Home / Profil Ilmuwan / Ahmad Faried, Ancaman Teror Sel Punca

Ahmad Faried, Ancaman Teror Sel Punca

Faried menyelisik penyebab sel kanker hidup kembali.

Adanya kasus kanker yang muncul kembali setelah berselang 15-20 tahun pasien dinyatakan sembuh telah menjadi perhatian banyak peneliti di bidang kedokteran. Apalagi para peneliti mendapati kanker yang kembali menyerang lebih sulit ditangani ketimbang kasus sebelumnya. “Kondisi inilah yang memunculkan teori sel punca kanker,” kata Ahmad Faried, 42 tahun, peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

Penasaran terhadap banyaknya kasus kanker yang berulang tersebut, Faried dan tim yang selama ini bergelut dengan riset sel punca tergerak untuk meneliti perilaku sel punca kanker. Dia mengimbuhkan, sel punca kanker dengan kemampuannya mengganti sel-sel yang telah mati diduga sebagai pemicu kembalinya sel kanker. Faried mengungkapkan, dia bersama tim peneliti saat ini sedang melakukan riset perihal sel punca kanker. Dia mengisolasi sel kanker payudara untuk melihat apakah terdapat populasi kecil sel dengan sifat seperti sel punca di dalam sel kanker. Pengetahuan ihwal karakteristik populasi kecil itu diharapkan bisa memberi pengetahuan mengenai cara membasmi kanker hingga tuntas.

Ia menyebutkan, sel punca juga dapat dimanfaatkan untuk memerangi kanker. Caranya, sel punca diarahkan untuk membentuk sel yang melawan sel kanker, lalu diperbanyak. Dalam hal ini, sel punca bisa digunakan sebagai terapi tambahan. Namun metode ini mengandung kelemahan lantaran setiap tumor mempunyai karakteristik yang berbeda. “Kita tak bisa memakai satu jenis sel untuk semua kanker,” tutur dokter bedah di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, ini.

Fungsi lain sel punca adalah sebagai penopang pertumbuhan sel normal yang mati akibat pengobatan kanker yang dijalani pasien. Misalnya, penderita kanker darah yang mendapat obat untuk menghancurkan sel kanker dengan harapan sumsum tulangnya akan menghasilkan darah baru. Kenyataannya, darah baru yang dihasilkan terkadang tak cukup. “Sel punca bisa dipakai untuk memperbanyak sel darah agar pasien memiliki stok yang cukup,” ucapnya.

Faried bercerita, dia mulai terlibat dalam penelitian mengenai sel punca pada 2006-2007, yang merupakan tahun terakhir masa studi doktornya di Gunma University, Jepang. Riset itu mengharuskannya mengkultur brain microvessel endothelial cells dan neural stem cell (sel punca yang memproduksi sel saraf).

Ketika berada di Jepang, Faried mengembangkan obat kanker jenis baru yang disebut sugar-cholestanols, yang dapat mengenali sel kanker karena struktur gulanya yang berbeda dengan sel non-kanker.

Saat ini Faried sedang menggagas bank sel punca di Bandung. Ia ingin sel punca itu bisa dipakai oleh pasien yang membutuhkan.

Faried, yang merupakan dokter klinis, berharap bisa menjembatani profesi dokter klinis dengan dokter yang meneliti ilmu dasar. Ia optimistis, jika kedua profesi itu digabungkan, tidak butuh waktu lama untuk membawa ilmu kedokteran teoretis ke tataran klinis.

Sumber: Koran Tempo, KAMIS, 16 AGUSTUS 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Gede Bayu Suparta, 30 Tahun Mengembangkan Radiografi Digital

Riset selama 30 tahun untuk mengembangkan radiografi digital buatan Indonesia akhirnya berbuah manis. Awal November ...