Erlan, dan Lyli Puspa Palupi dari Fakultas Psikologi. Menurut Christiany, riset itu untuk meningkatkan kemutakhiran tes intelegensia siswa SMA sehingga diketahui potensi penjurusan siswa di bidang eksakta atau sosial.

Paparan riset aplikatif ”Rancang Bangun Prototipe Alat Pencacah Sampah Organik”, Rancang Bangun Prototipe Alat Cuci Piring”, dan ”Rancang Bangun Prototipe Alat Pembuat Es” disampaikan Harjadi Gunawan dan kawan-kawan dari Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik.

Menurut Harjadi, prototipe alat pencacah sampah organik dirancang untuk kapasitas 15 kilogram per jam. Alat ini mempercepat proses pengomposan sampah organik.

Prototipe alat pembuat es dirancang untuk kapasitas 70 kilogram per hari. Secara spesifik dihasilkan es batu higienis untuk minuman di kantin.

Harjadi juga menyampaikan hasil riset prototipe alat pencuci piring. Penggunaan alat ini untuk menunjang standar Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) untuk pencucian piring yang higienis.

Pencucian piring dengan alat itu menggunakan uap hingga 85 derajat celsius. Pencucian dengan air dingin masih memungkinkan timbulnya bakteri.

Menurut Prasetyantoko, kerja sama dengan berbagai pihak untuk aplikasi riset-riset aplikatif mutlak ditempuh. Untuk itu digandeng pihak lain. (NAW)

Sumber: Kompas, 26 Februari 2011

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 11 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB