Peningkatan Kadar Karbon Dioksida Mengubah Habitat Laut dan Jenis Ikan

- Editor

Rabu, 22 April 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Morotai, Ekowisata Selam Bersama Hiu
Perairan Morotai di Maluku Utara masih memiliki kesehatan ekosistem terumbu karang yang baik. Ini ditunjukkan dengan kehadiran ikan hiu sirip hitam (black tip) dalam penyelaman di beberapa titik selamnya. Seperti Kamis (13/9/2018) sekelompok ikan hiu sirip hitam menyambut penyelam di perairan Pulau Mitita, sekitar 40 menit dari Daruba (Ibukota Kabupaten Morotai). Menurut rencana, perairan ini serta beberapa area lain di Morotai akan menjadi kawasan konservasi perairan (KKP) untuk memperkuat/memperluas KKP Pulau Rao yang telah dibentuk sejak 2012. KKP Pulau Rao seluas 330 hektar akan diperluas menjadi 58.011 ha yang terdiri ekosistem terumbu karang, mangrove, dan tempat bersarang penyu. 
KOMPAS/ICHWAN SUSANTO (ICH)
13 SEPTEMBER 2018

Morotai, Ekowisata Selam Bersama Hiu Perairan Morotai di Maluku Utara masih memiliki kesehatan ekosistem terumbu karang yang baik. Ini ditunjukkan dengan kehadiran ikan hiu sirip hitam (black tip) dalam penyelaman di beberapa titik selamnya. Seperti Kamis (13/9/2018) sekelompok ikan hiu sirip hitam menyambut penyelam di perairan Pulau Mitita, sekitar 40 menit dari Daruba (Ibukota Kabupaten Morotai). Menurut rencana, perairan ini serta beberapa area lain di Morotai akan menjadi kawasan konservasi perairan (KKP) untuk memperkuat/memperluas KKP Pulau Rao yang telah dibentuk sejak 2012. KKP Pulau Rao seluas 330 hektar akan diperluas menjadi 58.011 ha yang terdiri ekosistem terumbu karang, mangrove, dan tempat bersarang penyu. KOMPAS/ICHWAN SUSANTO (ICH) 13 SEPTEMBER 2018

Peningkatan kadar karbondioksida di atmosfer membawa konsekuensi perubahan yang memicu asidifikasi atau pengasaman pada air laut. Pengasaman ini berdampak pada ekosistem setempat.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Panorama bawah laut Wakatobi di Sulawesi Tenggara menjadi daya tarik bagi wisatawan maupun peneliti domestik maupun luar negeri. Tampak pemandangan ekosistem terumbu karang di sekitar Pulau Tomia, Wakatobi, 27 Januari 2019.

Peningkatan kadar karbondioksida di atmosfer membawa konsekuensi perubahan yang memicu asidifikasi atau pengasaman pada air laut. Pengasaman ini berdampak pada ekosistem setempat yang memengaruhi habitat pembentukan karang dan ikan-ikan karang yang berasosiasi dengannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam riset yang dilakukan tim internasional di gunung api bawah laut di Shikine, pulau di Jepang, para ahli biologi kelautan menunjukkan, kenaikan sedikit kadar karbon dioksida (CO2) daripada yang ada saat ini dapat menyebabkan perubahan besar pada habitat laut dan ikan-ikan yang menggantungkan hidup padanya.

Pada publikasi Science of The Total Environment, para peneliti dari Universities of Palermo (Italia), Tsukuba (Jepang), dan Plymouth (Inggris) menunjukkan, saat air berada dalam kondisi karbon dioksida terlarut tinggi, habitat laut didominasi beberapa jenis alga untuk sementara waktu.

Pada kondisi seperti ini, jenis-jenis seperti karang-karang kompleks dan makroalgae yang membentuk tutupan pada terumbu karang, sebagian besar di antaranya menghilang. Perubahan karang yang kompleks kepada habitat yang didominasi alga membawa penurunan 45 persen kelimpahan jenis ikan. Ikan-ikan yang berasosiasi dengan karang menghilang dan terjadi penataan ulang kebiasaan makan di habitat itu.

—-Penyelam menelusuri keindahan bawah laut di perairan Pantai Jikomalamo, Sulamadaha, Kota Ternate, Maluku Utara, Selasa (12/3/2019). Kawasan itu merupakan salah satu lokasi andalan wisata selam Ternate.

Pada Sciencedaily, 20 April 2020, Carlo Cattano, penulis utama laporan tersebut, dari University of Palermo mengatakan, “Temuan kami menunjukkan karbon dioksida memengaruh perubahan habitat dan penyederhanaan jejaring makanan.”

” Kami perhatikan sepanjang perubahan vulkanik di zona transisi iklim, hal itu secara umum akan berdampak pada spesies ikan-ikan khusus tropis. Data kami juga menunjukkan di masa yang akan datang pengasaman laut akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan karang (dan konsekuensinya pada ikan karang) karena penghangatan global.”

“Sistem kadar udara bawah laut vulkanik dapat membawa gambaran nyata kondisi laut di masa depan,” kata Sylvain Agostini, dari Shimoda Marine Research Center.

“Mempelajari respons organisme dan ekosistem pada karbon dioksida yang merembes tersebut membantu kami memahami bagaimana penampakan laut di masa mendatang bila emisi karbon dioksida antropogenik (buatan manusia) tidak dikurangi,” ungkapnya.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO—Wisatawan menikmati terumbu karang di Sombu, Wango-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Selasa (21/6/2016). Selain menyelam, keindahan bawah laut Waktaobi juga bisa dinikmati dengan snorkling.

Sebagai tambahan, studi ini juga mengingatkan pada penelitian sebelumnya yang menunjukkan dampak ekologi pada habitat yang berubah karena pengasaman laut yang terjadi saat ini. Keasaman air laut menjadi turun sehingga menghambat proses kalsifikasi (pembentukan kapur pada karang) dan mendorong pelarutan berbagai pembentukan habitat kapur.

Pada saat yang sama, peningkatan karbon dioksida mendukung pertumbuhan autotroph (organisme yang dapat menghasilkan makanan sendiri seperti tumbuhan) yang tidak melakukan kalsifikasi sehingga meningkatkan produksi primer dan rata-rata karbon fiksasi (dari inorganik menjadi organik).

Sebagai hasilnya, nantinya akan ada pihak yang menang dan kalah dalam kondisi peningkatan pengasaman. Spesies-spesies ikan yang tergantung pada sumber daya spesifik selama tahapan hidupnya akan menghilang.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO—Panorama bawah laut Wakatobi di Sulawesi Tenggara menjadi daya tarik bagi wisatawan maupun peneliti domestik maupun luar negeri. Tampak pemandangan ekosistem terumbu karang di sekitar Pulau Tomia, Wakatobi, 27 Januari 2019.

Dampak seperti ini akan membawa perubahan komposisi jenis-jenis ikan pada masa depan yang akan membawa beberapa konsekuensi serius pada fungsi-fungsi ekosistem laut yang menyediakan produk dan jasa layanannya bagi manusia.

Jason Hall-Spencer, guru besar biologi kelautan University of Plymouth mengatakan,”Kerja kami di gunung api bawah laut menunjukkan, ikan-ikan pantai sangat kuat dipengaruhi pengasaman laut, dengan hanya beberapa varietas ikan yang dapat menyesuaikan dengan kadar karbondioksida di air. Ini menggarisbawahi pentingnya mengurangi emisi gas rumah kaca untuk menjaga sumberdaya laut di masa mendatang.”

Oleh ICHWAN SUSANTO

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 22 April 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 0 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB