Home / Profil Ilmuwan / Baehaki; Menebar Ilmu ke Lahan Petani

Baehaki; Menebar Ilmu ke Lahan Petani

Ledakan serangan hama wereng sudah berulang kali menggagalkan panen padi di Indonesia. Data tertulis menunjukkan, wereng mulai menyerang kawasan Dramaga, Bogor, Jawa Barat, dan Mojokerto, Jawa Timur, pada tahun 1930-an. Pada tahun 1970-1980-an, sawah seluas 2,5 juta hektar di seluruh Jawa gagal panen gara-gara wereng.

Serangan wereng terus terjadi, tetapi kita selalu telat mengantisipasi,” kata Prof (Riset) Dr Ir Baehaki Suherlan Effendi saat ditemui di tempat kerjanya di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), Jalan Raya Nomor 9 Sukamandi, Subang, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Wereng tak hanya menyerang padi di Jawa, tetapi juga telah dikenal lama sebagai hama yang menjengkelkan di China, Vietnam, Kamboja, Thailand, Filipina, dan Malaysia. Geram menyaksikan ketidakberdayaan petani menyebabkan Baehaki fokus mencari tahu lebih dalam tentang wereng sejak tahun 1980-an hingga kini. Puluhan jurnal ilmiah dan sedikitnya dua buku hasil penelitian Baehaki menunjukkan, wereng adalah serangga yang selalu ada di sekitar kita.

International Rice Research Institute (IRRI) Thailand sudah meneliti dan mencari inang alternatif bagi wereng dengan tujuan mencari tempat hidup bagi serangga itu. Namun, dari penelitian itu ditemukan fakta bahwa wereng hanya hidup di tanaman padi.

Doktor di bidang entomologi dari Institut Pertanian Bogor ini menambahkan, wereng mempunyai beberapa musuh alami. Laba-laba dan tomcat adalah predator mematikan bagi wereng. Namun, kecepatan berkembang biak wereng kini jauh lebih cepat daripada gerak para predator pemangsanya. Ini terjadi karena perubahan yang melanda dunia secara global menyangkut perubahan iklim dan anomali cuaca.

”Wereng berkembang biak cepat saat hujan. Sekarang ini hujan bisa terus turun meski musim telah berganti kemarau,” kata Baehaki.
Siklus 12 tahun

Baehaki mengamati, selain terjadi sepanjang tahun, ternyata pada waktu-waktu tertentu serangan hama wereng terakumulasi menjadi ledakan besar. Ia menandai serangan hebat telah terjadi tiga kali dengan jeda waktu 12 tahun, yaitu pada tahun 1986, 1998, dan 2010.

Menurut Baehaki, dulu sebelum krisis ekonomi dan harga padi masih sekitar Rp 900.000 per ton, setiap ditemukan 5-20 wereng di sawah petani, pengendalian dengan menggunakan insektisida segera dilakukan. Kini, dengan harga padi mencapai Rp 3 juta per ton, setiap ditemukan 3-5 wereng sudah harus dilakukan antisipasi. ”Ini yang disebut ambang ekonomi hama,” katanya.

Mengatasi masalah wereng pada generasi kedua, hanya 50 persen kemungkinan panen berhasil. Kalau sudah pada generasi ketiga, batang padi menguning pertanda sari makanan telah terisap habis. Beban biaya untuk mengatasi wereng makin besar dengan kemungkinan gagal panen 100 persen.

”Namun, sampai sekarang pengetahuan itu belum banyak tersebar. Banyak petani terlambat mengatasi wereng,” ujar peneliti di Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi Bandung itu selain sebagai peneliti utama di BB Padi.

Sampai tahun ini, BB Padi sudah menciptakan lebih dari 250 varietas padi unggul yang cocok dengan beragam kondisi tanah dan iklim. Namun, varietas unggul itu belum bisa diaplikasikan kepada petani karena belum diperkenalkan oleh instansi teknis yang berkewajiban melaksanakannya.
Kerja sama

Selain mengurangi penggunaan insektisida, Baehaki menyatakan perlu ada terobosan baru untuk membuat petani lebih berwawasan dan berketerampilan. Menurut Baehaki, peneliti seperti dia bisa menjadi perekat antara masyarakat, khususnya petani, dan dinas teknis. Membawa teknologi sampai ke lahan petani bukan sekadar disampaikan secara lisan ke petani.

Pada 2011, ia akhirnya berkesempatan mengawal teknologi Tanam Serempak Padi Inpari 13 di Polanhardjo untuk mendukung upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melaksanakan Rencana Tindak Lanjut (RTL) pengendalian hama wereng coklat dan hama utama padi lainnya.

Langkah itu sesuai hasil risetnya, yaitu jurus tanam serempak minimal 1.000 hektar di wilayah yang sama atau berdekatan, penggunaan varietas padi tahan hama, dan pola atasi dini wereng dengan duet insektisida-predator alami, terbukti ampuh. Panen raya telah dilakukan di kawasan eks Karesidenan Surakarta, yaitu sekitar Solo, Klaten, Boyolali, Sukoharjo, hingga ke Wonogiri dan Karanganyar.

Sejak Juni lalu, Baehaki memasuki masa pensiun. Namun, bahkan pada akhir masa baktinya di BB Padi, ia masih sempat menyelesaikan satu buku baru terkait wereng. Judulnya Budidaya Tanam Padi Berjamaah, Suatu Upaya Meredam Ledakan Hama dan Penyakit dalam Rangka Swasembada Pangan Berkelanjutan. Buku ini sekaligus bertujuan mendukung dan mendorong Indonesia untuk mencapai target menghasilkan 10 juta ton beras pada 2014.

Mengakui istrinya, Arifah, dan anak-anaknya sering terganggu ketika ada panggilan kerja mendadak selama dia aktif jadi peneliti, tak menyurutkan semangat Baehaki untuk terus berkarya. Ia yakin peneliti muda di BB Padi akan meneruskan perjuangan dan membuahkan inovasi baru. Namun, ia sendiri selalu merasa, sebagai petani, tetapi sekaligus peneliti, tidak ada kata pensiun untuk dua hal itu.

Lahan seluas 3 hektar di dekat sebuah perumahan di Subang kini disewa Baehaki untuk menyalurkan hobinya. Petani di sekitar lahannya sudah mulai tertarik dan meniru teknik bercocok tanam Baehaki. Ia berharap inilah jalan agar ilmunya menyebar.

”Saya juga masih ingin mengajar lagi, tetapi tidak usah terlalu sering, seminggu sekali cukup. Yang penting istiqomah saja,” kata Baehaki yang murah senyum dan tawa itu.

Baehaki Suherlan Effendiu Lahir: Cianjur, 7 Juni 1948u Istri: Dra Arifah (guru)u Anak: – Mira Rachmawati Aisyah (alm)- Nurul Azizah (1983)- Rahmillah Aliyatin (1985)- Muhammad Abdarasyid (1987)u Pendidikan: – S-3 dari Institut Pertanian Bogoru Karier peneliti: – Memetakan biotipe wereng coklat – dan menghasilkan teknologi – pengendaliannya melalui uji – ketahanan dan pergiliran varietas- Menemukan Telenomus dignus – parasitoid, penggerek batang padi- Menggelar teknologi sistem – integrasi pertanaman padi dan – palawija (Sipalapa)- Menggelar teknologi sistem rotasi – palawija setelah padi (Ropalapa)- Mengembangkan entomophagus – insect dan memformulasi – Metarhizium anisopliae – (Metaria WP) u Karya ilmiah: – 73 makalah yang telah diterbitkan – dalam jurnal ilmiah, majalah semi– ilmiah, dan prociding, baik di dalam – negeri maupun luar negeri – 84 makalah yang belum diterbit– kan, tetapi sudah dipresentasikan – dalam sejumlah seminar- dua buku tentang hama padi dan – insektisida- Mengajar dan menjadi tim peneliti – di IPB, ITB, Unpad, dan UGM.

Oleh: NELI TRIANA

Sumber: Kompas, 29 Juli 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mengenang Sediono MP Tjondronegoro dan Reforma Agraria

Sebagai intelektual Tjondronegoro istimewa karena mampu menjelaskan sebab-sebab struktural dan politik agraria dari kemiskinan agraria ...

%d blogger menyukai ini: