Home / Berita / Pengembangan Ilmu Kesehatan Butuh Teknologi

Pengembangan Ilmu Kesehatan Butuh Teknologi

Pemanfaatan teknologi dibutuhkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, termasuk dalam bidang kesehatan. Teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk mencegah pencemaran lingkungan yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Pengukuhan guru besar Universitas Indonesia dari rumpun ilmu kesehatan di Depok, Jawa Barat, Sabtu (23/3/2019). Dalam kegiatan ini diungkapkan pentingnya penggunaan teknologi dalam pengembangan ilmu pengetahuan termasuk dalam bidang kesehatan.

Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Bahan Alam Fakultas Farmasi Universitas Indonesia Abdul Mun’im mengatakan, dalam pengembangan obat herbal memerlukan sentuhan teknologi agar kualitasnya meningkat dan keamanan produk terjamin.

“Untuk memperoleh obat-obatan herbal harus melewati proses yang menjadi perhatian dan menentukan kualitas, salah satunya ekstraksi,” kata Abdul dalam pidato pengukuhan Guru Besar UI dari rumpun ilmu kesehatan di Depok, Jawa Barat, Sabtu (23/3/2019).

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Abdul Mun’im

Selain Abdul, UI mengukuhkan Asri C Adisasmita sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dan Budi Haryanto sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Kesehatan Lingkungan FKM. Upacara pengukuhan dipimpin oleh Rektor UI Muhammad Anis.

Abdul mengatakan, tantangan dalam proses ekstraksi yakni pemilihan pelarut yang dapat mengekstraksi senyawa aktif secara maksimal, aman, ekonomis, tidak mudah terbakar, dan dapat didaur ulang. Ia menyebutkan, pelarut pengekstraksi bernama Nades (Natural deep eutectic solvent) sebagai alternatif pelarut yang lebih aman.

Nades merupakan campuran yang memiliki titik leleh jauh di bawah titik leleh setiap senyawa, biasanya di bawah 100 derajat Celsius. Pelarut ini memiliki berbagai keunggulan sebagai pengekstraksi, antara lain bahan yang digunakan sederhana dan murah, ada banyak pilihan kombinasi, mudah disesuaikan dengan karakter senyawa, serta memiliki toksisitas rendah.

Penggunaan Nades dapat mengurangi tahapan proses produksi seperti dalam pembuatan sediaan atau persenyawaan yang telah siap melalui proses kimia pada kosmetik, obat herbal, dan pangan. Tantangan penggunaan Nades adalah permasalahan stabilitas karena produk ekstrak berupa cairan dan beberapa pelarut menyulitkan dalam pembuatan sediaan padat.

Sementara itu, Asri mendorong epidemiolog atau orang yang mempelajari penyebaran penyakit dan pengendaliannya untuk berinovasi memanfaatkan teknologi pada era industri digital. Inovasi tersebut perlu diimplementasikan menjadi suatu intervensi nyata yang berdampak bagi kesehatan masyarakat.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Asri C Adisasmita

Salah satu bentuk pengimplementasian ilmu pengetahuan diwujudkan dalam program MDSR (Maternal Death Surveillance and Response). MDSR saat ini dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan.

MDSR merupakan kegiatan berbasis surveilans yang memberikan informasi yang dibutuhkan sebagai panduan dalam menyusun intervensi untuk mencegah kematian ibu. MDSR akan efektif apabila ada ketersediaan data yang valid, dapat diandalkan, dan mudah diakses.

Asri berharap, ahli epidemiologi dapat menyesuaikan dengan perkembangan industri digital. “Mereka membutuhkan literasi teknologi sehingga dapat memanfaatkan teknologu digital dalam mengolah data dan informasi yang diperoleh,” tuturnya.

Meskipun demikian, pemahaman terhadap tingkah laku manusia tetap dibutuhkan agar dapat berkolaborasi, adaptif, dan menjadi arif di era kebebasan informasi seperti saat ini.

Peduli lingkungan
Budi memaparkan, perubahan iklim berpengaruh pada ekonomi, kemiskinan, kesehatan manusia, dan lingkungan khususnya pada polusi udara. Menurut Budi, sektor transportasi berkontribusi paling banyak yakni hingga 80 persen pada polusi udara. Selanjutnya ada emisi dari industri, kebakaran hutan, dan kegiatan rumah tangga.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Budi Haryanto

Ia menduga, 50 persen dari angka kesakitan di Indonesia terkait dengan polusi udara. Penyakit yang berasal dari emisi kendaraan dan polusi udara, antara lain saluran pernapasan akut, asma bronkial, bronkitis, iritasi mata dan kulit, gangguan fungsi paru, serta gangguan jantung.

Untuk mencegah dan mengendalikan polusi udara pada sumber pencemarannya, maka dibutuhkan perbaikan kualitas bahan bakar, peningkatan teknologi mesin kendaraan bermotor, prasarana infrastruktur, dan manajemen transportasi.

Ia mencontohkan, penetapan peningkatan kualitas bahan bakar minyak telah berkontribusi pada pengurangan emisi polutan di udara. “Penurunan emisi polutan udara akan bermanfaat terhadap penurunan penyakit terkait pencemaran udara,” kata Budi.

Oleh PRAYOGI DWI SULISTYO

Sumber: Kompas, 23 Maret 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pergeseran Kutub Bumi Bisa Jauh Lebih Cepat di Sekitar Khatulistiwa

Dalam 30 tahun terakhir, pergeseran kutub magnet Bumi dianggap makin cepat. Nyatanya, pergeseran kutub magnet ...

%d blogger menyukai ini: