Reformulasi Gerakan Mahasiswa di Era Disrupsi Diperlukan

- Editor

Senin, 20 Mei 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa perlu merumuskan ulang atau mereformulasi model gerakannya di era disrupsi agar gerakan yang berjalan saat ini tetap bisa adaptif terhadap perubahan dan tantangan bangsa ke depan.

Rektor Institut Pertanian Bogor Arif Satria dalam keterangan pers, Minggu (19/5/2019), menyampaikan, mahasiswa tetap berperan dalam mengawal transisi demokrasi bangsa, terutama di tengah demokrasi Indonesia yang masih dalam tahap prosedural. Masih banyak nilai dan perilaku dalam berdemokrasi yang perlu disempurnakan agar demokrasi di Tanah Air bisa lebih matang.

KOMPAS/ EDDY HASBY–Ilustrasi. Mahasiswa se-Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi mendatangi Gedung MPR/DPR, Mei 1998, menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden Soeharto. Di era disruptif saat ini, gerakan mahasiswa masih diperlukan namun harus lebih adaptif dan kompetitif untuk mendukung persaingan bangsa di tingkat global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Hal ini yang membedakan peran mahasiswa di negara maju dan negara berkembang. Sistem demokrasi di negara maju sudah mapan dan masyarakatnya sudah matang sehingga peran gerakan mahasiswa dalam pengawalan demokrasi tidak terlalu dituntut,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam Kongres Kebangkitan Mahasiswa Indonesia di Bogor, Sabtu.

KOMPAS/DANU KUSWORO–Rektor IPB Arif Satria

Sebaliknya, Arif menambahkan, di negara berkembang yang kondisi masyarakatnya relatif berpendidikan rendah, gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral masih sangat dibutuhkan untuk mengawal proses demokrasi. Caranya bisa melalui pendampingan masyarakat, advokasi, dan kontrol sosial untuk mencapai tujuan dalam berbangsa dan bernegara.

Dalam peran itulah idealisme dan independensi mahasiswa menjadi sangat penting. Sikap tersebut dinilai menjadi modal pokok yang melandasi gerakan mahasiswa agar tidak mudah terpengaruh berbagai kelompok kepentingan, khususnya dalam menghadapi dinamika politik saat ini.

Diperkuat
Arif mengatakan, peran mahasiswa pada era disrupsi juga perlu diperkuat dalam menghadai kondisi yang diisi dengan VUCA, yaitu volatilitas (volatility) atau mudah berubah, ketidakpastian (uncertainty), komplesitas (complexity), dan keambiguan (ambiguity). Volatilitas yang terjadi banyak dipicu oleh perkembangan teknologi 4.0 seperti IOT, big data, kecerdasan buatan, serta robotik yang membawa perubahan kehidupan begitu cepat.

Menurut Arif, perubahan iklim dan dinamika geopolitik global juga telah memicu timbulnya ketidakpastian dalam kehidupan masyarakat. Persoalan yang dihadapi juga semakin kompleks sehingga mahasiswa dituntut harus berpikir secara komprehensif.

Perubahan yang terjadi juga semakin asing yang menyebabkan situasi ambigu. “Untuk itu, para pemimpin mahasiswa harus berorientasi masa depan dengan mempertimbangkan VUCA tersebut,” kata Arif.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Tim 5 Institut Teknologi Sepuluh Nopember bersama mobil mereka, Antasena, usai memenangi juara dua Drivers World Championship Shell Eco-Marathon Asia 2019 di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia, Kamis.

Arif menambahkan, setidaknya ada lima kompetensi utama gerakan mahassiwa yang diperlukan untuk menghadapi tantangan masa depan tersebut. Kompetensi itu adalah pemecahan masalah yang kompleks (complex-problem solving), berpikir kritis (critical thinking), kreatif (creativity), komunikatif (communication), dan kolaborasi (collaboration).

Era disrupsi saat ini menuntut mahasiswa menjadi pembelajar yang tangkas (powerful agile learner) agar tidak terus terjebak pada masa lalu. Mahasiswa harus mampu menemukan masa depan.

“Kongres kebangkitan mahasiswa Indonesia saat ini perlu dipikirkan bagaimana reformulasi dan revitalisasi model gerakan mahasiswa Indonesia agar gerakan mahasiswa adaptif terhadap perubahan dan tantangan bangsa ke depan,” kata Arif.–DEONISIA ARLINTA

Editor PASCAL S BIN SAJU

Sumber: Kompas, 19 Mei 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru