Home / Berita / Pengidap HIV Berhasil Disembuhkan

Pengidap HIV Berhasil Disembuhkan

Harapan baru bagi mereka yang terinfeksi HIV muncul. Hal itu seiring dengan adanya pasien yang sembuh atau bersih dari virus tersebut setelah menjalani terapi sel punca untuk penyakit kanker yang dideritanya.

Pria asal London, Inggris, Adam Castillejo (40), menjadi pengidap virus imunodefisiensi manusia (human immunodeficiency virus/HIV) kedua di dunia yang berhasil disembuhkan. Sudah lebih dari 30 bulan, dia tidak lagi mengonsumsi obat antiretroviral (ARV).

Namun, Castillejo tidak disembuhkan menggunakan obat-obatan HIV. Seperti dipublikasikan di jurnal The Lancet, Selasa (10/3/2020), dia menjalani transplantasi sel punca atau disebut juga transplantasi sumsum tulang belakang untuk penyakit kanker yang juga dideritanya.

Sel punca dari donor tersebut memiliki gen luar biasa yang mampu melindungi seseorang dari HIV. Sel punca yang ditransplantasikan itu mampu menghentikan virus HIV untuk mereplikasi atau menggandakan diri di tubuh induknya. Sel tersebut juga mampu menggantikan sel kekebalan penderita dengan sel dari donor yang mampu melawan HIV.

Saat ini, Castillejo sudah memutuskan untuk membuka identitas dirinya setelah tidak ditemukannya infeksi HIV aktif dalam darah, air mani, dan jaringan tubuhnya. Sebenarnya, sejak setahun lalu, pengidap yang sebelumnya disebut sebagai ”pasien London” itu sudah dinyatakan sembuh dari HIV.

Ketika itu, dia sudah 18 bulan dinyatakan mengalami ”remisi jangka panjang” dari HIV. Lalu, 12 bulan kemudian, dia tetap dinyatakan bebas dari HIV.

”Kasus itu menunjukkan penyembuhan HIV hampir pasti bisa dilakukan. Kini, sudah ada bukti dari pasien yang 2,5 tahun bebas dari obat ARV,” kata pimpinan studi dari Universitas Cambridge, Inggris, Ravindra Kumar Gupta kepada BBC, Selasa.

Pengidap HIV pertama yang berhasil disembuhkan adalah Timothy Brown asal Berlin, Jerman, pada tahun 2011. Pria yang semula disebut ”pasien Berlin” itu berhasil sembuh setelah 3,5 tahun menjalani terapi serupa seperti yang diberikan kepada Castillejo. Dari kedua kasus tersebut, Gupta menilai transplantasi sel punca sebagai terapi HIV dapat ditiru.

Seperti dikutip dari Livescience.com, sel punca yang digunakan untuk transplantasi pada Castillejo dan Brown, berasal dari donor yang mengalami mutasi genetik langka. Mutasi itu membuat sel-sel menjadi resisten terhadap virus HIV.

Namun, terapi itu sulit untuk pengobatan bagi jutaan pengidap HIV di seluruh dunia. Terapi yang agresif ini dilakukan untuk mengobati kanker penderita, bukan HIV mereka. Sementara obat ARV yang digunakan selama ini, tetap sangat efektif membantu pengidap HIV agar bertahan hidup lebih lama dan tetap sehat.

Terapi sel punca ini, lanjut Gupta, adalah pengobatan yang berisiko tinggi. ”Terapi ini hanya digunakan sebagai upaya terakhir untuk pengidap HIV yang memiliki keganasan hematologi (kanker pada sel darah) yang mengancam nyawa,” tambahnya.

Karena itu, transplantasi sel punca ini tidak akan ditawarkan secara luas kepada para pengidap HIV yang berhasil ditangani dengan terapi ARV. Meski demikian, keberhasilan terapi ini memberikan harapan penyembuhan kanker di masa depan menggunakan terapi gen.

Proses
Untuk dapat menginfeksi tubuh induknya, virus HIV membutuhkan reseptor. Adapun reseptor yang paling banyak digunakan oleh HIV-1, galur virus HIV yang paling banyak ditemukan di seluruh dunia, untuk memasuki sel adalah CCR5.

Pada sejumlah orang yang resisten terhadap HIV, mereka memiliki dua salinan reseptor CCR5. Akibatnya, virus HIV tidak bisa masuk ke dalam sel-sel yang biasanya terinfeksi. Dari kondisi itu, terapi gen memungkinkan dilakukan untuk menyasar reseptor CCR5 yang ada dalam tubuh pengidap HIV.

Reseptor CCR5 juga digunakan oleh ilmuwan China He Jiankui yang berhasil menciptakan bayi pertama di dunia dengan gen yang telah dimodifikasi hingga mereka kebal terhadap virus HIV pada 2018. Penyuntingan gen itu dilakukan kepada bayi kembar perempuan Lulu dan Nana sebelum mereka lahir.

Seperti dikutip dari CNN.com, 30 Desember 2019, pengadilan China menghukum He selama 3 tahun penjara dan denda 3 juta yuan atau sekitar Rp 6 miliar. Hukuman itu diberikan setelah studi He banyak mendapat tentangan dari publik maupun ilmuwan lain karena dianggap tidak etis.

Meski sudah dinyatakan sembuh, tubuh Castillejo dan Brown masih memiliki sisa-sisa virus HIV di tubuhnya. Dengan kondisi itu, maka sulit mengatakan dengan pasti bahwa virus HIV tidak akan menginfeksi lagi di kemudian hari. Namun, tes pada Castillejo menunjukkan 99 persen sel kekebalan tubuhnya sudah tergantikan oleh sel-sel donor.

Ahli penyakit menular dan kekebalan tubuh dari Universitas Melbourne, Australia, Sharon Lewin, yang tidak terlibat dalam studi kepada BBC, mengatakan, dari banyaknya sampel sel yang diambil dan tidak ditemukannya virus memang memberi harapan. Namun apakah pasien akan benar-benar bisa sembuh. ”Hanya waktu yang bisa mengatakan,” katanya.

Sementara itu, Castillejo, seperti dikutip nytimes.com, Senin (9/3/2020), mengatakan, ”Berada dalam posisi seperti ini adalah kondisi unik dan sangat rendah hati. Aku ingin jadi duta harapan.” Castillejo tidak ingin orang berpikir bahwa dia menjadi orang yang terpilih untuk mendapat terapi dan kesembuhan, namun dia berada di tempat dan saat tepat ketika semua itu terjadi.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 12 Maret 2020

Share
x

Check Also

Elang Hitam Penjaga Kedaulatan Negara

Penggunaan pesawat udara nirawak jadi tren global. Selain lebih murah, risiko pun kecil. Kini, saatnya ...