Home / Berita / Pencarian Kotak Hitam, Sinyal “Ping” yang Memberi Harapan

Pencarian Kotak Hitam, Sinyal “Ping” yang Memberi Harapan

Bunyi “ping…ping…ping…” terdeteksi oleh alat transponder Ultra Soft BaseLine Kapal Baruna Jaya I pada Rabu (31/10/2018) sekitar pukul 12.25. Bunyi tersebut merupakan sinyal yang diduga kuat berasal dari black box atau kotak hitam pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang pada Senin (29/10) pagi.

Keberadaan kotak hitam tersebut penting untuk mengungkap penyebab kecelakaan pesawat jenis Boeing 737 Max 8 rute Jakarta-Pangkal pinang yang mengangkut 181 penumpang dengan 8 awak tersebut. Kotak hitam berisi rekaman komunikasi terakhir di kokpit dan data kondisi pesawat.

DOKUMENTASI BPPT–Koordinat kotak hitam pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018) pagi.

“Black box masih ditelusuri para penyelam dari TNI Angkatan Laut dan Basarnas. Untuk jarak lokasi serpihan dan kotak hitam pesawat ke Tanjung Karawang sekitar 15 kilometer,” kata Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza.

Kapal Baruna Jaya I, kapal riset yang dilengkapi peralatan canggih milik BPPT, bergabung dalam tim pencarian pesawat Lion Air sejak Selasa (30/10) pukul 05.00. Tim Komite Nasional Keselamatan transportasi (KNKT) dan TNI turut di kapal ini.

Sistem detektor sinyal
Pencarian kotak hitam yang terpasang di bagian ekor pesawat itu menggunakan ping locator, yaitu sistem detektor sinyal yang dipancarkan dari bagian kotak hitam. Sinyal akustik dengan frekuensi tertentu – sesuai kelas pesawat – akan terpancar dari kotak hitam. Pesawat besar sekelas Boeing dan Airbus memiliki rentang 10-20 kilohertz.

Suara yang dipancarkan terputus-putus berselang beberapa detik. ”Pada alat detektor yang dilengkapi hidrofon, sinyal dari kotak hitam itu akan terdengar seperti bunyi ping…ping…ping…. Karena itu, alat ini disebut juga ping locator,” kata Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan (Teksurla) BPPT, M Ilyas, yang ikut dalam pencarian itu.

Pada misi pencarian kotak hitam itu, tim KNKT membawa tiga unit ping locator. Alat ini dioperasikan sejak Rabu pagi. Tim Baruna Jaya I juga menurunkan peralatan Ultra Soft BaseLine (USBL) Transponder, alat pengendus sinyal kotak hitam, sebagai upaya tambahan untuk mengoptimalkan pencarian.

“Alat penangkap sinyal dari kotak hitam dipasang di bawah lunas kapal Baruna Jaya I,” kata Ilyas. Cara kerja transponder mirip dengan ping locator. Daya tangkap suaranya hingga kedalaman 3.000 meter. Adapun kepekaan menerima sinyal suara berkisar 90-120 desibel.

Penggunaan alat pendeteksi suara dari kotak hitam ini mulai dilakukan BPPT, kata Hammam, pada pencarian pesawat Adam Air 574 yang hilang pada Januari 2007 di Selat Makassar, dan pesawat Air Asia QZ 8501 awal tahun 2015 di Selat Karimata.

Keberhasilan penemuan kotak hitam juga ditentukan oleh ketahanan baterai yang membuat unit pemancar sinyal akustik dalam kotak itu tetap aktif. Umumnya, baterai kotak hitam dapat bekerja hingga 30 hari.

Dalam pencarian kotak hitam di laut juga dikenal sistem pelacak kotak hitam buatan Amerika Serikat, yaitu Towed Pinger Locator (TPL), yang antara lain digunakan pada pencarian pesawat MH370. Sistem ini ditambatkan pada bagian belakang kapal dan ditarik sepanjang jalur yang ditentukan. Bersamaan dengan itu, digantungkan hidrofon yang dapat dijulurkan hingga 6.000 meter di bawah permukaan laut.

Kapal akan bolak-balik di area yang ditetapkan dengan kecepatan 5,6 kilometer (km) per jam. Dalam sehari, daerah yang terlacak 388,5 km persegi. Pada jarak 1,6 km dari kapal, sinyal dari kotak hitam dapat tertangkap. Alat ini antara lain menemukan kotak hitam pesawat TWA 800 yang tenggelam di Samudra Atlantik pada 1996.

Selain teknologi Barat, Tiongkok pun mengembangkan alat pelacak kotak hitam, antara lain terpasang pada kapal Haixun-01. Kemampuan deteksinya hingga kedalaman 5.000 meter. Dengan teknologi maju itu sinyal ”ping” dari kotak hitam lalu dianalisis untuk memverifikasi konsistensi sinyal itu dengan dua sub-unit di dalam kotak hitam, yaitu flight data recorder (rekaman data penerbangan) dan cockpit voice recorder (rekaman komunikasi di kokpit).

Badan pesawat
Sebelumnya, KRI Rigel 933 menemukan obyek yang diduga bangkai badan pesawat di perairan Karawang bagian utara. Dalam pencarian ini, KRI Rigel 933 menggunakan teknologi sonar.

DOKUMENTASI TNI AL–KRI Rigel

Direktur Operasi Survei dan Pemetaan Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) Kolonel Laut (KH) Haris Djoko Nugroho, MSi yang berada di KRI Rigel 933 kepada Kompas, Rabu siang, mengatakan, benda yang memiliki panjang 20 meter yang diduga badan pesawat itu berada di kedalaman 32 meter.

KRI Rigel 933 adalah kapal Bantu Hidro-oseanografi (BHO) dengan komandan Letkol Laut (P) Agus Triyana. KRI Rigel 933 adalah kapal mutakhir berjenis MPRV (Multi Purpose Research Vessel) yang pertama dimiliki TNI AL. Kapal ini dapat dikatakan sebagai kapal survei tercanggih yang ada di Asia Tenggara, yang memperkuat jajaran kapal survei Pushidrosal.

Kapal dilengkapi dengan peralatan Autonomous Underwater Vehicle (AUV) yang berfungsi melaksanakan pencitraan bawah laut sampai dengan kedalaman 1.000 meter dan mengirimkan kembali data secara periodik ke kapal utama dalam hal ini kapal BHO.(EDNA CAROLINA/SATRIO PANGARSO WISANGGENI/SEKAR GANDHAWANGI)–YUNI IKAWATI

Sumber: kompas, 1 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Bintik Superbesar Memicu Peredupan Bintang Raksasa Merah Betelgeuse

Cahaya bintang raksasa merah Betelgeuse meredup secara tiba-tiba. Fenomena itu diduga akibat munculnya bintik bintang ...

%d blogger menyukai ini: