Home / Artikel / Perang 48 Tahun Melawan Wereng Coklat

Perang 48 Tahun Melawan Wereng Coklat

Wereng coklat menjadi topik menarik di media pada 2017 dan tiga hari berturut-turut Kompas menyajikan artikel tentang hama ini (21-23 Juli). Wereng coklat pertama kali tercatat menjadi hama penting padi pada 1969 dan sejak itu selalu menjadi hama penting.

Peningkatan luas serangan mulai terjadi pada 1974, mencapai puncaknya tahun 1978, dengan luas serangan sekitar 750.000 hektar. Sejak itu, setiap tahun selalu ditemukan serangan, tetapi sebagian besar tahun tidak pernah mencapai lebih dari 50.000 hektar (BBPOPT, 2010).

Ada tiga kebijakan pemerintah yang sangat mendukung dalam pengendalian wereng coklat sejak luas serangan sangat tinggi dari pertengahan 1970 hingga pertengahan 1980. Pertama, pelepasan berbagai varietas unggul tahan wereng (VUTW). VUTW merupakan teknologi pengendalian yang efektif, praktis, dan tidak ada atau sangat minim pengaruhnya terhadap lingkungan.

Dalam waktu singkat, VUTW diadopsi secara luas karena produksi yang tinggi dan waktu panen lebih pendek ketimbang varietas lokal non-VUTW saat itu.

Kedua, penerbitan Inpres No 3 Tahun 1986 tentang Peningkatan Pengendalian Hama Wereng Coklat pada Tanaman Padi. Inpres berisi di antaranya instruksi penerapan sistem pengendalian hama terpadu (PHT), pelarangan 57 jenis (nama merek dagang) insektisida untuk digunakan pada pertanaman padi, serta peningkatan keterampilan petugas pertanian dan petani. PHT menggabungkan berbagai teknologi pengendalian agar populasi atau serangan hama turun sampai tidak menyebabkan kerugian ekonomis dan secara ekologis aman.

Teknologi pengendalian wereng coklat tak boleh mengandalkan satu teknologi saja, misalnya VUTW atau insektisida, karena wereng ini akan mampu mengatasi dengan membentuk biotipe atau populasi yang tahan. Program nasional PHT dilaksanakan mulai 1989 untuk peningkatan keterampilan petugas pertanian dan petani dalam melaksanakan PHT.

Jenis insektisida dilarang karena mendorong terjadinya resurjensi dan resistensi. Resurjensi adalah kejadian di mana populasi wereng coklat meningkat lebih tinggi pada petak yang disemprot dengan insektisida dibandingkan yang tak disemprot. Pelarangan berarti mengurangi risiko peningkatan populasi wereng coklat.

Ketiga, penghilangan subsidi pestisida yang menyebabkan harga pestisida yang dibayar oleh pengguna semakin mahal dengan harapan penggunaan pestisida menurun. Ketiga kebijakan pemerintah tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga luas serangan wereng coklat rendah.

Kondisi 2011 dan 2017
Serangan wereng coklat pada 2011 meningkat sampai sekitar 220.000 hektar (BBPOPT, 2012) dan kemudian menurun di tahun-tahun berikutnya. Pada 2017 serangan cenderung meningkat dan telah terjadi di sejumlah sentra padi. Peningkatan intensitas serangan dirasakan sejak 2016.

Di lapangan, petani sudah banyak yang mengalami kegagalan panen atau paling tidak hasil panen sangat menurun dua musim terakhir. Di samping kerusakan langsung pada batang padi, wereng coklat juga vektor virus penyebab kerdil rumput (tidak menghasilkan malai) dan kerdil hampa (bulir tidak berisi).

Peningkatan populasi dan luas serangan wereng coklat dapat disebabkan satu atau kombinasi dari tiga faktor berikut: kemampuan biotik, tata cara budidaya, dan kondisi iklim. Satu betina wereng coklat dapat menghasilkan 200 butir lebih telur dan satu siklus kehidupan wereng coklat hanya butuh sekitar satu bulan. Dalam satu musim tanaman padi, wereng coklat dapat mencapai tiga generasi.

Tidak mengagetkan kalau populasi wereng coklat dapat meningkat dengan cepat dalam waktu singkat. Ketersediaan padi secara terus-menerus sangat kondusif bagi wereng coklat karena padi merupakan inang utama. Penggunaan pestisida yang tidak sesuai PHT dan diaplikasikan secara tidak benar justru bisa mendorong peningkatan populasi wereng coklat karena matinya musuh alami, peningkatan keperidian (perkembangbiakan), dan ketahanan wereng coklat terhadap insektisida.

Insektisida yang terdaftar untuk pengendalian wereng coklat saat ini sangat banyak mereknya, tetapi jenis bahan aktif relatif sedikit. Hal ini dapat menyebabkan pengulangan bahan aktif yang sama meskipun merek yang digunakan berbeda. Akibat yang sering muncul adalah wereng coklat menjadi resisten. Iklim memengaruhi perkembangan populasi wereng coklat. Kelembaban tinggi (hujan panas) merupakan kondisi terbaik. Meskipun iklim berkontribusi, tata cara budidaya tetap menjadi faktor penentu.

Mencegah peningkatan serangan
Untuk kepentingan jangka pendek, VUTW dan insektisida merupakan dua teknologi yang dapat menurunkan populasi dalam waktu yang cepat dan skala yang luas. Di lapangan saat ini tidak ada varietas padi yang benar-benar tahan terhadap wereng coklat. Respons VUTW di setiap lokasi berbeda sehingga perlu pemetaan VUTW mana yang paling memberikan ketahanan terbaik di lokasi tersebut dan itu yang disarankan.

Insektisida yang digunakan untuk mengendalikan harus tepat, khususnya dalam memilih cara kerja bahan aktif insektisida yang akan digunakan, karena kalau tidak tepat bisa menjadi bumerang. Penyemprotan perlu dilakukan secara lebih terorganisasi, dalam skala yang luas, dan dalam waktu yang relatif sama.

Penyemprotan dalam skala kecil dan tidak bersamaan memberikan peluang migrasi ke tempat lain. Setelah populasi dan serangan wereng coklat kembali turun, pengendalian harus sesuai dengan prinsip PHT untuk meningkatkan kesehatan lingkungan dan keberlanjutan produksi. Kerja sama semua pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk mencegah perluasan serangan wereng coklat.

Y ANDI TRISYONO, Guru Besar Entomologi Fakultas Pertanian UGM
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Juli 2017, di halaman 7 dengan judul “Perang 48 TahunMelawan Wereng Coklat”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Cegah Kepunahan, Habitat Badak Sumatera Akan Diproteksi Penuh

Habitat badak sumatera terus tertekan akibat perambahan hutan dan pembangunan. Habitat fauna ini agar dilindungi ...

%d blogger menyukai ini: