Penghargaan Newton untuk Penelitian Mitigasi Wilayah Pesisir

- Editor

Kamis, 16 Januari 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penelitian mengenai mitigasi dan pengelolaan strategi bencana di wilayah pesisir Indonesia memenangi Penghargaan Newton dari pemerintah Inggris. Hadiah akan digunakan untuk memperbesar skala riset.

Penelitian mengenai mitigasi dan pengelolaan strategi bencana di wilayah pesisir Indonesia memenangi Penghargaan Newton dari pemerintah Inggris. Dana yang didapat dari kemenangan tersebut dipakai untuk membesarkan skala penelitian dan dampak di lapangan.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Harkunti Rahayu dari Planologi Institut Teknologi Bandung dan Richard Haigh dari Universitas Huddersfield, Inggris, menerima hibah sebesar 200.000 ponsterling dari Penghargaan Newton di Jakarta, Selasa (14/1/2020). Mereka meneliti mengenai mitigasi bencana di wilayah pesisir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Intergrasi adaptasi perubahan iklim tidak bisa dipisah dari mitigasi dan pencegahan bencana,” kata Hakunti, Rabu (15/1/2020), di Jakarta. Penelitian itu menyorot minimnya upaya mitigasi ataupun kesadaran masyarakat terkait pengelolaan wilayah untuk membangun ketahanan bencana.

Pengumuman pemberian Penghargaan Newton dilakukan di Jakarta, Selasa (14/1/2020) malam. Acara itu juga dihadiri Pejabat Tinggi Pemerintah Inggris Bidang Asia Pasifik Heather Wheeler. Penelitian mengenai pembangunan ketahanan masyarakat pesisir oleh Hakunti Rahayu dari Planologi Institut Teknologi Bandung bersama Richard Haigh dan Dilanthi Amaratunga dari Universitas Huddersfield, Inggris terpilih, menjadi pemenang hadiah sebesar 200.000 pondsterling.

Hakunti menjabarkan, sebelum mengkaji tentang mitigasi, perlu dipetakan dulu risiko bencana wilayah pesisir yang rawan tsunami. Selanjutnya, pengetahuan masyarakat terkait risiko tersebut perlu dipetakan, dilanjutkan dengan melihat kedalaman kesadaran warga untuk bertindak.

Berdasarkan data lapangan, tim peneliti bersinergi dengan pemerintah pusat dan daerah untuk mencari solusi berupa membangun kebijakan serta sistem terapan yang sinergis. Akan tetapi, tim tidak membuat keputusan tentang jenis kebijakan dan langkah yang harus diambil karena hal ini diminta timbul dari kesadaran pemerintah serta masyarakat pesisir.

KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH–Pesisir laut Aceh kembali padat pasca 12 tahun dilanda gempa dan tsunami di kawasan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, Senin (26/12/2017).

Masyarakat sebagai subyek
“Mitigasi paling efektif apabila melibatkan masyarakat sebagai subyek, bukan obyek kebijakan. Pemberdayaan masyarakat bisa dilakukan untuk merespons bencana secara bertahap seperti banjir dan bencana langsung seperti tsunami, jika mereka mengetahui cara hidup dan mengelola lingkungan agar risiko bencana berkurang,” papar Harkunti.

Menurut dia, hibah dari Penghargaan Newton akan digunakan untuk memerluas riset ke pesisir Samudera Hindia yang mencakup 28 negara. Hasil penelitian berupa data dan sistem mitigasi diharapkan juga bisa diadaptasi kepada mitigasi jenis bencana lainnya seperti gempa dan letusan gunung api.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia Owen Jenkins menjelaskan, ada lima kandidat Penghargaan Newton tahun ini. Dewan juri memutuskan penelitian yang dianggap memiliki dampak luas dan dapat diterapkan di Indonesia, Inggris, maupun negara-negara lain.

Ada total hadiah sebesar 1 juta pondsterling. Selain Hakunti dan tim yang mewakili Indonesia, juga ada penghargaan untuk peneliti dari China dan Filipina, masing-masing sebesar 200.000 pondsterling.

Selain itu, ada kategori khusus memperebutkan hibah sebesar 500.000 pondsterling yang akan diberikan pada tanggal 12 Februari di London, Inggris. Indonesia akan diwakili oleh Bambang Riyanto Trilaksono dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang bermitra dengan Dina Shona Laila dari Universitas Coventry, Inggris, dengan riset mengenai pemeliharaan jembatan untuk komunitas yang saling terkoneksi dan sejahtera.

Sementara Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan, skema kemitraan peneliti serta perguruan tinggi di Indonesia dengan peneliti dari luar negeri sangat bermanfaat. Mereka bisa saling belajar untuk memecahkan masalah nasional, regional, dan global.

Di Indonesia, hibah dari Penghargaan Newton sudah menyentuh 200 peneliti dengan 15 skema riset. “Khusus untuk penelitian tentang mitigasi bencana ini, manfaatnya tidak cuma soal pemakaian sekaligus pelestarian alam yang baik, tetapi juga berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat pesisir. Nelayan termasuk kelompok rentan secara ekonomi, sehingga kemampuan mengelola risiko bencana penting dalam skema pemberdayaan mereka,” ujarnya.

Oleh LARASWATI ARIADNE ANWAR

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 15 Januari 2020

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 21 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB