Home / Berita / Ratusan Spesies Ikan Prioritas Dilindungi

Ratusan Spesies Ikan Prioritas Dilindungi

Ratusan jenis ikan di Indonesia memiliki prioritas untuk dilindungi. Beberapa kelompok ikan tersebut, seperti hiu dan pari, yang melimpah tetapi juga dimanfaatkan sebagian masyarakat pesisir.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO—Perairan Morotai di Maluku Utara masih memiliki kesehatan ekosistem terumbu karang yang baik. Ini ditunjukkan dengan kehadiran ikan hiu sirip hitam (black tip) dalam penyelaman di beberapa titik selam setempat. Kamis (13/9/2018), sekelompok ikan hiu sirip hitam menyambut penyelam di perairan Pulau Mitita, sekitar 40 menit dari Daruba, ibu kota Kabupaten Morotai.

Dari ribuan spesies ikan di Indonesia, terdapat ratusan spesies yang terancam punah karena berbagai faktor. Sejumlah spesies ikan terancam punah tersebut menjadi prioritas untuk dilindungi. Upaya itu membutuhkan sejumlah kebijakan dan rencana aksi agar bisa diimplementasikan.

Berdasarkan data Fishbase tahun 2019, terdapat 34.200 spesies ikan di dunia dan 4.700 lebih spesies atau 13,9 persen di antaranya terdapat di Indonesia. Namun, dari jumlah tersebut, tercatat 167 jenis spesies ikan yang ada di Indonesia juga terancam punah.

Dari daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), terdapat 308 spesies biota perairan yang perlu dilindungi. Prioritas perlindungan didominasi spesies dari laut sebanyak 146 spesies. Prioritas kedua adalah spesies yang berhabitat di air tawar dengan 89 spesies disusul yang berhabitat di danau dengan 73 spesies.

KOMPAS/LASTI KURNIA—Rangkaian domus hippocampi yang menyerupai terowongan nantinya tidak hanya menjadi media tumbuh terumbu karang, tetapi juga menjadi rumah bagi ikan dan biota laut lainnya di perairan Pulau Bangka, Sulawesi Selatan, Minggu (25/11/2018).

Dari kajian yang dilakukan kelompok kerja, terdapat dua arahan perlindungan, yakni perlindungan penuh dan terbatas bagi 308 spesies ikan terancam punah tersebut. Sebanyak 120 spesies masuk arahan perlindungan penuh dan 188 spesies lainnya masuk perlindungan terbatas.

”Terdapat 52 spesies yang sudah memiliki status perlindungan penuh dan empat spesies berstatus perlindungan terbatas. Status ini sebagian telah diatur dalam peraturan menteri dan perundang-udangan serta perlindungan internasional,” ujar Kepala Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Atit Kanti dalam webinar bertajuk ”Konservasi Ikan Terancam Punah di Indonesia,” Selasa (14/7/2020).

Ia menjelaskan, sejumlah penyebab kepunahan biota perairan, antara lain, karena konversi di perairan ataupun pesisir laut dan eksploitasi. Selain itu, disebutnya, perubahan iklim dan polusi juga berkontribusi pada kepunahan spesies ikan.

Hiu dan pari
Direktur Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program Noviar Andayani mengatakan, pihaknya memprioritaskan program perlindungan spesies hiu dan pari. Prioritas ini ditetapkan karena Indonesia merupakan pusat keanekaragaman hiu dan pari di dunia. Dari 1.250 spesies hiu dan pari yang ada di dunia, sejumlah 218 spesies di antaranya terdapat di Indonesia.

Prioritas lain perlindungan ini ialah karena di Indonesia terjadi eksploitasi hiu dan pari secara berlebih. Bahkan, Indonesia menjadi negara produsen hiu terbesar di dunia. Dalam laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) 2017, sekitar 120.000 ton hiu dan pari dari Indonesia dijadikan konsumsi ataupun produk domestik setiap tahunnya.

”Mengingat hiu dan pari masih menjadi sumber protein hewani dan penghidupan bagi masyarakat pesisir atau nelayan, kami merancang program konservasi dengan dua pendekatan. Pertama dengan perlindungan dan kedua merancang strategi pemanfaatan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Salah satu upaya tersebut yakni melakukan metode asam deoksiribonukleat (DNA) atau genetika forensik untuk identifikasi spesies dilindungi dalam monitoring perdagangan hiu dan pari. Metode ini dinilai cukup membantu mengingat bentuk hiu yang secara morfologi sulit diidentifikasi.

”Produk hiu dan pari yang dimanfaatkan dan diperdagangkan di Indonesia beraneka ragam, seperti sirip kering, sirip olahan, daging segar, daging beku, tulang, kulit, dan hati. Ini menjadi tantangan tersendiri untuk memantau perdagangan hiu dan pari,” tuturnya.

INFOGRAFIS WILDLIFE CONSERVATION SOCIETY (WCS)—Leaflet Wildlife Conservation Society (WCS) terkait perkembangan jenis hiu dilindungi di Indonesia.

Di samping upaya berbentuk riset, dilakukan juga pengembangan sumber ekonomi alternatif bagi masyarakat pesisir dan nelayan untuk mengurangi ketergantungan terhadap olahan perikanan hiu dan pari. Mereka dilatih untuk mengolah dan memasarkan produk perikanan seperti abon, kerupuk ikan, dan terasi.

Selain WCS, Yayasan AlamIndonesia Lestari (Lini) juga turut melakukan konservasi spesies ikan capungan banggai yang merupakan spesies endemik di perairan Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Direktur Pelaksana LINI Gayatri Reksodihardjo mengatakan, sejak tahun 1994, ikan ini telah menjadi target spesies untuk akuarium.

Spesies ikan ini semakin populer sejak 1997 dengan tangkapan mencapai 700.000 ekor per tahun. Pada 2007 mulai diusulkan untuk diatur dalam apendiks II CITES dan baru pada 2018 ditetapkan sebagai ikan yang dilindungi terbatas berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 49 Tahun 2018.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN—Ikan cepungan banggai

Sama halnya dengan hiu dan pari, ikan capungan banggai juga mengalami eksploitasi. Populasi ikan ini semakin menurun tajam karena terumbu karang dan lamun sebagai habitatnya kian rusak oleh cara penangkapan melalui metode peledak atau racun.

Spesies prioritas
Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Andi Rusandi menjelaskan, terdapat lebih dari 6.000 jenis fauna perairan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 4.700 lebih merupakan jenis ikan bersirip, sejumlah 651 jenis ekinodermata (bintang laut dan teripang), 754 jenis krustasea (udang dan kepiting), serta 527 jenis karang.

Sementara dalam rencana strategis KKP periode 2020-2024, ditetapkan 20 jenis atau kelompok ikan yang merupakan biota perairan terancam punah agar menjadi prioritas untuk dilindungi, dilestarikan, dan dimanfaatkan. Jenis ikan prioritas itu di antaranya hiu dan pari dalam apendiks CITES, hiu paus, penyu, karang hias, napoleon, sidat, duyung, paus, lumba-lumba, teripang, arwana, kuda laut, hingga belida.

Menurut Andi, dalam melakukan konservasi, KKP berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan. Dalam peraturan itu disebutkan tiga jenis konservasi, yakni ekosistem, genetik, dan jenis.

Peraturan itu pada intinya dibuat sebagai dasar untuk melindungi jenis ikan terancam punah, mempertahankan keanekaragaman jenis ikan, dan memanfaatkan sumber daya ikan secara berkelanjutan. Selain itu, peraturan tersebut juga untuk memastikan pemeliharaan keseimbangan ekosistem.

” Kami melakukan efektivitas pengelolaan jenis dengan tiga level, yaitu perunggu, perak, dan emas. Level perunggu itu spesiesnya baru terdapat data dan informasi. Level perak tersedianya dokumen rencana pengelolaan. Level emas ada implementasi, sosialisasi, hingga manfaat ekonomi,” ujarnya.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 14 Juli 2020

Share
x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: