Home / Berita / Wakatobi, Surga Bawah yang Rapuh

Wakatobi, Surga Bawah yang Rapuh

Perahu cepat Simba yang dioperasikan WWF Indonesia di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Rabu (12/4) pagi mengantar rombongan wartawan mengamati kondisi perairan Mari Mabuk, di sekitar Pulau Tomia. Perairan bening membuat cahaya matahari pagi leluasa menerobos kolom air.

Tampak karang berwarna-warni yang hanya berada di kedalaman sekitar 5 meter. “Ikatkan tali di buoy (pelampung),” kata Sugiyanta, Project Leader South Eastern Sulawesi Seascape WWF Indonesia, kepada Herman, anak buahnya yang bertanggung jawab atas operasional kapal Simba.

Herman sempat ragu sebelum Sugiyanta menyatakan perintahnya itu serius! Keraguan Herman karena buoy itu bukan seperti pelampung modern berupa karet terapung-apung di atas permukaan air. Buoy di lokasi Mari Mabuk itu hanya berupa ban motor bekas di kedalaman sekitar 3 meter.

Dengan cekatan, pria Bajo itu segera menemukan tambatan ban bekas itu setelah Simba berjalan pelan. Sebenarnya, Simba bisa saja melemparkan jangkar ke arah batu karang agar perahu stabil dan rombongan dapat menyelam di permukaan atau snorkeling dan menyelam. Toh, tak ada perahu atau rombongan lain yang melihatnya.

“Tidak boleh. Kita harus memberi contoh baik,” kata Sugiyanta. Saat memakai jangkar, bobot berat logam itu bisa merusak dan mematahkan tubuh karang. Jika itu terjadi, sebuah kerugian besar karena karang membutuhkan waktu tahunan untuk tumbuh.

Karang patah tentu tak menarik dipandang wisatawan yang mendamba panorama ekosistem semurni mungkin. Apalagi, saat itu, rombongan berada di titik selam Mari Mabuk. Seperti nama lokasi yang diberikan mantan Bupati Wakatobi Hugua ini, pemandangan bawah lautnya membuat siapa pun yang menyalam atau sekadar snorkeling akan dibuat mabuk kepayang!

Bank ikan
Benar saja, saat Kompas bersama Sugiyanta, Kartika Sumolang (aktivis WWF Indonesia), dan Ramon Tungka menjelajahi perairan yang dilindungi masyarakat Tomia sebagai bank ikan ini, tutupan karang tampak amat rapat dan bervariasi. Rataan coral foliose berbentuk mirip jamur kuping pada beberapa titik menghampar amat luas.

Di hamparan itu, kami menemukan seekor penyu hijau (Chelonia mydas) berdiam dan awalnya tampak tak memperhatikan kehadiran para penyelam. Baru ketika di antara kami berada terlalu dekat, sekitar 1 meter, penyu berukuran panjang sekitar 50 sentimeter itu kabur.

Saat kami berupaya mengejarnya, jarum penunjuk kedalaman (depth gauge) menunjuk angka 30 meter. Itu di luar perencanaan awal kami yang hanya akan menyelam pada kedalaman maksimal 20 meter.

Untungnya, kompensasi untuk memperlama waktu untuk menetralisasi nitrogen di dalam air atau decostop tak menjadi beban. Sebab, kedalaman 3-6 meter di area itu sempurna untuk melihat aneka karang dan ikan-ikan kecil. Selain kami yang menyelam, saking jernihnya air laut, rombongan yang menyelam di permukaan pun melihat keberadaan penyu itu.

Sehari sebelumnya, rombongan dibawa menuju Hoga Channel, titik selam bukan untuk pemula. Di lokasi itu, arus permukaan ataupun bawah lautnya kencang sehingga harus turun cepat dan mengikuti arah arus.

Konsekuensinya, lokasi itu menjadi hunian dan tempat bermain bagi ikan-ikan penyuka arus seperti barakuda. Ratusan bahkan ribuan ikan bergigi tajam seperti silet ini menjadi pemandangan yang awam dijumpai penyelam di Hoga Channel.

Selain dua titik selam yang diperkenalkan kepada rombongan wartawan, Wakatobi memiliki puluhan titik selam yang amat unik. Bahkan, beberapa lokasi di antaranya (seperti di sejumlah tempat wisata bawah laut) jadi “rahasia perusahaan” penyedia jasa selam tertentu.

Bisnis pariwisata
Soal bisnis pariwisata di Wakatobi, pemerintah kabupaten setempat mencatat kunjungan wisatawan terus meroket. Data paling lama, tahun 1997, menunjukkan kunjungan wisatawan hanya 11 turis domestik dan 113 turis asing.

Kini, pada 2016, jumlah kunjungan mencapai 22.380 orang, terdiri dari 14.560 wisatawan domestik dan 7.820 turis asing. Empat tahun mendatang atau tahun 2021, jantung segitiga terumbu karang dunia ini ditarget bisa mendatangkan 100.000-500.000 wisatawan.

Seekor ikan badut atau ikan anemon (Amphiprion sp) bermain di “rumah”-nya berupa anemon di titik selam Hoga Channel di Wakatobi, Selasa (11/4).

Dari sisi akses transportasi, kini hanya satu pesawat ATR Wings Air yang melayani satu kali penerbangan per hari dari dan ke Wakatobi. Akses transportasi laut masih mengandalkan kapal kayu dari Baubau dengan waktu tempuh 11 jam. Waktu yang dihabiskan di jalan itu dinilai terlalu lama bagi sebagian besar wisatawan.

Lebih penting lagi yang menjadi pertimbangan, target angka ini belum memperhitungkan kapasitas dan daya dukung kunjungan wisatawan di Wakatobi, sebuah gugusan 52 pulau. WWF Indonesia bersama Balai Taman Nasional Wakatobi serta pemda setempat kini menyiapkan riset daya dukung tersebut.

Apabila angka ini terus dikejar secara jorjoran, bukan tidak mungkin kesehatan ekosistem bahari di Wakatobi bisa menurun. Data pemantauan pemijahan ikan (SPAGs) yang dilakukan Balai Taman Nasional Wakatobi menunjukkan, aktivitas wisata bahari saat waktu pemijahan mengganggu aktivitas biologis ikan, terutama jenis ikan karang, kerapu (Kompas, 12/4).

Karena itu, Balai Taman Nasional Wakatobi mengimbau para penyedia jasa penyelaman menghindari membawa tamu menyelam saat dua hari sebelum dan sesudah bulan penuh (purnama). Saat itu, ikan memijah atau berkembang biak setidaknya di Hoga Channel, Table Coral City, dan Runduma yang menjadi lokasi pemijahan ikan.

Sebagai destinasi wisata yang relatif masih sangat alami, ekosistem Wakatobi amat rentan terhadap berbagai gangguan dari luar. Ada baiknya, pengelolaan pariwisata berkelanjutan disiapkan secara matang sebelum jantung segitiga terumbu karang dunia itu diperas daya tariknya.–ICHWAN SUSANTO
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 April 2017, di halaman 14 dengan judul “Wakatobi, Surga Bawah yang Rapuh”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: