Pendidikan Perkeretaapian Kurang Diantisipasi

- Editor

Rabu, 2 Desember 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salah satu pengembangan subsektor transportasi yang diprioritaskan tersebar di Indonesia saat ini adalah perkeretaapian. Namun, pendidikan untuk mempersiapkan kebutuhan sumber manusia perkeretaapian justru kurang disiapkan.

“Akademi Perkeretaapian Indonesia (API) di Madiun, Jawa Timur, sudah dipesan 600 lulusannya nanti untuk operasionalisasi mass rapid transit (MRT) di Jakarta. Padahal, saat ini setiap angkatan hanya menerima 120 mahasiswa untuk dididik sampai tingkat diploma III,” kata Kepala Laboratorium Transportasi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Jawa Tengah, Djoko Setijowarno saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (1/12).

Saat ini Indonesia belum memiliki pendidikan S-1 untuk perkeretaapian. Menurut Djoko, program pendidikan perkeretaapian ini sangat mendesak untuk dibutuhkan dalam beberapa tahun ke depan. “Pemerintah menargetkan pada 2019 sudah terbangun tambahan infrastruktur rel kereta api sampai 3.000 kilometer di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Operasionalisasi kereta apinya akan membutuhkan banyak tenaga kerja,” kata Djoko.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

IMG_1816-310x165Secara terpisah, Kepala API Madiun Catur Wicaksono mengatakan, permintaan 600 tenaga kerja perkeretaapian untuk operator MRT di Jakarta itu untuk jadwal operasional tahun 2018. API baru dibuka dua tahun lalu dengan merekrut 120 mahasiswa setiap tahun. “Untuk tahun ketiga, kami berencana menerima jumlah mahasiswa dua kali lipat. Harapannya, segera bisa memenuhi target untuk operator MRT di Jakarta,” katanya.

Program pendidikan
API memiliki empat program pendidikan meliputi Teknik Mekanika Perkeretaapian, Teknik Elektro Perkeretaapian, Teknik Bangunan dan Jalur Perkeretaapian, serta Manajemen Transportasi Perkeretaapian. Peserta didiknya harus menghuni asrama. “Dari rumpun pendidikan pada empat program itu memungkinkan peserta didik diploma III lulusan API melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi,” kata Catur.

Djoko Setijowarno mengatakan, hingga tahun 2030 Indonesia diperkirakan membutuhkan 101.440 tenaga kerja operator perkeretaapian dan 2.330 untuk kebutuhan tenaga kerja regulator perkeretaapian.

“Kebutuhan tenaga kerja perkeretaapian besar, sedangkan pendidikannya terbatas,” katanya. (NAW)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Desember 2015, di halaman 12 dengan judul “Pendidikan Perkeretaapian Kurang Diantisipasi”.

Informasi terkait

Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Berita ini 20 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:40 WIB

Memahami Manusia dari Dua Jalan

Berita Terbaru

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB