Home / Berita / Perguruan Tinggi Belum Dukung Daya Saing Bangsa

Perguruan Tinggi Belum Dukung Daya Saing Bangsa

Perguruan tinggi di Indonesia belum berkontribusi optimal dalam mendongkrak daya saing bangsa di tingkat global. Di negara maju, perguruan tinggi mendukung daya saing bangsa dalam penyediaan pendidikan akademik dan vokasi, sains dan teknologi, serta riset yang berkualitas.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir dalam acara bertajuk ”World Class Research Toward University & Research Institute” yang digelar Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, di Jakarta, Senin (14/5/2018), mengatakan, daya saing Indonesia berdasarkan World Economic Forum masih di urutan 37 dari 137 negara, meningkat dari tahun sebelumnya yang ada di urutan ke-41.

Dalam hal peran perguruan tinggi, Indonesia masih kalah dari negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Menristek dan Dikti Mohamad Nasir menyoroti kondisi perguruan tinggi Indonesia yang belum mendukung daya saing bangsa.

Nasir menyebutkan, Indonesia rendah dalam capaian pendidikan tinggi dan pelatihan/vokasi. Indonesia punya 4.579 perguruan tinggi, sedangkan China yang punya penduduk sekitar 1,4 miliar orang punya sekitar 2.800 perguruan tinggi.

Nasir menguraikan, perbedaan yang mencolok ini bukan hanya di kuantitas. China punya 28 perguruan tinggi yang masuk world class university. Bahkan, yang di bawah peringkat seratus top dunia ada delapan PT. Bandingkan dengan Indonesia, hanya punya tiga PT yang masuk world class university. Itu pun di urutan di atas 200-400 top dunia.

Vokasi dan pengangguran
Negara yang maju, ujar Nasir, juga kuat dalam pendidikan vokasi. Kondisi Indonesia justru lulusan pendidikan vokasi menyumbang angka pengangguran akibat menghasilkan sumber daya manusia yang tidak sesuai kebutuhan industri.

Nasir menambahkan, perguruan tinggi juga belum mendukung daya saing bangsa di bidang sains dan teknologi.

Perguruan tinggi di Indonesia sebagian besar didominasi ilmu sosial dan humaniora serta akademik dengan komposisi hingga 75 persen. Sebaliknya, di China, program ilmu sains dan teknologi sekitar 70 persen. Pendidikan vokasi mencapai lebih dari 60 persen. ”Padahal, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, butuh ilmu sains dan teknologi serta vokasi yang kuat,” ujar Nasir.

Kelemahan lain dari perguruan tinggi Indonesia, lanjut Nasir, belum kuat dalam riset dan pengembangan. Beragam faktor yang membuat riset di perguruan tinggi belum mendukung daya saing bangsa antara lain adalah anggaran riset yang terbatas serta riset yang belum terkait dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.

”Riset yang dikembangkan masih dalam kesiapan teknologi yang dasar atau rendah. Belum banyak riset di perguruan tinggi yang bisa ditingkatkan ke terapan dan inovasi,” tutur Nasir.

Menurut Nasir, tantangan yang muncul saat memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung daya saing bangsa harus diatasi. Berbagai kebijakan yang merangsang perguruan tinggi meningkatkan mutu terus dirancang dan didukung.

Nasir menambahkan peningkatan mutu didorong dengan menyiapkan lebih banyak perguruan tinggi Indonesia yang masuk world class university. Pada 2019, Nasir menargetkan lima perguruan tinggi. ”Selain UI, ITB, dan UGM yang sudah masuk 500 top dunia, target kami Universitas Airlangga dan Institut Pertanian Bogor,” katanya.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Mekanik menguji motor listrik GESITS di Teaching Industry Pusat Unggulan IPTEK-Sistem dan Kontrol Otomotif (PUI-SKO) Instittut Teknologi Sepuluh Nopember yang baru diresmikan oleh Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi Muhammad Nasir di Surabaya, Jumat (15/12). Teaching Industry dibuat salah satunya untuk mendukung pengembangan tenaga kerja untuk sepeda motor listrik.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemristek dan Dikti Muhammad Dimyati mengatakan, dalam pengembangan riset dan inovasi berkelas dunia, kolaborasi dengan peneliti dari perguruan tinggi luar negeri yang berkualitas terus didorong. ”Penelitian jangan lagi hanya dari keinginan peneliti, tetapi mesti berkolaborasi dengan industri dan memahami kebutuhan pasar,” kata Dimyati.

Perguruan tinggi/lembaga litbang, kata Dimyati, harus melakukan riset dengan mengacu rencana induk riset nasional hingga tahun 2045. Ada 10 bidang riset yang ditetapkan mencakup pangan dan pertanian, kesehatan dan obat-obaan, teknologi informasi dan komunikasi, transportasi, advance material, pertahanan, energi terbarukan, kemaritiman, manajemen kebencanaan, serta sosial humaniora, budaya, dan edukasi. (ELN)–ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas, 15 Mei 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: