Home / Berita / Penyimpan Mikroba Hutan Tropis Beroperasi

Penyimpan Mikroba Hutan Tropis Beroperasi

Keragaman Hayati Indonesia Tujuan Peneliti Dunia
Laboratorium penyimpanan dan riset khusus mikroba asal hutan tropis milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mulai beroperasi. Keberadaan fasilitas itu untuk mengubah paradigma bahwa manfaat ekonomi hutan tidak hanya dari batang pohon yang ditebang.

Kelestarian ekosistem hutan juga membuat beragam mikroba hidup, yang berpotensi dimanfaatkan untuk kemajuan ekonomi. ”Dari ekonomi berbasis sumber daya alam yang diolah secara primitif, kita harus beralih ke ekonomi berbasis pengetahuan,” kata Kepala Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPI KLHK) Henri Bastaman sebelum meresmikan fasilitas Indonesian Tropical Forest Culture Collection (Introf-CC), Kamis (14/4), di Bogor, Jawa Barat. Perwakilan koleksi mikroba lain, yaitu Indonesian Culture Collection Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (InaCC LIPI), Universitas Indonesia Culture Collection (UICC), dan Institut Pertanian Bogor Culture Collection (IPBCC), turut hadir.

Henri mengatakan, hutan tropis di Indonesia terluas kedua setelah Brasil sehingga menyimpan potensi manfaat sangat besar. Namun, pemanfaatannya cenderung fokus pada hasil kayu. Adanya Introf-CC bertujuan meningkatkan kemampuan riset sehingga potensi manfaat ekonomi mikroba dari hutan tropis Indonesia bisa terungkap.

Kemampuan riset salah satu penentu daya saing bangsa yang berujung peningkatan pertumbuhan ekonomi. Indonesia pada urutan ke-34 dari 144 negara dalam indeks daya saing global 2014/2015 versi World Economic Forum, di bawah Singapura urutan kedua, Malaysia (20), dan Thailand (31).

Pertama di dunia
Introf-CC adalah culture collection pertama di dunia yang dikhususkan pada mikroba hutan tropis. Fasilitas itu berlokasi di kompleks BPPI KLHK di Bogor dan bisa menyimpan mikroba dalam kondisi baik, setidaknya 10 tahun. Kapasitas penyimpanannya 80.000 isolat mikroba.

Sangat Efektif
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan BPPI KLHK Djohan Utama Perbatasari mengatakan, awalnya Laboratorium Mikrobiologi Hutan pada 2014 mengajukan anggaran pembentukan INTROF-CC seluas 1.800 meter persegi. Namun, dana yang disetujui, sekitar Rp 10 miliar, hanya cukup untuk merenovasi gedung laboratorium seluas 320 meter persegi (bukan membangun gedung baru) serta pengadaan 26 jenis alat mikrobiologi.

Kini, salah satu produk unggulan INTROF-CC adalah fungi yang sangat efektif untuk pembentukan kayu gaharu. Fungi terbaik adalah Fusarium solani asal Gorontalo yang bagus untuk seluruh kayu gaharu di Indonesia, yaitu kayu berjenis Aquilaria dan Gyrinops.

Bahkan, fungi tersebut sudah terbukti efektif untuk kayu gaharu Aquilaria malaccensis di Kamboja dan Vietnam. Gaharu bernilai ekonomi tinggi, salah satunya untuk industri parfum.

”Harga lokal sekitar Rp 3,5 juta per kilogram setelah tiga tahun sejak fungi disuntikkan. Jika diekspor, harga bisa meningkat tiga kali lipat,” ujar Maman Turjaman, Ketua Kelompok Peneliti Mikrobiologi Hutan Puslitbang Hutan BPPI KLHK.

Kurator kapang di Indonesia Culture Collection (InaCC) LIPI, Muhammad Ilyas, mengatakan, ada lebih dari 20 culture collection di Indonesia. Berdirinya INTROF-CC merupakan hal positif untuk saling melengkapi kekosongan riset bidang mikrobiologi karena satu culture collection belum tentu memiliki ahli untuk seluruh jenis mikroba.

Introf-CC menampung mikroba yang dikumpulkan peneliti dari hutan. Selanjutnya, diidentifikasi jenis dan dipelajari potensi manfaatnya. Kini, laboratorium itu memiliki 3.653 isolat dari berbagai jenis bakteri, fungi (jamur), dan khamir. Mikroba teridentifikasi baru 35 persennya dan sebanyak 15 persen sudah diuji coba di lapangan.

Sejauh ini, ratusan peneliti dari sejumlah negara maju menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan riset. Mereka berburu mikroba untuk obat, energi, pangan, dan lain-lain.

Maman Turjaman, Ketua Kelompok Peneliti Mikrobiologi Hutan Puslitbang Hutan BPPI KLHK, menuturkan, di antara ribuan isolat koleksi Introf-CC, peneliti sudah mendapat mikroba potensial untuk pupuk hayati, bioenergi, kesehatan, dan bioremediasi (pemulihan lahan dengan mikroba). (JOG)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 April 2016, di halaman 14 dengan judul “Penyimpan Mikroba Hutan Tropis Beroperasi”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: