Home / Berita / Mengatasi Kendala Pencarian Kotak Hitam

Mengatasi Kendala Pencarian Kotak Hitam

Pencarian kotak hitam berisi rekaman pembicaraan di kokpit terkendala lumpur tebal di dasar laut Tanjung Karawang. Hal ini bisa diatasi dengan menggunakan robot ROV berlengan.

Kendala utama yang dihadapi tim SAR dalam pencarian pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di Tanjung Karawang pada 29 Oktober 2018 adalah faktor alam, yaitu endapan lumpur yang tebal, gelombang tinggi dan arus laut yang kuat. Untuk mempercepat operasi ini antara lain direncanakan penggunaan robot Remotely Operated Vehicle berlengan dan pengambilan dengan kapal penyedot pasir.

Hingga Kamis (8/11/2018), tim dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Badan SAR Nasional belum juga menemukan Cockpit Voice Recorder (CVR). Perekam pembicaraan pilot dan petugas di Menara ATC ini merupakan salah satu kunci – selain Flight Data Recoder – yang dapat mengungkap penyebab kecelakaan pesawat naas ini.

Dalam operasi pencarian dua hari lalu, ping locator dari Kapal Baruna Jaya 1 sebenarnya telah menangkap sinyal ping dari CVR. Namun sinyal yang diterima sangat lemah. Diduga CVR ini tertutup lumpur. Survei yang dilakukan pada lokasi kejadian jatuhnya pesawat di Tanjung Karawang menemukan sedimen lumpur hingga satu meter lebih.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI (RAD) 03-11-2018–Kapal Teluk Bajau Victory berada di titik pusat pencarian pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, Sabtu (3/11/2018). Di sekitar kapal tersebut para penyelam dari Tim SAR Gabungan terus berupaya menemukan CVR dan reruntuhan pesawat

Mengatasi kendala itu Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, mengatakan akan menggunakan kapal penyedot lumpur. Kapal milik perusahaan survei kelautan di Balikpapan ini, akan mulai digunakan hari Sabtu mendatang. Dalam pengoperasiannya di Tanjung Karawang, pipa penyedot akan memindahkan lumpur ke lokasi lain yang jaraknya sekitar 100 meter.

“Dengan demikian diharapkan obyek-obyek yang dicari dapat ditemukan. Selain CVR, serpihan lain pesawat dan jenasah juga akan dievakuasi,” kata Soerjanto.

Sementara itu, Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza, juga mengusulkan penggunaan ROV berlengan untuk mengatasi faktor hambatan itu. “Mengingat tebalnya lumpur harus ada penggunaan Robot ROV berlengan sehingga serpihan bisa diangkat,” ujarnya. Saat ini ROV hanya membawa kamera dan USBL.

Identifikasi obyek tertutup lumpur dilakukan dengan menggunakan Side Scan Sonar dan Magnetometer bila obyek berupa logam atau metal. Adapun untuk evakuasi serpihan pesawat dan jenazah harus menggunakan ROV robot berlengan. Atau setelah diidentifikasi oleh ROV, bisa mengerahkan penyelam untuk mengangkat korban.

Pada proses pencarian kapal tenggelam di Danau Toba yang dalamnya sekitar 400 meter, ROV hanya mengirimkan foto kapal dan korban penumpang. Korban sesungguhnya dapat dievakuasi menggunakan ROV berlengan, tapi korban diputuskan tidak diangkat. Namun ditambahkan Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT, M Ilyas, pihaknya tidak memiliki ROV berlengan. Karena itu bila diperlukan harus meminjam pada perusahaan survei kelautan.

Dihubungi secara terpisah, Direktur Operasi dan Latihan Basarnas, Brigadir Jenderal TNI (Mar) Bambang Suryo Aji mengatakan dalam melakukan penyelaman hampir tidak ada kendala. Kendala yang dihadapi adalah arus yang cukup kencang, seperti yang terjadi hari Rabu (7/11/2018).

Operasi SAR diperpanjang tiga hari hingga Sabtu (10/11/2018). Namun operasi pencarian tidak lagi melibatkan unsur dari TNI Polri, Pertamina dan Polair, hanya dilakukan oleh unsur Basarnas. Barang yang tertimbun lumpur skala priotitasnya memang CVR . Sementara itu pencarian CVR dilakukan oleh pihak KNKT, dibantu oleh tim dari Basarnas yang sesuai dengan tupoksinya mengevakuasi korban.

Terhadap usulan penggunaan jaring untuk mengumpulkan serpihan badan pesawat dan jenasah yang masih terserak di dasar laut, menurut Bambang tidak diperlukan. Pencarian berikutnya hanya mengandalkan kemampuan para penyelaman. Operasi penyelaman hasilnya lebih baik dan tepat karena dengan area jatuhnya pesawat sudah diketahui.

“Dengan penyelaman kita sampai dengan hari ini sudah mengevakuasi sebanyak 187 kantong jenazah,” tambahnya.

Sejarah pengembangan
Kotak hitam yang menjadi target penting dalam pencarian pesawat yang mengalami kecelakaan mulai dikembangkan tahun 1950-an. Hal ini sebagai upaya mengatasi kasus kecelakaan pesawat. Sebelum itu banyak terjadi kecelakaan pesawat, namun tidak ada data untuk menganalisa penyebab dan mencari solusinya.

Pada mulanya dilakukan perekaman pembicaraan dengan memasang semacam recorder dalam kokpit pesawat disebut Cockpit Voice Recorder. Kemudian dibuat peralatan yang juga dapat merekam data dan kerja mesin pesawat atau Flight Data Recorder.

FDR ini mulai diperkenalkan tahun 1965. Bentuknya bulat telur dan hanya mencatat ketinggian, kecepatan angin, aselerasi, dan arah pesawat. Sedang FDR masa kini sudah mampu mencatat segala informasi pesawat hingga mencapai 60 jenis.

FDR memiliki pita rekaman magnetik yang terbuat dari logam. Panjangnya mencapai 150-200 jam, lebar 10 cm, dan bisa merekam bolak-balik. Tugasnya, merekam semua keadaan pesawat, mulai dari berapa ketinggian terbang, kecepatan jelajah, waktu penerbangan, besarnya gaya gravitasi yang mempengaruhi pesawat, arah penerbangan, jarak yang sudah ditempuh, dan pengendalian pesawat.

Pada beberapa pesawat seperti CN-235, letak FDR dan CVR terpisah. FDR terletak di depan sirip tegak pada ekor dan merekam data digital yang dikirim melalui kabel dari pengukur (tranduser). Pengukur ini terpasang di sirip, ekor, sirip tegak dan mesin atau baling-baling. Namun FDR pesawat kecil hanya merekam empat parameter, sedang pada pesawat besar seperti pesawat Boeing parameternya lebih banyak dan dapat mencapai 25 parameter.

Rekaman dari FDR bila di putar ulang akan keluar dalam bentuk grafik pada lembaran kertas untuk setiap paremeter yang ada. Hasil ini kemudian dianalisa dan dibandingkan dengan data standar, untuk mengetahui adanya penyimpangan.

Dalam proses analisis FDR dari pesawat Lion Air JT-610 yang dilakukan KNKT bersama Boeing dan Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat menemukan kerusakan pada indikator kecepatan udara. Kerusakan ditemukan di empat penerbangan terakhir.

”Dari 19 data penerbangan yang terekam dalam flight data recorder (FDR), ditemukan kerusakan pada indikator kecepatan udara pada empat penerbangan terakhir secara berurut,” kata Soerjanto Senin (5/11/2018).–YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 9 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Elang Hitam Penjaga Kedaulatan Negara

Penggunaan pesawat udara nirawak jadi tren global. Selain lebih murah, risiko pun kecil. Kini, saatnya ...