Home / Berita / Pestisida dan Keliru Pikir

Pestisida dan Keliru Pikir

SERANGAN hama wereng coklat menjadi ancaman dari waktu ke waktu bagi petani padi. Pemerintah menyiapkan dana kontingensi Rp 3 triliun. Sejauh ini, bantuan konkret dari pemerintah pusat, antara lain, berupa pestisida (Kompas, 7/3).


Menteri Pertanian Suswono, Kamis (6/3), di Surabaya, meminta daerah bersiap agar hama wereng tidak eksplosif. Dalam berita Kompas, Jumat (7/3), itu disebutkan, produksi padi (angka sementara) di Jawa Timur tahun 2013 sebesar 12,05 juta ton gabah kering giling (GKG), turun 149.360 ton dari produksi padi tahun 2012. Serangan hama sudah mulai Februari lalu.

Pemerintah pusat menyiapkan dana kontingensi Rp 3 triliun dan menyiapkan bantuan konkret, antara lain pestisida.

Persoalan hama wereng (wereng batang coklat/WBC) tak pernah usai, ibarat memutari lingkaran tak berujung. Pestisida menjadi jawaban penting.

Hermanu Triwidodo, dosen Institut Pertanian Bogor untuk pengendalian hama terpadu (PHT) Departemen Proteksi Tanaman, meneliti hubungan langsung antara penggunaan pestisida dan tingkat kerusakan tanaman. Dia dan tim melakukan penelitian pada 125 responden petani yang sawahnya bagus (tidak rusak) hingga petani yang lebih dari 75 persen sawahnya rusak.

Dia mengamati beberapa faktor, di antaranya jumlah penyemprotan, banyaknya jenis pestisida yang jadi campuran, dan jenis pestisida yang digunakan—dilarang atau tidak untuk pertanian.

Dari penelitian itu tampak kecenderungan perilaku petani. Pada tingkat kerusakan 4 (sawah rusak 50-75 persen), ada petani yang mengoplos hingga 9 jenis bahan pestisida. Jumlah pengguna campuran tiga jenis pestisida merupakan yang terbanyak di kelompok ini.

8242909hSaid Abdullah dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menjelaskan, ”Setiap jenis pestisida cocok hanya untuk penyakit atau hama tertentu. Karena ingin membasmi berbagai hama dan penyakit, petani mencampur sesuai tujuan.”

Mencampur berbagai jenis pestisida menyimpan ancaman tersendiri karena berbagai predator hama dan endofit—jasad renik di dalam tanaman agar tanaman lebih tahan terhadap hama—juga turut terbasmi. ”Pestisida umumnya merusak endofit,” ujar Hermanu.

Dari 125 responden, hanya tiga responden yang tidak memakai pestisida. Sawah mereka aman, tingkat kerusakan 0 persen. Hermanu mengatakan, penyebabnya adalah endofit dan predator hama tetap hidup, ekosistem tidak terganggu, hingga hama terkendali.

Selain mematikan hama dan merusak endofit, pestisida mematikan predator hama, pemangsa wereng alami. Musuh alami wereng, antara lain berbagai jenis laba-laba, seperti Lycosa pseudoannulata, Tetragnatha sp. Juga berbagai jenis kumbang, seperti Carabid Ophionea sp., Coccinelid Synharmonia sp., dan jenis-jenis capung besar.

Akibat penggunaan pestisida, tanaman kehilangan pelindung dari dalam dan dari luar. ”Predator memakan serangga muda (nimfa) sehingga populasi tidak berkembang,” kata Hermanu.

Ketika tanaman tidak terlindung, kata Hermanu, tiga ekor hama yang migrasi, dalam 67 hari bisa berkembang menjadi 4.000 ekor.

Akibat kurang informasi dan pengetahuan, petani justru banyak yang menggunakan pestisida yang dilarang digunakan untuk padi, misalnya Decis yang termasuk jenis peritroid. Zat itu, kata Hermanu, menyebabkan resurgency—yakni wereng menjadi cepat tumbuh sehingga meledak populasinya dalam waktu dua atau tiga minggu. Usulan ke pemerintah untuk melarang peritroid dijawab dengan ”perlu pembuktian”. ”Padahal, di China dan di Thailand sudah dilarang,” ujar Hermanu.

Penelitian Hermanu di 15 kabupaten sentra produksi padi di Jawa, yang dilaporkan di pengujung tahun lalu, tampak jelas hubungan antara ledakan WBC dan penggunaan pestisida. Semakin tinggi frekuensi penyemprotan pestisida, semakin besar kemungkinan terjadi puso.
Perluasan cepat

Wereng dewasa memiliki dua bentuk, yaitu bersayap panjang dan bersayap pendek. Dewasa bersayap panjang ini bisa bermigrasi menempuh jarak Jepang-China. ”Mereka tinggal melompat dan ikut bersama angin,” ujar Hermanu.

Saat migrasi ke suatu tempat, keturunan wereng bersayap pendek, setelah tiga generasi, kemudian biasanya lahir wereng sayap panjang. ”Ini strategi bertahan hidup,” kata Hermanu.

Seringnya persentuhan antarindividu saat populasi padat merangsang lahirnya wereng sayap panjang. Wereng sayap panjang ini bermigrasi ke lokasi lain sehingga serangan hama pun meluas.

Dari penelitian bersama Nugroho Wienarto dari Yayasan FIELD, tahun lalu, Hermanu khawatir serangan wereng tahun ini bisa menurunkan produksi gabah kering panen (GKP) hingga sekitar 6 juta ton—setara dengan 3,3 juta ton beras.

Penyebabnya, titik-titik populasi wereng ada di hampir semua daerah sentra produksi padi di Pulau Jawa, prakiraan curah hujan di atas normal pada musim hujan, dan penggunaan pestisida terlarang, serta aplikasi pestisida berlebihan oleh petani.

Petani sering mendapat informasi dari penjual atau toko daripada penyuluh pertanian dinas terkait ataupun akademisi. Sementara itu, pengaturan pestisida mulai dari izin produksi, peredaran, hingga pengawasan penggunaan masih simpang siur. ”Setidaknya ada tiga kementerian terlibat, yakni perdagangan, perindustrian, dan pertanian. Saat ini tidak jelas, siapa melakukan apa,” kata Hermanu. Harus ada integrasi, tambah Hermanu, meski focal point bisa Kementerian Pertanian.

Last but not least, penjualan pestisida seharusnya terbatas, dijual di tempat khusus, seperti obat dijual di apotek. ”Pestisida adalah racun,” kata Hermanu. Faktanya sekarang, pestisida bebas diperjualbelikan seperti barang konsumsi biasa. Apakah akibat keliru pikir?

Oleh: BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Sumber: Kompas, 14 Maret 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: