Perkuat Daya Saing Bangsa

- Editor

Sabtu, 12 Maret 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden: Arahkan Riset untuk Kepentingan Masyarakat
Peran perguruan tinggi sangat menentukan kualitas sumber daya manusia untuk memenangi kompetisi pada era persaingan global. Selain memperbaiki mutu pendidikan, perguruan tinggi juga diharapkan menghasilkan riset yang mendukung penguatan daya saing bangsa.

Presiden Joko Widodo meminta perguruan tinggi lebih banyak menghasilkan riset yang menjawab tantangan bangsa. “Jika kebutuhan masyarakat lebih banyak mengenai persoalan pangan, sebaiknya riset perguruan tinggi fokus ke arah sana,” kata Presiden saat hadir pada acara sidang senat terbuka Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (11/3).

Pada acara yang digelar dalam rangka Lustrum Ke-8 UNS itu, Presiden meminta sivitas akademika UNS memperkuat inovasi dan daya saing. Adapun riset yang perlu dikembangkan terkait dengan tema-tema strategis yang saat ini menjadi perhatian serius. Tidak hanya untuk keperluan penelitinya sendiri, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat. “Arahnya harus untuk kepentingan masyarakat dan harus bisa dipakai pasar industri, manufaktur, pertanian, dan perikanan,” kata Presiden.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Presiden berpendapat, untuk memenangi pertarungan global, saat ini kuncinya fokus pada sektor energi dan pangan. Sejalan pertambahan penduduk dunia, dua sektor itu mau tidak mau menjadi persoalan bagi banyak negara. Pada posisi itu, Indonesia harus mampu menyiapkan solusi jangka panjang sehingga tidak sampai kalah bersaing.

Meski persaingan antarbangsa makin ketat pada dua sektor itu, Presiden menyampaikan, Indonesia mempunyai dua potensi tersebut. Hanya saja, pengelolaan dua sektor itu masih perlu perbaikan terus-menerus. Karena itu, perlu sebuah strategi besar menyangkut ekonomi, politik global, dan pemikiran ke depan dalam hitungan 50 tahun, 100 tahun, bahkan jika perlu sampai 1.000 tahun ke depan.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir merespons positif pidato Presiden. Sejalan dengan seruan Presiden, pihaknya telah memediasi enam hasil riset perguruan tinggi terkemuka dengan sektor industri. Enam hasil riset tersebut berasal dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Hasanuddin.

Menurut rencana, tahun 2016 ini pemerintah menargetkan dapat memediasi 19 hasil riset perguruan tinggi dengan sektor industri. Walau jumlahnya belum signifikan, pemerintah mulai serius memikirkan hal ini. Selama ini, peran mediator pemerintah dengan swasta belum pernah digarap serius. Ini salah satu persoalan yang mengganjal karena belum adanya lembaga khusus yang menaruh perhatian pada persoalan itu. Untuk menggali potensi itu, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi membentuk Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi.

Rektor UNS Prof Dr Ravik Karsidi MS menegaskan komitmennya untuk berpartisipasi dalam dinamika peradaban kenegaraan, kebangsaan, dan global. UNS menaruh perhatian serius pada masalah ekonomi kerakyatan. Masalah tersebut, menurut Ravik, kerap terabaikan dengan menganggapnya sebagai katup pengaman saja.

Fakta empiris menyebutkan, sering kali setiap krisis ekonomi diiringi pemutusan hubungan kerja, yang kemudian melahirkan sektor informal di banyak tempat tanpa badan hukum. Meski sudah banyak program untuk hal itu, Ravik melihat belum ada sinergi program antarlembaga.

Dana riset di PTS
Sementara itu, sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS) di Jakarta terbantu alokasi dana riset oleh Kemristek dan Dikti. Namun, mekanisme pertanggungjawaban penggunaan dana riset yang masih berbasis proses dinilai membebani proses penelitian.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) Universitas Pancasila Dewi Tri Rahayu mengatakan, sebelum memasuki tahun ajaran baru, pihak fakultas telah menyiapkan rancangan penelitian pada tahun berjalan. Tahun ini, 23 proposal penelitian yang diajukan Universitas Pancasila telah disetujui. Sebanyak 25 proposal lainnya masih dalam proses penilaian. Total dana yang akan diterima oleh pihak universitas berkisar Rp 1,5 miliar-Rp 1,7 miliar. “Dana tersebut cukup untuk menyelesaikan masing-masing penelitian selama 10 bulan,” kata Dewi, Jumat.

Adapun Ketua LPPM Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta Clara Ajisuksmo mengatakan, pihaknya rutin melakukan asistensi kepada para dosen untuk menyiapkan proposal penelitian agar sesuai keinginan Kemristek dan Dikti.

Tahun ini, Universitas Atma Jaya mengajukan 11 judul proposal untuk mendapatkan dana hibah dengan nilai Rp 1,8 miliar. Sebanyak delapan judul telah disetujui dan tiga judul masih dalam proses penilaian. (NDY/C06)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Maret 2016, di halaman 12 dengan judul “Perkuat Daya Saing Bangsa”.

Informasi terkait

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Berita ini 25 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB