Home / Sosok / Rachmat Badruddin; Bangkitkan Teh Tanah Air

Rachmat Badruddin; Bangkitkan Teh Tanah Air

Tanyakan kepada Rachmat Badruddin tentang teh, dan ia akan menjawab tanpa perlu membolak-balik buku. Rachmat masih aktif bekerja di kebun. Ketua Umum Dewan Teh Indonesia ini gigih berjuang demi kebangkitan teh Tanah Air.

Pemilik PT KBP Chakra dengan luasan perkebunan lebih dari 3.500 hektar ini membuktikan kemampuan mengelola perkebunan teh yang sehat. Kemampuan ini diperlukan di tengah kondisi perkebunan teh Nusantara yang merugi, dan 85 persen dari total 12.000 ton produksi tehnya dijual ke luar negeri, terutama ke Eropa. Perusahaannya mengantongi sertifikat Ethical Tea Partnership hingga Rainforest Alliance.

Rachmat mampu menjadikan PT KBP Chakra sebagai pionir yang memproduksi teh premium dengan bibit khusus. Dia juga menerapkan proses pemetikan khusus dengan memilih pucuk teh dan beberapa daun pilihan saja. Ia pun melakukan pengolahan khusus, menjadikan produksinya bukan barang massal pabrikan.

Hasilnya, sebagian besar produksinya adalah teh hijau yang antara lain dijual ke Maroko untuk morrocan mint tea. White tea alias teh putihnya dijual ke Twinings Inggris dengan nama Chakra Silver Tips. Chakra juga mengekspor bahan baku teh lipton yang dijual di Eropa dan pada kemasannya tertulis: sencha Indonesia.

Kiat dalam mengelola bisnis cukup sederhana. Perkebunan teh harus memproduksi teh kualitas terbaik dan menjual dengan harga bersaing. Sejak tahun 2000, perusahaan menetapkan standar kualitas internasional. Pabrik tak mencemari lingkungan dan berkomitmen membayar pegawai dengan upah tinggi. Tingginya upah akan menggenjot produktivitas kerja. ”Indonesia terkenal murah pegawai, tapi nyatanya mahal karena produktivitas rendah,” ujar Rachmat.

Kelangsungan hidup perkebunan teh sangat bergantung pada pemetik teh. PT Kabepe Chakra mempekerjakan 4.200 pegawai di perkebunannya yang tersebar di beberapa lokasi di Jawa Barat hingga Bengkulu. Di anak perusahaan Chakra, Kebun Teh Negara Kanaan, Ciwidey, Jawa Barat, seluruh pemetik mendapatkan jatah bedeng yang dilengkapi listrik, poliklinik, hingga sekolah.

”Saya ingat kata-kata Mother Teresa: Lebih banyak orang yang kelaparan untuk mendapat apresiasi dibandingkan orang yang lapar makanan. Saya menghargai orang dengan hati,” ujar Rachmat.

Matinya petani teh
Rachmat mengungkapkan keresahannya karena pasar teh Indonesia dibanjiri teh asing. ”Jika tak agresif, pemain lokal enggak bisa mengimbangi kepopuleran mereka,” ujarnya.

Teh produksi asing akan semakin membanjir karena bea impor teh di Indonesia sangat rendah, hanya 5 persen. Bandingkan dengan bea impor tinggi yang dipatok negara lain, seperti Sri Lanka yang mematok bea 25 persen, bahkan Turki menetapkan bea impor 140 persen. Ironisnya, mayoritas dari total impor teh Indonesia sebesar 25.000 ton per tahun adalah teh curah kualitas rendah.

Pekerjaan rumah bagi bangkitnya teh Indonesia semakin menumpuk. Dari total produksi 130.000 ton teh per tahun, hanya 75.000 ton yang diekspor. Itu pun dalam bentuk teh curah tanpa label produksi Indonesia—kurang dari 1 persen dari angka ekspor yang sudah dalam wujud teh berlabel. Bandingkan dengan Sri Lanka yang 40 persen ekspornya dikirim dalam wujud kemasan. Petani teh dalam negeri semakin sulit bersaing karena anjloknya harga teh akibat kelebihan pasokan teh dunia. Produksi terus turun, tanaman teh mati, dan pemetik teh memilih beralih profesi.

Sebagai negara produsen teh, posisi Indonesia saat ini semakin melorot dari sebelumnya nomor lima dunia menjadi nomor tujuh. Sejak tahun 2000, produksi nasional terus turun seiring penyusutan kebun teh pada angka yang sangat mengkhawatirkan, 30.000 hektar dalam satu dekade terakhir. Kondisi semakin memburuk karena upah pekerja naik 10 persen per tahun, padahal harga jual turun.

Dari total 130.000 hektar luasan kebun teh, 57.000 hektar atau 47 persennya adalah perkebunan rakyat. Dengan rata-rata kepemilikan hanya 0,7 hektar per petani, kebun teh rakyat sulit berkembang dan hanya memberikan kontribusi 23 persen pada produksi teh. ”Karena lemah teknologi, permodalan, dan pemasaran. Kalau terjadi apa-apa pada teh rakyat, teh Indonesia bakal tumbang. Di dunia, 70 persennya adalah kebun rakyat dan memasok 60 persen kebutuhan teh dunia,” ujar Rachmat.

Penyelamatan teh
Untuk memperkuat posisi tawar petani teh, Dewan Teh mendorong petani bergabung dalam sistem kluster dan membangun koperasi. Dengan minimal 300 hektar kebun, petani teh sudah bisa membentuk badan usaha milik petani sebelum membangun holding (perusahaan induk) dengan skala lebih dari 50.000 hektar sehingga petani kuat dan sejahtera.

Pemerintah perlu membuat regulasi tentang kualitas pucuk teh sehingga teh kualitas buruk tidak beredar di pasaran.

”Kepengurusan Dewan Teh yang sekarang, rambutnya sudah putih semua. Kami ingin menutup bab terakhir kami dengan mengembalikan kejayaan teh Indonesia,” ujar Rachmat.

Rachmat masih melihat kesempatan mengisi kebutuhan pasar lokal yang sangat besar. Saat ini, angka konsumsi teh Indonesia hanya 0,3 kilogram per kapita per tahun. Bandingkan dengan Sri Lanka dengan angka konsumsi 1 kilogram per kapita per tahun atau Inggris dengan 2 kilogram per kapita.

Jika angka konsumsi per kapita bisa naik menjadi 500 gram per kapita per tahun saja, seluruh produksi teh nasional bisa terserap di dalam negeri. ”Ini kesempatan yang sangat baik mengisi pasar lokal. Kesempatan ini akan sirna jika teh asing lebih berkiprah mengisi pasar lokal. Teh Indonesia berpotensi mempunyai rasa dan kualitas premium kalau dipelihara dengan baik,” tambahnya.

Kecintaan Rachmat pada teh lokal dibangun sejak kecil. Ayahandanya membeli Perkebunan Teh Dewata seluas 600 hektar pada tahun 1956 dari pengusaha Belanda dengan kondisi kebun yang memprihatinkan. Di tangan Rachmat, perkebunan berkembang ke lima lokasi berbeda, empat di antaranya dibangun bermitra dengan petani teh. ”Teh itu kecil tapi cantik,” kata Rachmat.

1bf18d4973664ad09bed3980fe43400cKOMPAS/MAWAR KUSUMA WULAN
RACHMAT BADRUDDIN

LAHIR
Bandung, 22 Juni 1941.
PENDIDIKAN
Akademi Tekstil Bandung, 1965.
PEKERJAAN
Presiden Direktur PT Chakra (Perkebunan Teh, Pabrik Teh Hitam dan Hijau) (1990-sekarang)
Presiden Direktur PT Ratnapura Bianka (Perkebunan Teh)
Presiden Direktur PT HK Waringin (Perkebunan Teh)
Presiden Direktur PT Kabepe Chakra (Trading Company)
ORGANISASI
Ketua Umum Asosiasi Teh Indonesia (2010-sekarang)
Ketua Umum Dewan Teh Indonesia (1994-2003)
Ketua Umum Koperasi Pengolah Teh Hijau Indonesia (1993-1998)
Wakil Ketua Kompartemen Perkebunan dan Kehutanan, Kadin Indonesia (1998-2003)
Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (1994-1999)

MAWAR KUSUMA
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Juli 2015, di halaman 16 dengan judul “Bangkitkan Teh Tanah Air”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Prof Soemantri, Ahli Darah Penjunjung Nilai Kemanusiaan Itu, Berpulang

Salah satu inisiasi Soemantri adalah memberi pelayanan transfusi darah bagi anak penderita talasemia dan hemofilia ...

%d blogger menyukai ini: