Hutan Terancam Perluasan Kebun

- Editor

Jumat, 28 Oktober 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Isu Pertanian Berkelanjutan Tak Dianggap Penting
Deforestasi pada kawasan hutan akibat perluasan perkebunan kelapa sawit diperkirakan masih terjadi. Riset terbaru Universitas Indonesia menunjukkan ekstensifikasi lahan masih menjadi pilihan mudah bagi pekebun skala kecil untilk meningkatkan hasil panennya.

Penelitian Lembaga Riset Perubahan Iklim (RCCC) Universitas Indonesia itu dilakukan pada 1.350 pekebun kelapa sawit yang mengelola 2-8 hektar di 96 desa di Kabupaten Pelalawan, Kampar, Siak (Riau), Musi Banyuasin, dan Ogan Komering Ilir (Sumatera Selatan). Dua provinsi ini menyumbang 47,5 persen produksi sawit perkebunan rakyat Indonesia (Kementerian Pertanian 2014). Total 10,7 juta ton minyak sawit mentah (CPO) nasional berasal dari Riau (3,7 juta ton) dan Sumsel (1,1 juta ton) serta serta provinsi lain.

”Bagi petani kecil, sustainability itu tidak panting,” kata Sonny Mumbunan, Kepala Tim Peneliti Studi Ekonomi Pekebun Kecil Lembaga Penelitian Perubahan Iklim (RCCC) UI, dalam peluncuran hasil studi ini, Kamis (27/10), di Jakarta. Contohnya, isu yang selama ini dinilai penting, seperti legalitas lahan dan penggunaan kawasan hutan untuk perkebunan, tak menjadi pemikiran petani kecil. Dua faktor itu diperlukan dalam skema sertifikasi keberlanjutan kebun sawit yang disyaratkan beberapa
pabrik kelapa sawit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Petani kecil masih berkutat pada isu pragmatis, seperti ketersediaan pupuk, kekeringan panjang, dan penurunan harga tandan buah segar. Survei itu juga menemukan pekebun kelapa sawit memandang ekstensifikasi atau perluasan lahan sebagai cara utama meningkatkan panen. ”Keinginan ekstensifikasi kebun sawit besar, ketergantungan pada kebun sawit tinggi,” ujarnya.

Padahal, peningkatan panen bisa didapatkan melalui penerapan prinsip keberlanjutan, seperti penggunaan bibit yang tepat, pemakaian penyubur tanah yang efisien, dan penggunaan lahan resmi (legal atau bersertifikat). Itu mendorong produktivitas tanpa memperluas lahan yang menggerus area hutan. Jadi, petani kecil secara terorganisasi bisa bekerja sama dengan pabrik kelapa sawit yang memberi harga ”premium” bagi tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan secara berkelanjutan.

Joko Priadi, Chief Manager Smallholder PT Hindoli Cargill, mengatakan, harga TBS dari sumber lahan legal atau bersertifikat Rp 500-Rp700 per kilogram lebih mahal dibanding TBS dari sumber tak jelas. Selain itu, kepastian harga lebih terjamin daripada TBS dijual ke tengkulak.

Minim informasi
Dian Maya, Kepala Departemen Transformasi dan Lingkungan, Serikat Petani Kelapa Sawit, mengatakan, petani kecil manganggap isu keberlanjutan tak penting karena minim informasi manfaat penerapan prinsip berkelanjutan. ”Seharusnya perusahaan dan pemerintah daerah memberi informasi penting ini ke petani,” ucapnya.

Menurut Sonny Mumbunan pekebun kecil membutuhkan bukti dan pendampinganuntuk melihat manfaat ekonomi praktik berkelanjutan. Karena itu, berbagai program atau kegiatan pemerintah dan perusahaan perlu menjawab isu penting versi petani kecil.

Hasil riset menunjukkan, hanya 1 dari 3 pekebun kecil mau menerima kompensasi untuk tidak membuka lahan baru, termasuk hutan. Itu menunjukkan ketergantungan petani kecil amat tinggi dari sektor kelapa sawit.

Dalam survei itu, para petani kecil rata-rata mengharapkan kompensasi Rp 116 juta per hektar. Bahkan, ada petani yang meminta kompensasi miliaran rupiah per hektar karena lahan mengandung batubara. (ICH)

Sumber: Kompas, 28 Oktober 2016

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 25 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB