Akademi Perkeretapian Indonesia; Songsong Era Baru Perkeretaapian

- Editor

Minggu, 13 Maret 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sesuai Rencana Induk Perkeretaapian Nasional, kebutuhan sumber daya manusia perkeretaapian nasional pada 2030 mencapai 80.460 orang. Jumlah ini meliputi 78.740 operator dan 1.720 regulator. Untuk memenuhi kebutuhan itu, sejak dua tahun terakhir, Kementerian Perhubungan membuka Akademi Perkeretaapian Indonesia.

Jumlah tenaga kerja di bidang perkeretaapian kini masih minim. Pada 2010, jumlah SDM operator (PT Kereta Api Indonesia) hanya 26.281 orang, sedangkan SDM regulator (Direktorat Jenderal Perkeretaapian) 486 orang.

Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan SDM perkeretaapian melonjak seiring kebijakan pemerintah meningkatkan pembangunan infrastruktur perkeretaapian. Pembangunan dikebut, mulai dari proyek angkutan massal cepat (MRT), kereta ringan (LRT), proyek rel baru, hingga reaktivasi jalur kereta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tahun depan, lulusan kami sudah dipesan semua. Sebanyak 120 lulusan Akademi Perkeretaapian Indonesia (API) langsung diterima di PT MRT Jakarta. Jumlah ini masih sangat kurang karena PT MRT sebenarnya memerlukan sekitar 600 karyawan baru,” kata Direktur API Madiun Catur Wicaksono, bulan lalu di Madiun, Jawa Timur.

Selain PT MRT Jakarta, beberapa perusahaan lain siap merekrut lulusan API Madiun, seperti PT Len Railway Systems dan Himpunan Kontraktor Perkeretaapian Indonesia (Hikkapi). Kebutuhan akan terus bertambah bersamaan dengan tumbuhnya jaringan perkeretaapian baru. Untuk setiap 16 kilometer jalur rel MRT, diperlukan sekitar 400 tenaga operator, perawatan, petugas tiket, serta petugas stasiun.

Kebangkitan perkeretaapian nasional dalam beberapa tahun terakhir menjadi kesempatan emas bagi API Madiun untuk menyiapkan tenaga-tenaga andal di bidang perkeretaapian. Kendalanya, jumlah dan tempat mengajar masih terbatas sehingga setiap tahun belum banyak taruna yang dapat diluluskan.

Empat program
Setelah izinnya turun pada 8 Agustus 2014, API Madiun mulai menerima taruna. Ada empat program pendidikan yang ditawarkan, yakni teknik mekanika perkeretaapian, teknik elektro perkeretaapian, teknik bangunan dan jalur perkeretaapian, serta manajemen transportasi perkeretaapian.

Pada 2014, API Madiun menerima 125 taruna dari sekitar 1.000 pendaftar. Adapun pada 2015, API Madiun menerima 100 mahasiswa dari sekitar 2.500 pendaftar.

Untuk membentuk sisi akademik, karakter, dan kompetensi di bidang perkeretaapian, taruna dididik dalam asrama di lingkungan API Madiun. Sekitar 60 persen waktu taruna diisi kegiatan praktik. Sisanya untuk kegiatan kuliah tatap muka di kelas.

Muhammad Ridha, taruna asal Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, tertarik masuk API Madiun setelah mengetahui pemerintah merencanakan membangun jalur KA di Kalimantan. “Begitu mengetahui itu, saya langsung bersemangat mendaftar ke API Madiun,” katanya.

Dengan luas lahan 16,5 hektar, API Madiun dilengkapi dengan infrastruktur gedung, antara lain asrama, stasiun simulasi, jalur rel, laboratorium, dan auditorium. Di sekeliling API Madiun sedang dibuat pula lintasan rel KA lengkap dengan jaringan listrik di atasnya.

“Kami juga sedang menyiapkan pembangunan jalur rel baru 2,5 kilometer yang terhubung ke jalur rel KA menuju Stasiun Madiun,” kata Kepala Pusat Pengembangan Transportasi Darat Kementerian Perhubungan Hotma Simanjuntak.

Pembangunan jalur KA baru ini juga menjawab persoalan yang dialami PT Industri Kereta Api (Persero) yang selama ini tidak memiliki jalur rel khusus untuk menguji produk kereta dan gerbong barunya. “Kami sangat senang jika produk-produk PT INKA (Persero) bisa diuji di jalur rel API Madiun karena bisa menjadi pembelajaran langsung bagi taruna,” ucap Catur.

Sekretaris Perusahaan PT INKA (Persero) Surjanto mengungkapkan, di PT INKA (Persero), saat ini hanya tersedia lintasan rel untuk pengetesan produk sepanjang 800 meter. Lintasan ini tidak memadai karena hanya bisa digunakan untuk mengetes KA dengan kecepatan rata-rata 20 kilometer per jam. “Kebutuhan lintasan KA yang lebih panjang sangat mendesak karena setiap tahun kami mengeluarkan uang sekitar Rp 1,5 miliar untuk menyewa pemanfaatan lahan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Jalur rel yang kami pakai selama ini untuk menguji coba produk berada di atas tanah PT KAI,” tuturnya.

Kolaborasi antara API Madiun dan PT INKA (Persero) diharapkan mampu membangkitkan kembali gairah perkeretaapian nasional. Selain itu, kolaborasi tersebut harus bisa membantu terpenuhinya kebutuhan sumber daya manusia perkeretapian, baik secara kualitas maupun kuantitas. (ALOYSIUS B KURNIAWAN)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Maret 2016, di halaman 6 dengan judul “Songsong Era Baru Perkeretaapian”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 27 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru