Home / Berita / Black Box, Peranti Wajib bagi Pesawat

Black Box, Peranti Wajib bagi Pesawat

SALAH satu peranti yang paling dicari dalam proses evakuasi pesawat Sukhoi Superjet 100 adalah black box (kotak hitam). Alat inilah yang diharapkan dapat mengungkap penyebab kecelakaan pesawat di Gunung Salak tersebut.

Kotak hitam adalah sekumpulan perangkat yang digunakan dalam bidang transportasi, umumnya merujuk pada perekam data penerbangan (Flight Data Recorder/FDR) dan perekam suara kokpit (Cockpit Voice Recorder/ CVR) dalam pesawat terbang. Kedua jenis peranti ini dilengkapi Underwater Locator Beacon (ULB) yang bisa mendeteksi bila pesawat ini jatuh ke laut. ULB ini merupakan transmitor yang akan memancarkan gelombang akustik untuk memudahkan pendeteksian.

Black box sengaja didesain untuk tahan air, tahan benturan, dan tahan panas. Benda ini bisa tahan air sampai dengan 2 bulan. ”Tahan panas bisa sampai 1.000 derajat, tapi dalam waktu terbatas, tidak terus menerus seribu derajat. Kalau black box rusak, itu artinya rusak luarnya. Memorinya tidak.

Fungsi kotak hitam adalah untuk merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) serta untuk mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan. Walaupun dinamakan kotak hitam, tetapi sesungguhnya kotak tersebut tidak berwarna hitam melainkan berwarna jingga (oranye). Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pencarian jika pesawat itu mengalami kecelakaan.

Terhapus Sendiri

Penempatan kotak hitam ini dilakukan sedemikian rupa sehingga mudah ditemukan. Umumnya terdapat dua unit kotak hitam yang diletakkan pada bagian depan pesawat dan bagian ekor pesawat, yang diyakini merupakan bagian yang utuh ditemukan. Tapi ada juga yang ditempatkan di bagian belakang pesawat.

Alat perekam dalam penerbangan ini, Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Data Recorder (CDR), umumnya menggunakan pita perekam seperti kaset pada tape recorder. Perkembangan terbaru, kini telah digunakan FDR atapun CDR yang merekam menggunakan chip memory khusus.

FDR juga mencatat data dari sejumlah sensor untuk memantau informasi seperti percepatan, kecepatan, ketinggian, posisi kontrol kokpit, termometer, pengukur mesin, aliran bahan bakar, permukaan atur posisi, status autopilot, beralih posisi, dan berbagai parameter lainnya.

Ada 5 sampai 300 parameter data penerbangan yang direkam dalam black box ini. Durasi rekaman hingga 25-30 jam. Artinya, setelah 25-30 jam, data akan terhapus dengan sendirinya. CVR dan FDR ini akan hidup secara otomatis apabila mesin pesawat dihidupkan.

Semua pesawat komersial berbadan besar dan pesawat komersial yang lebih kecil atau milik korporasi (perusahaan), serta pesawat pribadi diwajibkan oleh hukum untuk membawa satu atau kedua kotak hitam ini, yang umumnya berharga antara 10.000 hingga 15.000 dolar AS.

Dalam black box terdapat Crash Survivable Memory Unit (CSMU) berisi papan memori dikelilingi oleh isolasi termal baju besi dan baja yang dapat menahan dampak kecelakaan ribuan kali gaya gravitasi dan bertahan di laut pada kedalaman 14.000 ñ 20.000 kaki (4.270 m – 6.096 m). (Wiharjono-24)

Sumber: Suara Merdeka, 21 Mei 2012

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: