Program Riset Ditata Ulang

- Editor

Kamis, 25 Januari 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Program riset iptek di Indonesia perlu ditata ulang. Hal ini mengacu pada ketersediaan anggaran yang terbatas dan pemenuhan kebutuhan industri serta untuk mendukung program utama nasional. Kegiatan riset yang akan dilaksanakan ini telah tertuang dalam Rencana Induk Riset Nasional.

Riset tak hanya untuk menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga harus dapat memberi manfaat bagi industri. Program riset iptek tidak hanya yang bersifat kompetitif yang akan melibatkan sekitar 18.000 peneliti untuk menghasilkan karya ilmiah yang akan masuk jurnal internasional, tetapi diperlukan juga riset yang bersifat penugasan dengan tema riset yang telah ditentukan.

”Melalui Riset Penugasan ini dapat mempercepat dan memperjelas tahapan proses hilirisasi ke industri,” kata Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Dimyati di Jakarta, Rabu (17/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Program Riset Penugasan bersifat topdown atau ditetapkan seperti Program Riset Unggulan Strategis Nasional yang pernah dilaksanakan pada periode lalu. Tahun ini, Riset Penugasan mulai dengan tiga fokus iptek, yaitu pangan, kesehatan, dan energi. ”Pemilihan tiga dari 10 fokus iptek karena kendala anggaran pemerintah,” ujar Dimyati.

Dalam pelaksanaan Riset Penugasan, Kemristek dan Dikti telah meninjau capaian yang dihasilkan lembaga riset dan perguruan tinggi. Pemilihannya didasarkan pada hasil riset yang ”matang” dan menonjol.

Dari tiga bidang fokus itu, ada beberapa tema riset yang ditetapkan. Untuk bidang kesehatan dipilih sel punca (stem cell). Risetnya akan dilaksanakan konsorsium lembaga riset yang dipimpin Universitas Indonesia. Untuk bidang energi dipilih mobil listrik yang dikoordinasi ITS. Sementara riset pangan strategis di bawah koordinasi Universitas Gadjah Mada. Dana yang dialokasikan untuk setiap tema riset Rp 100 miliar-Rp 200 miliar.

Kontribusi industri
Secara terpisah, Dirjen Penguatan Inovasi Kemristek dan Dikti Jumain Appe mengatakan, kontribusi sektor industri menurun. Karena itu, pihaknya mendorong inovasi industri. Industri mesti diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produk inovasi.

Jumain menilai PDB Indonesia sebagian besar didukung oleh konsumsi dalam negeri. ”Jadi, pertumbuhan ekonomi kita bisa mencapai 4 persen karena konsumsi meningkat akibat jumlah penduduknya yang banyak. Jika ini dibiarkan, kita akan berada di level ekonomi yang menengah terus. Kita akan terjebak pada middle income (negara berpendapatan menengah),” katanya.

Karena itu, Indonesia harus meningkatkan produksi. Salah satunya dengan meningkatkan jumlah wirausaha baru. Itulah yang dilakukan Kemristek dan Dikti dengan program insentif bagi perusahaan pemula berbasis teknologi. Saat ini jumlah teknopreneur atau pengusaha di Indonesia di bawah 1 persen dari jumlah penduduk, sementara di negera maju 5 persen dari jumlah penduduk. (YUN)

Sumber: Kompas, 19 Januari 2018

Informasi terkait

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB