Home / Berita / Hiu dan Masa Depan Perairan Morotai

Hiu dan Masa Depan Perairan Morotai

Ancaman gelombang tinggi akibat sapuan ekor badai Makhut di perairan Halmahera bagian Utara di Maluku Utara, Kamis (13/9/2018) lalu sempat mengendurkan niat semangat para penyelam yang ingin menengok bawah laut Pulau Morotai. Sejak malam, ombak telah membuih yang menandakan gelombang tinggi di perairan.

Asril Djunaidi, sang instruktur tak bisa menjamin perairan berlangsung “nyaman”. “Kita berangkat sepagi mungkin, biasanya cuaca baik,” kata dia.

Kompas dan rombongan tim USAID Project SEA pun berangkat pagi meski molor dua jam dari jadwal yang disepakati. Untunglah cuaca hari itu sangat baik, titik penyelaman ini dicapai sekitar 40 menit dari pelabuhan di Daruba, ibukota Kabupaten Pulau Morotai.

Penyelaman hari itu direncanakan di Shark Point, dekat Pulau Mitita. Karena itu, penyelaman bersama hiu itu harus “dikondisikan” agar hiu tertarik mendekat ke penyelam. Diantaranya dengan membawa insang dan beberapa potong daging ikan cakalang sebagai penarik minat si hiu.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Perairan Morotai di Maluku Utara masih memiliki kesehatan ekosistem terumbu karang yang baik. Ini ditunjukkan dengan kehadiran ikan hiu sirip hitam (black tip) dalam penyelaman di beberapa titik selamnya. Seperti Kamis (13/9/2018) sekelompok ikan hiu sirip hitam menyambut penyelam di perairan Pulau Mitita, sekitar 40 menit dari Daruba (Ibukota Kabupaten Morotai).

Hanya sayang, saat itu, tim tidak bisa turun semua karena satu dari empat tabung selam ternyata pad abagian valve berbeda spec. Asril memutuskan tidak turun dan menugaskan asistennya, Sam untuk menggantikannya. Dia memilih untuk menemani rombongan lain yang snorkeling menikmati bawah laut dari permukaan.

Sam kemudian membawa Kompas dan Adiprayogo, pemenang lomba foto Proyek SEA segera menuju ke kedalaman 19 meter menuju area berpasir. Hiu-hiu jenis sirip hitam (blacktip) yang memiliki indera penciuman tajam segera bereaksi dengan aroma ikan segar di dalam kantong keresek yang dibawa Sam.

Satu per satu potongan insang maupun daging ikan cakalang dikeluarkan dari dalam keresek. Ikan hiu itu pun penasaran mendekat dan mengelilingi penyelam. Tak kurang 13 hiu sirip hitam berkeliling penasaran dan bersaing dengan rombongan ikan kuwe/bubara dan ikan kelelawar yang meramaikan perairan tersebut.

ICHWAN SUSANTO–Menyelam bersama ikan telah menjadi daya tarik tersendiri bagi penggemar panorama bawah laut, imej hiu sebagai ikan ganas menjadikan penyelaman bersama hiu sebagai kegiatan ektrem. Kompas bersama sejumlah penyelam diajak menikmati sensasi penyelaman bersama hiu di sekitar pulau mitita, dekat pulau morotai yang awalya dikenal sebagai tempat penyelaman bangkai pesawat peninggalan perang dunia kedua.

Penyelaman yang cukup memuaskan hari itu. Setidaknya, pertemuan dengan hiu itu menjadi indikator perairan sekitar situ masih cukup baik meski tutupan karang hanya di sekitaran rata-rata 25 persen. Hiu sebagai predator tertinggi masih eksis di perairan tersebut sebagai penyeimbang ekosistem.

Pulau Mitita serta beberapa titik penyelaman bersama hiu menjadi primadona dan ikon bawah laut Morotai yang selama ini dikenal sebagai penyelaman bangkai (wreck diving) peninggalan Perang Dunia Kedua. Itu menjadikan Morotai special dan punya nilai jual wisata yang tinggi.

Pengalaman beberapa negara yang menjadikan penyelaman bersama hiu sebagai daya tarik, menurut data Sharkdiving Indonesia, menunjukkan pundi-pundi yang menjanjikan. Ditaksir, nilai ekonomi wisata selam untuk per ekor hiu di Indonesia mencapai 8.518 dollar AS. Angka ini bisa dikembangkan lebih tinggi karena di Fiji, wisata selam per ekor hiu bisa mencapai 4.455.000 dollar AS.

Dengan potensi yang sedemikian tinggi, perairan sekeliling Mitita diusulkan menjadi Kawasan Konservasi Perairan Daerah. Dari Mitita hingga ke utara pulau-pulau di utara seperti Kokoya, Kolorai, Dodola, Sumsum, hingga Ngele-ngele Besar diusulkan menjadi satu kesatuan KKPD Pulau Rao yang telah eksis sejak 2012. Pada waktu itu, sebagian kecil pantai di Pulau Rao ditetapkan menjadi KKPD Pulau Rao untuk melindungi tempat peneluran penyu sisik dan penyu hijau.

Seperti perairan Mitita, perairan di pulau-pulau tersebut juga memiliki nilai dan fungsi ekosistem yang sangat tinggi. Menurut Laporan Wildlife Conservation Society Indonesia Program (Profil Ekosistem Terumbu Karang di Kawasan Konservasi Perairan Daerah Maluku Utara, 2017), lokasi-lokasi ini memiliki keragaman hayati ikan karang yang tinggi serta memiliki tutupan karang keras yang baik.

Pengelolaan melalui perlindungan pada beberapa titik diharapkan dapat menjadi “bank ikan” yang memasok larva ikan di perairan sekitarnya. “Kami tidak hendak melarang masyarakat mengambil ikan, tetapi kita atur bersama-sama sehingga ikan selalu tersedia untuk ditangkap nelayan,” kata Asril Djunaidi yang juga Regional Technical Director, Project SEA.

“KKPD Pulau Rao plus-plus” ini nantinya diharapkan memperkuat fungsi ekologis perairan ini. Apalagi rekomendasinya, bentuk KKPD itu nantinya “hanya” taman wisata laut karena di tempat ini telah menjadi lokasi wisata dan memiliki tumbuhan/satwa langka yang sedikit.

Dengan kata lain, di kawasan ini nantinya dikembangkan sebagai tujuan pariwisata dan masyarakat tetap bisa menangkap di zona-zona yang akan disepakati pemerintah dan masyarakat.

Darwin (60), nelayan di Kolorai, Morotai, mendukung upaya ini. Menurutnya, perairan Morotai butuh dijauhkan dari penangkapan tak ramah lingkungan seperti penggunaan bom, sianida, dan kompresor.

Ia mengaku perikanan setempat sudah jauh menurun dibanding puluhan tahun lalu saat dirinya remaja. Pada waktu itu, ia bisa menangkap ikan berukuran besar hanya di perairan-perairan dekat dengan menggunakan perahu dayung. Kini, ia harus menggunakan perahu bermesin untuk menangkap lebih jauh agar bisa menangkap ikan berukuran besar.

“Saya saja sudah begini, lalu anak-cucu saya nanti mau makan apa kalau ikan semakin jauh,” kata dia.

Harapan Darwin agar perairan setempat bisa pulih ini diharapkan terjawab melalui rencana perluasan KKPD tersebut. Ini pun seiring langkah pusat yang telah menetapkan Morotai sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata bersama Tanjung Kalayang (Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), dan Mandalika (Lombok Tengah NTB).

Namun, rencana ini bukan tanpa tantangan. Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Pulau Morotai Suryani mengatakan saat ini nelayan setempat hanya menjadi penonton beroperasinya kapal-kapal penangkap ikan berukuran besar dari luar Morotai yang izinnya diterbitkan pusat. “Sumberdaya kami diambil dan kami hanya dapat ampasnya,” kata dia.

Belum lagi, ancaman tambang yang juga masih mengintai Morotai hingga kini. Seperti halnya permasalahan di berbagai kabupaten yang memiliki laut, UU Pemerintahan Daerah yang menarik kewenangan pengawasan dari kabupaten ke provinsi, meninggalkan permasalahan.

Bila pilihan tumpuan masa depan serius ditaruh pada pariwisata dan perikanan berkelanjutan, tentunya eksploitasi sumber daya alam tak bisa bersanding dengan keduanya. Pengalaman tambang di Pulau Bangka di Sulawesi Utara dan beberapa daerah di Raja Ampat Papua Barat sudah membuktikan hal itu.

Karena, tentu saja, hiu-hiu di Mitita itu bisa hidup dan menjadi atraksi pariwisata bila memiliki ekosistem sehat dengan perairan yang bersih.(ICHWAN SUSANTO)–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 30 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: