Wereng Batang Coklat; Hama yang Ditakuti dan Cara Membasmi

- Editor

Rabu, 9 Februari 2011

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ukuran tubuhnya saat dewasa hanya sekitar 3 milimeter. Namun, kemampuan berkembang biak, daya sebar, daya serang, dan tingkat kerusakan yang ditimbulkannya luar biasa. Karakteristik itu menempatkan wereng batang coklat sebagai hama utama tanaman padi.

Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BB POPT) memperkirakan, wereng batang coklat yang disingkat sebagai wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal) menyerang 47.005 hektar hingga 81.686 hektar padi di Indonesia musim ini (MT 2010/2011).

Kemampuan wereng coklat berkembang biak sangat tinggi. Sebuah laporan ilmiah tentang Taksonomi dan Bioekologi Wereng Batang Coklat yang ditulis Hiroichi Sawada, Gaib Subroto, Wahyudin, dan Toto Hendarto dalam buku Wereng Batang Coklat tahun 1992 menyatakan, jumlah telur yang dihasilkan seekor wereng coklat betina selama hidupnya ada 1.474 butir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada beberapa spesies yang termasuk dalam genus Nilaparvata. Namun, hanya Nilaparvata lugens Stal yang menjadi hama penting pada tanaman padi di Indonesia. Wereng batang coklat termasuk dalam famili Delphacidae yang memiliki ciri utama bintik hitam pada sayap depan dan taji pada ujung tibia tungkai belakang.

Siklus hidup wereng, di daerah tropis dengan suhu 20-30 derajat celsius, mencapai 23-32 hari. Artinya, dalam satu periode tanam padi, wereng dapat menyelesaikan siklus tiga generasi. Kondisi lingkungan, penanganan, dan kerentanan varietas menjadi faktor kecepatan perkembangbiakannya.

Firdaus Natanegara, ahli wereng di BB POPT menyebutkan, wereng coklat mampu beradaptasi dengan varietas baru dengan membentuk biotipe atau koloni baru yang lebih ganas. Serangan wereng coklat mengakibatkan warna daun dan batang padi berubah menjadi kuning, kemudian kecoklatan, dan akhirnya kering.

Wereng dewasa menetap di pangkal tanaman. Selain mengisap cairan sel tanaman, wereng menularkan virus kerdil rumput dan kerdil hampa. Jika terserang virus kerdil rumput, padi beranak banyak, daun menjadi pendek, dan tidak bermalai. Sementara virus kerdil hampa membuat daun pendek, kaku, anakan bercabang, dan malai hampa.

Migrasi

Migrasi wereng dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, dan iklim. Migrasi biasanya terjadi antara matahari terbit hingga terbenam karena Nilaparvata lugens memerlukan cahaya dalam penerbangan. Penerbangan bisa berlangsung dalam kondisi suhu rendah, kelembaban tinggi, angin yang lemah, maupun angin berkecepatan lebih dari 11 kilometer per jam.

Menurut Firdaus, pada proyek penelitian kerja sama Jepang-Indonesia tahun 1986-1992, wereng diketahui bermigrasi hingga jarak ratusan kilometer. Migrasi jarak jauh diketahui setelah sekelompok wereng yang disemprot warna merah di persawahan daratan China ditemukan menyerang padi di Jepang.

Menurut Firdaus, migrasi wereng di Indonesia tidak sejauh rute China-Jepang karena padi sebagai sumber pakan ada di mana-mana.

Kepala BB POPT Gaib Subroto menambahkan, sebelum tahun 1970-an, wereng coklat tidak diperhitungkan sebagai hama di Indonesia. Situasi berubah saat program intensifikasi gencar dilaksanakan pemerintahan Soeharto, antara lain dengan menyemprotkan insektisida organosfat berspektrum luas secara massal dengan pesawat udara.

Di Buletin Peramalan OPT Edisi XII Tahun 2010 tertulis, tahun 1976/1977, wereng coklat mengakibatkan serangan berat pada 450.000 hektar padi sawah dan kehilangan hasil sekitar 364.500 ton beras. Pemakaian pestisida mengakibatkan ledakan serangan hama tahun 1979 dan 1986.

Pemakaian insektisida yang tak tepat jenis, konsentrasi, dosis, volume, cara, waktu, dan sasaran semprot memicu meluasnya serangan wereng coklat. Sebab, selain wereng menjadi kebal, hal itu memicu terbunuhnya musuh alami wereng.

Ledakan wereng coklat mendorong terbitnya Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 1986 tentang Pengendalian Hama Terpadu yang berujung pada pencabutan subsidi pestisida.

Jamur

Demi menghindari terbunuhnya musuh alami, petani dianjurkan mengembangkan jamur Beauveria bassiana dan Metharrizium anisopliae.

Penggunaan agen hayati itu relatif murah; aman terhadap lingkungan, manusia, dan hewan; efisien dalam jangka panjang; serta efektif untuk pengendalian OPT sasaran. Kekurangannya, pengendalian berjalan lambat, tidak dapat diramalkan, dan butuh pengawasan ketat.

Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tanaman (LPHPT) Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Tengah di Surakarta salah satu yang mengembangkan Beauveria bassiana.

”Kami mengembangkan jamur ini karena perbanyakannya mudah dikerjakan oleh petani,” kata Ketua LPHPT Surakarta V Driyatmoko, Senin (7/2).

Untuk mendapatkan bibit murni Beauveria bassiana, dilakukan pemurnian jamur yang diperoleh dari lapangan di laboratorium.

”Bibit lantas diperbanyak melalui media cair atau padat,” kata staf fungsional LPHPT Surakarta, Sri Hartati.

Proses perbanyakan dapat dilakukan oleh petani. Media cair menggunakan ekstrak kentang gula, sedangkan media padat menggunakan beras atau jagung.

Jika spora jamur sudah tumbuh di media cair, ditambahkan gula pasir dan bubuk detergen, lalu disemprotkan ke tanaman.

Jamur menjadi parasit bagi wereng sehingga lama-kelamaan wereng mati. Efektivitas akan terlihat setelah seminggu. [Mukhamad Kurniawan dan Sri Rejeki]

Sumber: Kompas, 9 Februari 2011

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Baru 24 Tahun, Maya Nabila Sudah Raih Gelar Doktor dari ITB
Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Berita ini 1 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 1 April 2024 - 11:07 WIB

Baru 24 Tahun, Maya Nabila Sudah Raih Gelar Doktor dari ITB

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 3 Januari 2024 - 17:34 WIB

Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Berita Terbaru

US-POLITICS-TRUMP

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB