Home / Berita / Riset Agar Melibatkan Tarik Pinta dari Akar Rumput

Riset Agar Melibatkan Tarik Pinta dari Akar Rumput

Pemerintah daerah merupakan katalisator inovasi yang penting apabila bisa diajak bermitra dan berkolaborasi dengan dewan riset. Hal ini memungkinkan terciptanya riset dasar dan inovasi berdasarkan permasalahan di akar rumput hingga skala nasional yang bisa diselaraskan dengan kebutuhan industri besar, kecil, dan menengah.

“Riset dan inovasi memang baik jika menargetkan pada level nasional dan global, akan tetapi jangan melupakan akar rumput. Melalui UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) bisa diperoleh berbagai kerja sama yang membuahkan inovasi,” kata Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Sumatera Selatan Fachrurrozie Sjarkowi pada seminar “Membangun Sumber Daya Manusia Inovatif Menuju Industri 4.0” di Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi di Jakarta, Kamis (4/7/2019).

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Ketua Dewan Riset Nasional periode 2015-2019 Bambang Setiadi menyampaikan fokus DRN dalam memastikan tercapainya komersialisasi inovasi melalui Agenda Riset Nasional dalam acara pelantikan ANggota DRN periode 2019-2022 di Jakarta, Kamis (4/7/2019).

Ia mencontohkan strategi yang dilakukan di Sumatera Selatan melalui pemastian DRD selalu berada di sisi pemerintah daerah dalam setiap tahap pengambilan kebijakan. Hal ini guna memastikan agenda riset daerah selalu masuk ke dalam rencana pembangunan daerah. Di dalam penerapannya, perguruan-perguruan tinggi turut serta untuk memetakan kebutuhan industri lokal maupun mendengarkan permintaan dari UMKM apabila dibutuhkan sehingga muncul inovasi berdasarkan tarik pinta (supply and demand).

Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah mengolah hasil panen kelapa menjadi lebih dari sekadar menjual buah dan santannya. Inovasi dengan DRD antara lain memproduksi santan kelapa kemasan dan minyak kelapa berstandar industri yang semua dilakukan berbasis UMKM.

“Selain itu, dari proses panen kelapa hingga membawanya ke pasar ada tahap-tahap pengangkutan, penyimpanan, dan pengelolaan yang bisa dicari inovasinya agar dapat menambah pendapatan daerah,” tutur Fachrurrozie yang juga merupakan Rektor Universitas Musirawas.

Ia menjelaskan, faktor kepemimpinan gubernur dan bupati/wali kota memang menentukan berjalannya inovasi daerah. Akan tetapi, bukan berarti jika mendapat kepala daerah yang tidak paham mengenai riset dan inovasi otomatis DRD akan terhenti. Justru, tugas DRD adalah melakukan advokasi kepada pemda agar mereka senantiasa mengerti pentingnya inovasi untuk kemajuan daerah.

Dalam seminar itu juga dibahas mengenai contoh inovasi daerah berupa sosial dan sains seperti mitigasi bencana. Inovasi berbasis akar rumput ini dimulai dengan membangun kesadaran masyarakat mengenai bahaya bencana alam maupun bencana buatan manusia sehingga mengubah gaya hidup mereka menjadi lebih ramah lingkungan dan mengambil langkah-langkah mitigasi seperti memastikan wilayah rawan bencana setidaknya memiliki sokongan ekosistem yang baik.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir melantik 63 orang Anggota Dewan Riset Nasional periode 2019-2022 di Jakarta, Jumat (4/7/2019).

Dewan Riset Nasional
Dalam kesempatan tersebut, Menristek dan Dikti Mohamad Nasir melantik anggota Dewan Riset Nasional periode 2019-2022. Sebanyak 63 pakar dari perguruan tinggi, kementerian/lembaga, dan lembaga-lembaga penelitian independen dipilih serta dibagi ke dalam sembilan komisi teknis, yaitu pangan dan pertanian; energi; teknologi, informasi, dan komunikasi; transportasi dan maritim; pertahanan dan keamanan; kesehatan dan obat; material maju; sosial, humaniora, pendidikan, seni, dan budaya; serta lingkungan dan kebencanaan.

Nasir menjelaskan, DRN bertindak sebagai koordinator riset terapan dan inovasi bagi lembaga-lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Tujuannya agar riset tidak saling tumpang tindih. Adapun untuk riset-riset dasar yang murni demi pengembangan keilmuan tetap dilakukan, akan tetapi khusus untuk riset terapan dan inovasi harus berdasar sistem tarik pinta agar manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.

“DRN bekerja di level pembuatan purwarupa dan menganalisa riset-riset yang segera bisa dikomersialkan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemristek dan DIkti Muhammad Dimyati mengungkapkan sudah ada 43 produk riset dan inovasi yang menjadi fokus untuk lima tahun ke depan, pemilihannya berdasarkan kemitraan dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Fokus riset ini akan digarap secara terintegrasi dengan melibatkan berbagai peneliti dari beragam lembaga.

“Targetnya, Indonesia bisa punya merek yang mendunia. Misalnya Korea Selatan yang memiliki Samsung sebagai industri sekaligus lembaga riset,” ucapnya.–LARASWATI ARIADNE ANWAR

Editor YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 5 Juli 2019

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: